Hanya Milikku

1098 Kata
Alex melemparkan tabletnya ke arah Reza dengan kasar. "Tetap di sini!" perintahnya singkat, sebelum melompat keluar dari mobil dengan langkah lebar yang memburu. "Hai, Dimas." Suara dingin itu muncul dari balik punggung Celia. Seketika, tubuh Celia menegang. Rasa dingin yang tidak enak menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh tubuhnya. "Alex?" desis Dimas lirih, wajahnya memucat. Tanpa peringatan, Alex mencengkeram lengan Celia dan menyentaknya kuat hingga gadis itu terhuyung, menabrak d**a bidang Alex yang sekeras batu. Dimas tersentak melihat perlakuan kasar itu. "Apa yang kau lakukan?!" seru Dimas, berusaha meraih tangan Celia kembali. Namun, dengan gerakan kilat, Alex menangkis tangan Dimas. Matanya menyala, penuh dengan kecemburuan yang gelap. "Dia istriku sekarang. Jangan sentuh dia tanpa izinku!" Celia membelalak. Pengakuan itu menghantamnya seperti godam. Rasa kecewa seketika memenuhi dadanya, Alex telah melanggar janji untuk merahasiakan pernikahan ini dari siapa pun. "Alex!" Celia memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman yang menyakitkan itu. "Kau sudah janji tidak akan mengungkap pernikahan ini!" "Ya, untuk orang lain," sahut Alex, tatapannya menantang Dimas dengan provokatif. "Tapi untuk Dimas, aku tidak akan menutupinya. Dia harus tahu kalau kau adalah milikku, Celia." Dimas maju selangkah, rahangnya mengeras. "Jadi kau memaksanya menikahimu, Alex?" "Benar! Aku ingin dia menderita, dan aku tidak akan membiarkanmu memilikinya!" Ancaman itu meluncur dingin dari bibir Alex. Seketika, tangan Dimas mengepal. Dengan seluruh kekuatan yang ia punya, ia mengayunkan tinjunya tepat ke pipi Alex. BUG! Reza dan Bobby yang sejak tadi mengawasi langsung menghambur maju. Namun, saat para pengawal itu hendak membalas, Alex mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti. "Tidak perlu," ucap Alex datar, menyeka sudut bibirnya yang berdarah. "Celia... suatu saat nanti aku akan merebutnya darimu!" teriak Dimas penuh amarah. Alex justru tertawa—sebuah tawa renyah yang meremehkan. "Dengan apa? Kekuatan seorang pengacara amatir?" Melihat situasi yang semakin tak terkendali, Celia mencoba menengahi. "Dimas... sebaiknya kau pergi sekarang. Aku akan baik-baik saja." Dimas sempat ragu, namun ia sadar posisinya tidak menguntungkan saat ini. Dengan berat hati, ia melangkah mundur. "Aku pergi, Celia. Jaga dirimu baik-baik." "Terima kasih, Dimas," bisik Celia layu. Dimas akhirnya memacu mobilnya pergi, meninggalkan Celia yang masih terperangkap dalam cengkeraman kasar Alex. Begitu mobil Dimas menghilang dari pandangan, Celia menyentakkan tangannya sekuat tenaga hingga ia terhuyung ke belakang. "Pernikahan ini tidak memberimu hak untuk berbuat sesukamu! Aku bukan barang, dan aku bukan milikmu!" seru Celia dengan suara bergetar karena amarah yang memuncak. "Kata siapa?" Alex menyeringai dingin. Dengan satu gerakan cepat, ia merengkuh pinggul Celia, menarik tubuh gadis itu hingga mendekapnya dengan erat tanpa celah. "Apa kau pikir kau punya kekuatan untuk melawanku, hm?" bisik Alex, nadanya rendah namun mengintimidasi. "Ayo pulang, Istriku." Alex menyeret Celia paksa menuju mobil. "Lepaskan, Alex! Aku belum berpamitan pada Ibu, tasku juga masih tertinggal di dalam!" Celia meronta, berusaha menyaburkan genggaman besi di pergelangan tangannya. Namun, Alex bergeming. Ia seolah menulikan telinga dari segala protes yang keluar dari bibir Celia. BRAK! Alex mendorong tubuh Celia ke kursi belakang mobil sebelum membanting pintunya dengan kasar. Pria itu kemudian memutari mobil dan masuk ke sisi sebelah Celia, mengurungnya di dalam kabin yang seketika terasa menyesakkan. Reza segera menempati kursi depan di samping kemudi, sementara Bobby sang sopir duduk di balik kemudi. "Jalan!" instruksi Alex pendek dan tajam. Amarah yang sedari tadi ditahannya kini menguasai atmosfer di dalam mobil itu, membuat siapa pun di sana enggan bersuara. Begitu menginjakkan kaki di rumah megahnya, Alex langsung menyeret Celia tanpa ampun, memaksanya menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua. Celia nyaris tersandung berkali-kali, namun cengkeraman tangan Alex di pergelangan tangannya tak sedikit pun mengendur. BRAK! Alex membanting pintu kamar itu hingga suaranya menggema ke ruangan. Tanpa jeda, ia menyentak tubuh Celia dan melemparkannya ke atas ranjang besar di tengah ruangan. Kasur itu membal, namun rasa sakit di punggung Celia tak sebanding dengan ketakutan yang mulai merayapinya. "Alex! Apa yang akan kau lakukan?!" teriak Celia histeris. Ia berusaha bangkit dan merangkak menjauh, namun tangan kekar Alex lebih cepat menyergap bahunya, menekan tubuhnya kembali hingga telentang. Dengan gerakan brutal, Alex menarik kedua tangan Celia ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan hingga gadis itu tak mampu berkutik. Napas Alex memburu, matanya menggelap oleh amarah yang bercampur dengan obsesi. Alex membungkam bibir Celia dengan ciuman yang agresif dan menuntut. Ia melumatnya dengan kasar, mengabaikan rintihan Celia hingga rasa anyir darah mulai tercecap di antara mereka, bibir Celia terluka. Celia terus meronta, mencoba memalingkan wajah, namun kekuatannya tak lebih dari sekadar gangguan kecil bagi Alex. Perlawanan Celia perlahan memudar. Tubuhnya melemah, ia terpaksa menyerah pada d******i yang menghimpitnya. Dengan satu sentakan kasar, Alex merobek pakaian Celia hingga hancur, membiarkan kain-kain itu terlepas tak berdaya. Secepat kilat, Alex menanggalkan pakaiannya sendiri dengan gerakan yang terburu-buru oleh gairah yang gelap. Saat Alex kembali menguasai tubuhnya, Celia hanya bisa memejamkan mata. Air mata mengalir deras membasahi bantal, ia menangis dalam kepasrahan yang menyakitkan atas perlakuan Alex yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan. "Akh!" Pekikan tertahan lolos dari bibir Celia saat Alex memaksakan penetrasi secara tiba-tiba. Rasa sesak dan perih seketika menghujam pertahanannya. "Kau harus sadar di mana posisimu sekarang, Celia," geram Alex di telinganya. Tanpa memberikan waktu bagi Celia untuk bernapas, ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang kasar dan menuntut. "Ah..." Desahan Celia tak sengaja terlepas. Itu adalah suara yang membingungkan, perpaduan antara rasa sakit yang pekat dan sensasi asing yang mulai merayapi sarafnya. "Mendesahlah, Celia... aku tahu kau menikmatinya," bisik Alex dengan suara serak yang penuh kemenangan. Ia semakin mempercepat gerakannya, seolah ingin menenggelamkan Celia dalam dominasinya. Celia memalingkan wajah ke samping, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia berusaha keras membungkam suaranya sendiri, menolak untuk memberikan kepuasan bagi ego Alex. Namun, pertahanannya runtuh saat jemari Alex menyentuh titik sensitifnya dengan sengaja, berpadu dengan ritme gerakannya yang kian memburu. "Ah... ah..." Suara itu keluar begitu saja, mengkhianati keinginannya untuk tetap diam. Celia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri saat gelombang gairah yang menyiksa mulai mengaburkan akal sehatnya. "Iya... seperti itu. Mendesahlah lebih keras, Celia. Aku sangat menyukai suaramu," ucap Alex dengan seringai gelap, terus memacu gairah di antara mereka hingga mencapai puncaknya. "Aaaarrghh!" Satu lenguhan panjang yang berat lolos dari bibir Alex saat ia akhirnya mencapai puncak pelepasan. Napasnya menderu, memburu di ceruk leher Celia sebelum akhirnya tubuh kekar itu ambruk dan terbaring lemas di sisi Celia. Celia terdiam, hanya suara detak jantungnya sendiri yang terdengar bertalu-talu di telinga. Ia menghela napas panjang, sebuah embusan napas penuh kelegaan karena badai kemarahan Alex baru saja berlalu. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Celia meraih pinggiran selimut tebal yang kusut, menariknya perlahan untuk menutupi tubuh telanjangnya. Di sampingnya, Alex tampak langsung terlelap, napasnya kini mulai teratur dan tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja ia ciptakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN