Bayaran

1061 Kata
Keesokan harinya, saat sinar matahari mulai menyusup di celah gorden, Celia terbangun. Dengan hati-hati, ia mencoba bergeser ke ujung ranjang, berusaha menjauh tanpa menimbulkan suara. Namun, sebuah tangan kokoh tiba-tiba melingkar di perutnya, menariknya kembali ke tengah hingga punggungnya menempel pada d**a bidang Alex. "Jangan pergi. Tetaplah di sini," bisik Alex serak. Ia memeluk Celia erat, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut. Sikapnya pagi ini begitu hangat, sangat kontras dengan perlakuan brutal yang ia tunjukkan semalam. "Aku harus ke rumah sakit. Ibuku pasti sangat khawatir," sahut Celia datar. Mendengar itu, kelembutan Alex menghilang seketika. Ia mendorong Celia dengan kasar. Guratan kekesalan kembali menghiasi wajahnya. "Aku sudah menyiapkan pengawal untukmu. Kau tidak akan pergi tanpa pengawasanku!" geram Alex. Ia beranjak berdiri, mengenakan pakaiannya dengan gerakan cepat, lalu menyambar ponsel di atas nakas. Alex segera menghubungi tangan kanannya. "Reza, siapkan mobil dan dua pengawal untuk Nyonya!" "Tidak perlu pengawal. Cukup mobil dan sopir saja, aku mohon..." sela Celia, suaranya mengandung nada putus asa. Alex tidak menjawab, ia hanya melemparkan tatapan tajam yang seolah sanggup menguliti Celia. Celia menghela napas berat. "Aku janji tidak akan ke mana-mana, hanya di rumah sakit. Aku tidak ingin ibuku curiga jika melihat ada pengawal yang mengikutiku." "Kau tidak punya hak atas dirimu sendiri, Celia. Pilihannya hanya dua: ke rumah sakit dengan pengawal, atau tetap di sini dan memuaskanku di ranjang, sepanjang hari," ancam Alex dingin. Amarah Celia kembali tersulut. "Oke! Siapkan pengawalnya! Tapi beri aku baju. Aku tidak punya apa-apa untuk dipakai setelah kau merobek pakaianku semalam!" Alex melangkah menuju deretan lemari besar di sudut ruangan dan membukanya lebar-lebar. "Pilih sesukamu. Semua merek mahal ada di sini." Celia terpaku sesaat. Lemari itu penuh dengan gaun mewah, tas desainer terkenal, dan sepatu mahal yang tertata rapi. Ternyata Alex telah mempersiapkan sangkar emas ini dengan sangat sempurna. Sambil mencengkeram selimut yang melilit tubuhnya agar tidak merosot, Celia melangkah menghampiri Alex. Ia menatap pria itu dengan tatapan menantang. "Oh, satu lagi. Beri aku uang. Anggap saja bayaran karena aku sudah memuaskanmu semalam," ucap Celia sambil menodongkan telapak tangannya. Alex tertawa renyah, sebuah tawa yang meremehkan. "Berapa memangnya hargamu, Celia?" "Terserah kau ingin menghargaiku berapa. Aku akan melayanimu, tapi kau harus membayarku," tantang Celia, mencoba menyembunyikan getar di suaranya. Alex merogoh saku, mengeluarkan dompet kulitnya, dan mengambil seluruh lembaran uang tunai di dalamnya. Tanpa ragu, ia menghamburkan uang-uang itu tepat di depan wajah Celia. Lembaran kertas itu melayang jatuh di sekitar kaki Celia. Tanpa kata, Celia berjongkok. Ia memunguti uang itu satu per satu. Tak ada lagi rasa malu. Baginya, harga dirinya sudah hancur berkeping-keping sejak ia memutuskan menjual tubuhnya. PLAK! Alex menjatuhkan sebuah kartu kredit ke lantai, tepat di hadapan Celia yang masih berjongkok. "Pakai itu!" perintah Alex pendek, sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi. **** Setelah membersihkan sisa-sisa malam yang kelam dari tubuhnya, Celia berdiri mematung di depan lemari besar milik Alex. Jemarinya menyapu deretan gaun sutra dan pakaian desainer yang tertata rapi. Celia mendengus. "Aku tidak mungkin memakai baju-baju ini. Mama pasti akan langsung curiga," gumamnya lirih. Semua pakaian ini memperjelas kekuasaan dan kekayaan Alex, sesuatu yang ingin ia sembunyikan dari ibunya. Celia terdiam sejenak, memutar otak hingga sebuah ide terlintas. Setelah mengenakan silk dress pendek hanya untuk menutupi tubuhnya sementara, ia melangkah keluar kamar. Langkah Celia sempat terhenti di ambang pintu. Rumah ini terlalu luas dan asing. Alex membawanya ke kediaman baru yang belum pernah ia injak selama sepuluh tahun mereka berpisah. Dengan ragu, ia menuruni tangga melingkar dan mendapati seorang pelayan perempuan yang sedang sibuk membersihkan lantai. "Hai," sapa Celia pelan. Pelayan itu tersentak, segera menegakkan tubuh dan membungkuk hormat. "Hai, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" "Apa aku boleh meminjam pakaianmu?" tanya Celia tanpa basa-basi. Pelayan itu tampak kebingungan, matanya mengerjap tidak percaya. "Pakaian saya? Pakaian saya sangat sederhana, Nyonya. Tidak akan pantas untuk Anda." "Justru itu yang aku cari. Aku lebih suka pakaian yang sederhana," sahut Celia dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Baik, Nyonya. Mohon tunggu sebentar, saya akan ambilkan," ucap pelayan itu sigap. "Boleh aku ikut dan memilihnya sendiri?" tanya Celia. "Tentu saja, Nyonya. Mari, silakan ikuti saya." Celia berjalan mengekor di belakang pelayan itu, melewati lorong-lorong rumah yang terasa dingin dan asing. "Siapa namamu?" tanyanya di tengah perjalanan. "Nur, Nyonya," jawab pelayan itu sambil menoleh sekilas dengan sopan. Mereka tiba di sebuah kamar kecil yang rapi di area belakang. "Ini lemari saya, Nyonya. Silakan pilih apa pun yang Anda suka." Celia mulai meneliti gantungan baju yang terbatas itu. Matanya berbinar saat menemukan sepasang celana jins yang sudah agak pudar dan sebuah kaos crop top berwarna biru pastel. Pakaian ini jauh lebih "manusiawi" dibanding apa pun yang ada di kamar Alex. "Aku pinjam yang ini ya, Nur," ucap Celia sambil memeluk pakaian tersebut. "Tentu, Nyonya." Celia melangkah menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dan menoleh. "Nur... jangan panggil aku Nyonya. Namaku Celia. Panggil saja Celia, ya?" Tanpa menunggu jawaban Nur yang masih tampak sungkan, Celia berjalan kembali menuju kamarnya dengan perasaan sedikit lebih ringan. **** Celia menuruni anak tangga dengan langkah yang sengaja dibuat tenang. Di lantai bawah, Alex yang sudah rapi dengan setelan kantornya yang mahal, mendongak. Langkah pria itu terhenti seketika. Matanya menyusuri sosok Celia dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan. Meski hanya dibalut kaus dan jins sederhana milik pelayan, kecantikan alami Celia justru terpancar lebih nyata—murni dan tidak berlebihan. Celia sampai di dasar tangga. Ia menyadari tatapan intens Alex yang terus mengunci pergerakannya. Merasa tidak nyaman, ia langsung memasang tameng pertahanan. "Apa kau mau protes soal caraku berpakaian?" tantang Celia, memotong sebelum Alex sempat membuka suara untuk mengejeknya. Alex segera menguasai diri. Kekaguman di matanya lenyap, digantikan oleh kilat angkuh yang dingin. Ia menyeringai tipis, mencoba menutupi fakta bahwa ia baru saja terpesona. "Tidak," sahut Alex datar, suaranya penuh nada penghinaan. "Aku tahu alasan kau lebih memilih memakai pakaian gembel ini ketimbang pakaian mewah yang sudah kusiapkan di lemari, kau takut ibumu curiga kan?." "Mobil dan pengawal sudah siap di depan. Sebaiknya kau sarapan dulu, aku berangkat ke kantor sekarang," ucap Alex datar tanpa menoleh lagi. Ia melangkah pergi meninggalkan Celia, diikuti oleh Reza yang selalu setia mengekor di belakangnya bak bayangan. Celia terpaku di tempatnya berdiri, menatapi punggung lebar pria itu hingga menghilang di balik pintu besar. Ada sedikit rasa hangat karena perhatian kecil yang Alex berikan. ‘Kadang dia tampak perhatian, tapi di saat lain... dia bisa berubah menjadi monster’, gumam Celia dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN