Langkah Celia terhenti di depan pintu ruang perawatan ibunya. Tangannya mencengkeram erat kantong berisi buah-buahan segar.
"Tunggu di sini saja," titah Celia, suaranya rendah namun tegas kepada dua pria berjas gelap yang membuntutinya.
"Tapi, Nyonya, perintah Tuan Alex—"
"Aku tidak akan ke mana-mana," potong Celia cepat. "Ibuku sedang sakit, dia butuh ketenangan. Kehadiran kalian di dalam hanya akan membuatnya semakin sakit. Tetaplah di depan pintu."
Tanpa menunggu bantahan, Celia mendorong pintu dan menyelinap masuk. Namun, jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang berdiri di samping tempat tidur ibunya.
Dimas.
Panik, Celia segera menutup pintu rapat-rapat, memastikan kedua pengawal di luar tidak sempat melihat siapa yang ada di dalam.
"Celia?" Dimas menoleh, alisnya bertaut melihat sikap Celia yang tampak seperti buronan.
"Sst!" Celia menempelkan telunjuk di bibirnya. Matanya menyiratkan permohonan yang amat sangat agar Dimas tidak bersuara.
Ibunya yang sedang bersandar di tumpukan bantal menyipitkan mata. "Celia? Ada apa?"
Celia memaksa sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. "Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya tidak ingin mengagetkan mama"
Sembari berjalan mendekat ke arah tempat tidur, tangan Celia merogoh saku dan dengan gerakan sangat cepat, hampir tanpa melihat layar, ia mengetikkan pesan singkat. Beberapa detik kemudian, ponsel di saku celana Dimas bergetar.
Dimas merogoh ponselnya, membacanya sejenak, lalu menatap Celia dengan raut wajah yang berubah serius.
Pesan dari Celia: Dimas, tolong jangan keluar sekarang. Ada pengawal Alex di depan pintu. Aku tidak mau terjadi masalah besar kalau mereka melihatmu.
Celia belum selesai. Ia kembali mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar, memastikan pesannya terkirim sebelum sang ibu bertanya lebih jauh.
Pesan dari Celia: Satu lagi, tolong jangan bilang Mama kalau aku sudah menikah dengan Alex. Aku mengaku kalau kau yang memindahkan Mama ke ruang VIP ini dan menanggung biayanya. Mama tidak boleh tahu soal hubunganku dengan Alex.
Setelah melihat Dimas mengangguk samar sebagai tanda mengerti, Celia menarik napas panjang. Ia menyimpan ponselnya kembali, lalu duduk di kursi samping tempat tidur dan meraih tangan ibunya.
"Ma... maaf ya, kemarin aku pergi tanpa pamit," bisiknya tulus, menggenggam jemari ibunya yang terasa dingin.
Sang ibu mengulas senyum lemah, membelai punggung tangan putrinya. "Tidak apa-apa. Tadi Dimas sudah bilang kalau kau punya urusan pekerjaan yang sangat mendadak. Mama mengerti, sayang."
Celia melirik Dimas sekilas, memberikan tatapan terima kasih yang dalam karena pria itu telah melindunginya dengan kebohongan tersebut.
"Apa Mama sudah makan?" tanya Celia lembut, sambil merapikan selimut ibunya yang sedikit miring.
"Sudah. Dimas tadi yang menyuapi Mama," jawab sang ibu dengan suara yang kian melemah. Beliau menguap, kelopak matanya tampak berat. "Celia... Mama mengantuk sekali. Semalam Mama terus memikirkanmu, jadi Mama tidak bisa tidur."
Hati Celia mencelos mendengarnya. Ia mencium kening ibunya yang terasa hangat. "Maaf sudah membuat Mama khawatir. Mama tidur saja sekarang, ya? Aku dan Dimas akan tetap di sini menjaga Mama."
Tak butuh waktu lama hingga napas sang ibu menjadi teratur, tanda beliau telah terlelap dengan nyenyak. Celia pun beranjak, berpindah duduk di sofa kulit yang berada di sudut ruangan. Dimas menyusul, duduk di sampingnya dengan jarak yang terjaga namun cukup dekat untuk berbisik.
"Celia," Dimas memulai, suaranya nyaris hilang di balik dengung mesin pendingin ruangan. "Apa kau benar-benar akan meneruskan penyelidikanmu tentang ayah Alex?"
Celia menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan cakrawala kota. "Iya. Aku tidak akan pernah tenang sebelum tahu kebenarannya. Itu alasan utamaku bersedia menikahi Alex. Walaupun aku belum tahu harus mulai dari mana, setidaknya dengan berada di dekat pria itu, peluangku untuk menemukan sesuatu jauh lebih besar."
Dimas menghela napas panjang, gurat kecemasan jelas tercetak di dahinya. "Aku mengkhawatirkanmu, Celia. Aku tidak menyangka Alex bisa berubah sekejam itu. Dia benar-benar mewarisi watak ayahnya."
Celia tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir namun penuh syukur. "Terima kasih, Dimas. Kau selalu mendukungku sejak awal."
"Apa kau masih menyimpan barang-barang milik mendiang ayahmu?" tanya Dimas kemudian.
"Ayah menyimpannya di Safe Deposit Box di bank. Sebagai ahli waris, aku berhak mengambilnya. Hanya saja aku belum sempat mengurus dokumen legalitasnya karena masih fokus pada pengobatan Mama," jelas Celia.
"Aku akan bantu mengurusnya," sahut Dimas cepat. "Lebih cepat lebih baik. Kita harus segera mendapatkan semua dokumen peninggalan ayahmu sebelum pihak lain mengendus keberadaannya."
Wajah Celia seketika pucat. "Tapi Dimas, keselamatanmu bisa terancam. Tomy Darmawan... Ayah Alex... dia pasti akan—" Celia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bayangan tentang kekejaman Tomy membuatnya bergidik.
"Aku akan hati-hati, Celia. Kau tahu sendiri, ayahmu dulu yang menyelamatkan keluargaku dari kehancuran. Ini caraku untuk membalas budi."
Celia menatap Dimas dengan tatapan haru. "Terima kasih banyak, Dimas."
"Jika sewaktu-waktu aku meneleponmu, apa itu akan jadi masalah?" tanya Dimas mengganti topik agar suasana tidak terlalu tegang.
"Sepertinya begitu. Alex sangat posesif dan teliti. Lebih baik kita berkirim pesan saja," Celia tersenyum geli, seolah teringat sesuatu. Ia merogoh tasnya dan memperlihatkan layar ponselnya kepada Dimas. "Aku sudah mengganti namamu di kontak ponselku. Mau lihat?"
Dimas membelalak saat membaca nama yang tertera di sana. "Bella?"
"Iya, Bella si tukang gosip," sahut Celia sambil menahan tawa.
Mereka berdua terkikik pelan, suara tawa yang tertahan di balik kesunyian kamar rumah sakit VIP itu.
"Oke, Bella mengerti," ujar Dimas sambil mengedipkan sebelah mata. "Jika ada perkembangan, aku akan mengirim pesan."
Mereka pun kembali terkikik, menahan tawa agar tidak terdengar.
Tawa tertahan mereka mendadak lenyap. Keheningan kamar rumah sakit itu dipecah oleh getaran kasar di atas meja nakas.
Dzzzt... Dzzzt…
Celia menegang. Jantungnya berdetak kencang saat melihat nama Alex terpampang jelas di layar ponselnya, berkedip-kedip seperti peringatan bahaya.
"Sst!" Celia menempelkan jari di bibir, matanya membelalak menatap Dimas dengan tatapan penuh kepanikan.
"Alex," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Dimas ikut terdiam, ia bahkan menahan napas agar tak ada suara sekecil pun yang tertangkap oleh mikrofon ponsel Celia.
Dengan jemari gemetar, Celia menggeser ikon hijau di layar. "Ha-halo?"
Suaranya pecah, ada nada gugup yang gagal ia sembunyikan.
"Kau sedang dengan siapa?" Suara berat Alex di seberang sana terdengar dingin, tajam.
Celia tersentak. Bulu kuduknya berdiri. Matanya secara refleks melirik ke arah pintu yang tertutup rapat.
Apa para pengawal di luar melihat Dimas? Atau mereka bisa mendengar suara tawa kami dari balik pintu? gumamnya dalam hati, mulai didera paranoid.