"A-aku sendiri, hanya bersama Ibuku. Dia sedang tidur sekarang," jawab Celia terbata. Ia berusaha mengatur napas agar suaranya tidak terdengar gugup.
"Bagaimana keadaan ibumu? Aku bertanya pada Ronald, tapi dia bilang kau tidak mengizinkannya masuk ke ruangan," suara Alex terdengar datar, namun ada nada otoriter yang terselip di sana, seolah ia sedang menginterogasi bawahan.
Celia melirik pintu kamar yang tertutup, membayangkan sosok Ronald, pengawal suruhan Alex, yang berjaga di luar. "Keadaan ibuku Baik. Besok jadwal operasinya, jadi... sepertinya aku akan berada di rumah sakit sampai larut malam."
"Kalau begitu, akan kututup teleponnya. Aku ada urusan. Jangan lupa makan," ucap Alex singkat. Sebelum Celia sempat membalas, sambungan telepon itu langsung terputus dengan bunyi klik yang dingin.
Celia terdiam, perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar yang kini gelap dengan kening berkerut.
Kenapa sejak pagi dia jadi perhatian begitu? gumam Celia dalam hati.
Sikap Alex yang berubah-ubah seperti roller coaster membuatnya bingung. Kadang pria itu bersikap sekejam iblis, tapi di detik berikutnya, ia bisa berpura-pura menjadi suami yang peduli.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, Celia," bisik Dimas sambil melirik jam tangannya dengan cemas.
Celia mengangguk mantap. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Oke. Aku akan keluar lebih dulu untuk membeli sesuatu. Gunakan celah itu untuk keluar tanpa terlihat mereka."
Celia menarik napas panjang, memperbaiki letak tas bahunya, lalu melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh sosok Ronald dan Ricky, dua pengawal bertubuh tegap dengan wajah khas orang timur, yang berdiri kaku bagaikan patung di depan ruangan.
"Aku ingin membeli sesuatu di bawah," ucap Celia dengan nada datar, berusaha terdengar seperti seorang nyonya yang sedang bosan.
Ronald dan Ricky saling melirik sekilas, lalu mengangguk serempak. "Baik, Nyonya," sahut Ronald. Tanpa bertanya lebih lanjut, mereka segera berbalik dan mengikuti langkah Celia, menjaga jarak profesional di belakangnya.
Celia memimpin jalan, sengaja mempercepat langkahnya menuju lorong utama yang mengarah ke kantin rumah sakit. Begitu mereka berbelok di ujung lorong dan menghilang dari pandangan pintu kamar, Dimas segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia bergegas keluar dari ruangan, melangkah cepat ke arah berlawanan, menghilang di antara kerumunan pengunjung rumah sakit sebelum para pengawal itu menyadari kehadirannya.
****
Alex melangkah menuju ruang kerja ayahnya yang berada di lantai teratas gedung pusat. Di sana bertahta Tomy Darmawan, sang Chairman dari PT. Tidar Persada Utama Company sebuah raksasa bisnis dengan banyak anak perusahaan yang merambah hampir ke segala sektor di Asia Tenggara.
Alex memasuki ruangan yang luas dan dingin itu, diikuti oleh Reza yang berjalan dengan langkah tegap di belakangnya.
"Aku sudah menunggumu, Alex," ucap Tomy tanpa mengangkat wajah, tatapannya masih terkunci pada tumpukan dokumen di hadapannya sebelum akhirnya ia meletakkan pena emasnya.
"Duduklah. Ada hal serius yang ingin kubicarakan," perintah Tomy. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah menuju sofa kulit yang terletak di tengah ruangan dengan aura yang mendominasi.
Begitu Alex duduk, Tomy mengambil posisi di seberangnya. Matanya melirik tajam ke arah pengawal pribadi putranya. "Aku ingin membicarakan ini secara pribadi. Bisa kau minta pengawalmu keluar?"
"Reza," panggil Alex singkat. Sebuah kode yang sudah sangat dipahami.
"Baik, Tuan. Saya akan menunggu di luar," sahut Reza sopan. Ia membungkuk hormat lalu melangkah keluar, menutup pintu kayu ek yang berat itu dengan perlahan hingga menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan.
Tomy menyandarkan punggungnya, menatap putranya lurus-lurus. "Aku sudah membuat janji dengan keluarga Tanuwijaya. Kau mengerti maksudku, kan, Alex?" Suaranya rendah, namun sarat akan intimidasi yang tidak mentoleransi penolakan.
"Sangat mengerti," jawab Alex tegas. Ia tahu arah pembicaraan ini, dan ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan ayahnya.
"Jika kau ingin perusahaan semakin tak tergoyahkan, kau harus menikahi putri keluarga Tanuwijaya. Bukankah gadis itu teman satu sekolahmu saat di SMA dulu?" tanya Tomy dengan nada yang lebih menyerupai pernyataan daripada pertanyaan.
"Iya. Tapi kami tidak akrab," jawab Alex datar.
Tomy berdiri, kembali melangkah menuju meja kerjanya yang luas, memunggungi Alex seolah pembicaraan ini sudah final. "Pikirkan baik-baik rencana penyatuan dua kekuatan besar ini, Alex."
Alex bangkit, menyesuaikan jasnya yang tidak berkerut. "Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku pergi dulu."
Tomy menatap punggung Alex dengan mata tajam, “apa kau pikir aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan Alex”. Ucap Tomy dengan senyum getir.
****
Alex duduk di kursi belakang mobilnya dengan gelisah. Rahangnya mengatup rapat, dan jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan irama yang tidak beraturan.
"Apa ayahku sudah tahu kalau aku menikahi Celia secara rahasia?" tanya Alex tajam, matanya menatap Reza yang duduk di samping Bobby.
"Saya tidak tahu pasti, Tuan..." jawab Reza hati-hati.
"AKU TIDAK BUTUH JAWABAN SEPERTI ITU!" teriak Alex meledak. Ia memukul bagian belakang kursi depan dengan keras, membuat Bobby yang sedang memegang kemudi tersentak kaget. Suara hantaman itu bergema di dalam kabin mobil yang kedap suara.
"Maaf, Tuan. Saya akan segera memastikannya," sahut Reza cepat, berusaha menetralisir situasi tanpa menoleh ke belakang.
Napas Alex memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang meluap. Ia merasa seolah ayahnya, Tomy, memiliki mata di mana-mana, dan pemikiran bahwa ayahnya mungkin sudah mengetahui pergerakannya membuat Alex merasa cemas.
"Bobby, jalankan mobilnya sekarang. Tuan Alex harus menghadiri rapat dalam sepuluh menit," perintah Reza kepada sang sopir.
Bobby segera menginjak gas, memacu mobil hitam itu, sementara suasana di dalam kabin tetap mencekam dan sunyi, hanya menyisakan deru napas Alex yang masih belum stabil.