Niat Balas Dendam

949 Kata
Malam telah larut. Celia menghabiskan sepanjang hari di rumah sakit, menemani ibunya menjalani serangkaian pemeriksaan intensif sebagai persiapan operasi esok pagi. Sepanjang hari itu, Celia terus menatap waspada, memastikan para pengawal pribadinya tetap menjaga jarak cukup jauh agar ibu Celia tidak menyadari keberadaan mereka. "Ma... aku pulang dulu, ya. Besok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi," bisik Celia lembut sambil mengecup kening ibunya. "Iya, Sayang. Hati-hati di jalan," sahut sang ibu dengan senyum lemah, membelai pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. Begitu Celia melangkah keluar ruangan, jantungnya nyaris melompat saat melihat sosok tinggi tegap sudah berdiri tepat di depan pintu. Itu Alex. Tanpa sadar, Celia langsung mendorong d**a pria itu, menjauhkannya dari pintu kamar agar sang ibu tidak melihatnya. "Alex! Sedang apa kau di sini?" tanya Celia dengan suara tertahan, berusaha meredam kepanikannya. "Tenanglah... aku tidak akan masuk ke dalam," ucap Alex pelan, membiarkan dirinya terdorong mundur satu langkah. Sebuah senyum tipis, yang terlihat sangat tulus, tersungging di bibirnya. "Aku hanya ingin menjemput istriku. Apa itu salah?" Celia terpaku. Tatapan mata Alex terasa berbeda, lebih hangat dan lembut. Namun, memori tentang kekejaman pria itu membuat Celia tetap waspada, ia tahu betapa cepat sikap Alex bisa berganti. "Aku tidak akan langsung pulang. Aku harus mampir membeli beberapa pakaian... pakaian yang sederhana," ujar Celia, mencoba mencari alasan agar tidak langsung terjebak berdua di rumah. "Tentu, Honey. Aku akan menemanimu," sahut Alex tenang. Tanpa menunggu persetujuan, ia melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang Celia, menuntunnya berjalan menyusuri lorong rumah sakit di bawah tatapan tajam para pengawal mereka. *** Mobil mewah Alex berhenti dengan mencolok di area parkir toko pakaian sederhana yang luas. Di antara jajaran sedan tua dan truk pengangkut, kendaraan mereka tampak seperti benda asing dari dunia lain, karena terlalu mewah. "Sebaiknya kau tidak usah ikut turun. Ini bukan tempat berkelas yang biasa kau kunjungi," ujar Celia, melirik Alex yang tampak tidak selaras dengan pemandangan di luar jendela. "Aku sudah bilang akan menemanimu, Celia," sahut Alex dengan nada yang tidak menerima bantahan. Celia mendengus, mengembuskan napas kasar karena kesal. Akhirnya, mereka berdua memasuki pusat perbelanjaan yang ramai itu. Celia langsung melangkah menuju area pakaian, berusaha mengabaikan tatapan beberapa pengunjung yang terheran-heran melihat pria dengan jas custom-made mahal berdiri di tengah lorong pakaian diskon. Saat Celia sedang teliti memilih satu per satu pakaian yang menurutnya nyaman, Alex tampak mulai kehilangan kesabaran. Baginya, memilih baju di rak terbuka seperti ini adalah pemborosan waktu. Dengan gerakan cepat, Alex menyambar pakaian yang sedang diperiksa Celia, lalu melemparkannya begitu saja ke arah Reza. "Beli semua pakaian yang ada di toko ini. Suruh mereka mengirimkan semuanya ke rumah hari ini juga," perintah Alex dingin kepada Reza. "Baik, Tuan," jawab Reza tanpa ekspresi, langsung bergerak menuju manajer toko. Celia terbelalak, nyaris tidak percaya dengan kegilaan pria di sampingnya. "Alex! Apa yang kau—" Belum sempat Celia memprotes, Alex sudah mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya dengan langkah lebar menuju pintu keluar. Alex tidak mau membuang satu detik pun lagi di tempat itu. "Jalan!" perintah Alex tegas begitu mereka kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam kabin yang tertutup, Celia berusaha meronta, mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Alex. "Kenapa kau selalu seenaknya sendiri, Alex?! Aku hanya butuh beberapa baju, bukan seluruh toko!" Alex tidak menjawab dengan amarah. Sebaliknya, ia menarik tubuh Celia mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuhmu, Celia," bisiknya rendah, membiarkan bibirnya menyentuh tepi telinga Celia. Celia bergidik. Sensasi panas yang aneh menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya, membuatnya mendadak kaku dalam pelukan pria yang baru saja membuatnya sangat kesal itu. *** Sesampainya di mansion, pemandangan tak terduga menyambut Celia. Alex rupanya telah mempersiapkan makan malam mewah di tepi kolam renang. Suasana temaram dari lampu-lampu taman yang redup dan pantulan air kolam yang berkilau menciptakan atmosfer romantis yang nyaris sempurna. "Ayo makan dulu," ucap Alex lembut. Ia menuntun tangan Celia menuju meja bundar yang telah tertata rapi dengan lilin-lilin kristal sebagai sumber cahaya utama. Celia terpaku, dadanya berdesir. Ia menatap deretan hidangan kelas atas di hadapannya dan mulai berpikir, mungkinkah Alex benar-benar telah berubah? Mungkinkah dendam pria itu telah hilang dan digantikan oleh penyesalan? Dengan sikap ksatria yang sangat sopan, Alex menarikkan kursi dan mempersilakan Celia duduk. Celia mendongak, mencoba mencari kejujuran di wajah pria itu saat ia mulai mengambil posisi di kursi seberang. Kebingungan tergambar jelas di wajah cantik Celia. Alex menyandarkan punggungnya, membiarkan senyum lembut menghiasi wajah tampannya di bawah temaram cahaya lilin. "Makanlah, Celia." Celia tidak menyentuh alat makannya. Ia menatap Alex lurus-lurus, memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sebenarnya membuatmu berubah seperti ini, Alex?" Alex terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar merdu namun mendadak terasa dingin. Ia memotong steak di piringnya dengan sangat tenang sebelum menjawab. "Aku hanya ingin sesekali bersikap baik pada hewan peliharaanku, Celia. Apa itu salah?" *** Setelah makan malam yang menyesakkan itu berakhir, Celia segera bergegas menuju kamarnya. Ia membersihkan diri. Sementara itu, di sisi lain mansion, Alex berada di dalam ruang kerja pribadinya. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham global. "Informasi apa yang kau dapatkan, Reza?" tanya Alex tanpa menoleh. "Tuan Tomy sudah mengetahui pernikahan Anda, Tuan," lapor Reza dengan nada datar. Alex terdiam sejenak. Ia tidak terkejut, namun rahangnya mengeras. "Cepat juga. Karena dia tahu lebih awal dari dugaanku, kita jalankan rencana B," ucap Alex dengan suara rendah yang penuh kalkulasi. "Aku akan membawa Celia menghadapnya besok." Reza tampak ragu sejenak. "Tapi, Tuan... besok adalah jadwal operasi ibunya." Alex memutar kursinya, menatap Reza dengan mata sedingin es. "Sejak kapan aku peduli dengan hal itu?" Sebuah senyum miring muncul di wajahnya. "Justru dengan menariknya dari rumah sakit di saat kritis seperti itu, Ayah akan tau niatku menikahinya, memang hanya untuk balas dendam dan menyiksanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN