Di ruang kerja pribadinya yang remang-remang, Tomy berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota. Langkah kaki teratur mendekat sebelum akhirnya berhenti di belakangnya.
"Tuan, kami sudah mengkonfirmasi di bank mana Gunawan Sasongko menyimpan dokumen-dokumen itu," lapor sang pengawal dengan suara rendah.
Tomy berbalik perlahan, matanya menatap tajam. "Bagus. Tapi jangan sampai kau membuat kesalahan konyol lagi. Gadis itu sudah bebas dua bulan yang lalu, TAPI KAU BARU MENEMUKANNYA SEKARANG!" Suara Tomy mendadak menggelegar, memecah kesunyian ruangan. Amarahnya memuncak mengingat waktu yang terbuang sia-sia.
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan. Kami akan memastikan hal seperti ini tidak terulang kembali," ucap pengawal itu sambil menunduk dalam, tidak berani menatap mata sang Presiden Direktur.
Tomy menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. Ia kembali duduk di kursi kulitnya. "Lalu, bagaimana dengan Alex?"
"Tuan Muda Alex menikahi gadis itu hanya untuk menyiksanya, Tuan. Setidaknya, itulah yang saya dengar dari sopirnya," jawab Lucas, pengawal kepercayaan Tomy tersebut.
Tomy menyipitkan mata, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kau yakin itu benar?"
"Benar, Tuan. Sejauh pengamatan kami, Tuan Alex memperlakukan gadis itu dengan sangat buruk. Pernikahan itu tak lebih hanya neraka bagi Celia," tegas Lucas memastikan.
Tomy terdiam sejenak. Sebuah senyum tipis yang dingin dan sulit diartikan tersungging di sudut bibirnya.
"Aku harus memastikan sendiri apakah laporanmu itu benar atau hanya bualan belaka," ucap Tomy dengan nada rendah yang sarat akan kelicikan. Ia memutar gelas wiski di tangannya, memperhatikan cairan emas itu bergoyang.
"Jika Alex memang berniat menghancurkan hidup gadis itu, maka aku tidak keberatan untuk turun tangan membantunya," tambah Tomy. Matanya berkilat, memikirkan rencana jahat yang mulai tersusun rapi di kepalanya.
***
Keesokan harinya…
Celia terbangun saat fajar baru saja menyingsing. Semalaman ia tidur sendirian; entah di mana Alex menghabiskan malam, Celia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: operasi ibunya. Saat ia menuruni tangga dengan tergesa, ia terkejut melihat Alex sudah berdiri tegak di lantai bawah, tampak sangat rapi dan berwibawa.
"Kau sudah siap?" tanya Alex datar.
Celia menghentikan langkah sejenak. "Apa kau... berniat ikut ke rumah sakit?"
Alex tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan menuju pintu depan, di mana mobil-mobil sudah bersiap dalam barisan yang rapi.
"Kau boleh ikut, tapi jangan sampai terlihat oleh ibuku," ucap Celia sambil mempercepat langkah agar bisa menyejajarkan diri dengan Alex.
Robby membukakan pintu untuk Celia, sementara Alex memutar untuk duduk di bangku sebelah istrinya. Reza dan Robby segera menempati bangku depan. Begitu mereka berangkat, sebuah SUV hitam menyusul di belakang—berisi tiga pengawal tambahan bersenjata lengkap.
Celia merasa ada yang janggal. Kenapa dia membawa begitu banyak pengawal hanya untuk ke rumah sakit? bisiknya dalam hati.
Di dalam kabin yang senyap, kegelisahan Celia memuncak. Bayangan tentang ibunya yang akan segera dibedah membuat napasnya terasa sesak. Untuk menenangkan diri, ia menangkupkan kedua tangan di depan d**a, memejamkan mata, dan mulai berdoa dengan khidmat.
"Tuhan, tolong lancarkan operasi Mama..." Kata-kata itu ia rapalkan berulang kali seperti mantra di dalam hati.
Namun, saat mobil tiba di persimpangan besar dan berbelok ke arah yang berlawanan dengan rumah sakit, jantung Celia seakan berhenti berdetak.
"Kita mau ke mana?" tanya Celia, menatap Alex dengan mata melebar.
Alex hanya memberikan senyum miring tanpa suara, seolah sedang menikmati setiap detik kepanikan yang mulai menggerogoti Celia.
"Robby! Apa kau lupa jalan ke rumah sakit?" teriak Celia panik.
Robby tetap tak bergeming, tangannya mencengkeram kemudi dengan konsistensi yang menakutkan. Ia hanya menatap lurus ke depan.
"Alex! Apa yang kau rencanakan?!" Celia benar-benar lepas kendali. "Turunkan aku sekarang! Aku harus ke rumah sakit!"
Celia berusaha menarik tuas pintu mobil, mencoba membukanya meski ia tahu itu mustahil.
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Pintu itu terkunci secara elektronik dari pusat kemudi. Celia tahu usahanya sia-sia. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tas dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Betty. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol panggil, tangan kuat Alex merenggut ponsel itu dengan paksa.
Tepat saat itu, mobil mereka berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya modern yang belum pernah Celia lihat sebelumnya. Inilah sarang sang Chairman, Tomy Darmawan.
Begitu Robby membuka kunci otomatis, Celia langsung menghambur keluar, berusaha melarikan diri sekuat tenaga. Namun, ia tidak sempat melangkah jauh; tiga pengawal bertubuh raksasa dari mobil belakang sudah mengepung dan meringkusnya dengan kasar.
"Lepaskan aku! Aku harus ke rumah sakit!" Celia meronta sejadi-jadinya, tubuhnya meliuk-liuk dalam usaha sia-sia untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan-tangan besi itu.
"Jika dia terus memberontak, seret saja," titah Alex dengan nada sedingin es, seolah yang ia bicarakan bukanlah istrinya, melainkan barang rongsokan.
Mendengar itu, pertahanan Celia runtuh. Ia berhenti melawan. Tubuhnya melemah, membuat cengkeraman para pengawal sedikit merenggang. Celia memanfaatkan celah itu untuk merosot jatuh ke tanah—bukan untuk lari, melainkan bersujud di kaki Alex. Ia tahu, melarikan diri dari properti seluas ini adalah hal yang mustahil.
"Alex... aku mohon..." Celia meratap, air matanya tumpah membasahi sepatu kulit mahal milik suaminya. "Aku harus ke rumah sakit sekarang... kumohon, Alex..."
Alex tetap diam tak bergeming, menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi yang mengerikan.
"Kau bisa menyiksaku sesukamu! Kau bisa mengurungku selamanya! Tapi tolong... biarkan aku menemani Ibuku sampai operasinya selesai. Kumohon, Alex!" Isak tangis Celia memenuhi halaman mansion yang sunyi itu.
"Seret dia masuk," perintah Alex pendek kepada para ajudannya, mengabaikan permohonan tulus itu.
"Alex! Dasar kau iblis! b******k! Aku akan membunuhmu, Alex!" Celia berteriak histeris, emosinya meledak menjadi kemarahan yang gila.
Alex tidak peduli. Ia melangkah tenang memasuki mansion, sementara di belakangnya, Celia diseret dengan kasar oleh dua pengawal berbadan besar menuju sebuah ruangan luas berlantai marmer.
Begitu sampai di hadapan Tomy, Alex mengambil alih. Ia mencengkeram lengan Celia dengan sangat erat, lalu dengan satu sentakan kasar, ia mendorong tubuh Celia hingga wanita itu tersungkur dan meluncur di atas lantai marmer yang dingin.
"Aku membawakan si pembunuh ini untukmu, Ayah," ucap Alex datar kepada Tomy.
Dengan tubuh gemetar dan napas memburu, Celia mendongakkan kepalanya. Melalui sela-sela rambutnya yang berantakan dan mata yang sembap oleh air mata, ia menatap tajam ke arah Tomy Darmawan. Di dalam tatapan itu, tidak ada lagi rasa takut, hanya ada dendam dan amarah yang membara.
"Tomy Drmawan". ucap Celia lirih dengan rahang yang mengeras karena amarah.