Safe Deposit Box

1123 Kata
"Kudengar kau sudah menikahinya secara hukum. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Alex?" tanya Tomy, suaranya bergema dingin di ruangan yang luas itu. Alex melangkah maju, mendekati Celia yang masih bersimpuh di lantai. Tanpa peringatan, ia menjambak rambut Celia, memaksa wanita itu mendongak menatapnya. "Akh!" Celia memekik kesakitan, tangannya refleks mencengkeram lengan Alex yang kekar, namun tenaga pria itu tak tergoyahkan. "Akulah yang menyeretnya ke penjara sepuluh tahun lalu, dan aku belum puas," desis Alex, matanya berkilat penuh dendam tepat di depan wajah Celia. "Menjadikannya istri adalah cara terbaik untuk bersenang-senang. Aku akan memberinya neraka yang jauh lebih kejam daripada di penjara." Tomy mengangguk perlahan, tampak puas. "Bagus. Bersenang-senanglah sepuasmu." Ia menyesap cerutunya sejenak sebelum melanjutkan, "Ceraikan dia segera. Cukup jadikan dia b***k tak berstatus, dia tetap tidak akan bisa lari. Nanti malam jam tujuh, aku sudah mengatur janji temu untukmu dengan putri tunggal Tanuwijawa." Silvie? Hati Celia terasa seperti dihantam godam mendengar nama itu. Silvie Jade Tanuwijaya, gadis yang memimpin perundungan terhadapnya selama masa SMA, sosok yang membuat masa mudanya seperti mimpi buruk. "Tentu saja. Aku akan mengikuti saranmu, ayah," jawab Alex tanpa ragu. Tomy menjentikkan jarinya. Seorang asisten seksi yang berdiri di belakangnya segera melangkah maju, menyerahkan sebuah map kulit hitam. Tomy bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan Celia. Ia meletakkan dokumen itu di atas lantai marmer, tepat di depan wajah Celia yang basah oleh air mata, lalu menyodorkan sebuah pena emas. "Tanda tangani ini sekarang, jika kau masih ingin melihat ibumu di ruang operasi," perintah Tomy dingin. Mata Celia menyisir baris-baris kalimat dalam dokumen tersebut. Itu adalah Surat Kuasa Khusus yang memberikan hak akses penuh kepada Tomy Darmawan atas Safe Deposit Box peninggalan ayahnya. Dengan tangan yang gemetar hebat dan isak tangis yang mulai menyiksa dadanya, Celia terpaksa menorehkan tanda tangan di atas kertas putih itu. Ia telah menyerahkan rahasia terakhir ayahnya demi nyawa sang ibu. Tomy menyambar dokumen itu dengan kasar begitu Celia selesai. "Selesai. Bawa dia pergi dari sini," ucap Tomy datar. Alex merenggut lengan Celia, memaksa tubuh yang sudah lunglai itu untuk berdiri. Ia menyeret Celia keluar dari mansion seolah wanita itu tidak lebih dari boneka usang yang tak berharga. Sesampainya di depan mobil, Alex melempar Celia ke kursi belakang dengan kasar. "Bawa dia ke rumah sakit sekarang," perintah Alex pada Ricky dan Ronald. Begitu mobil meluncur di jalanan, Celia hanya bisa meringkuk di sudut kursi. Ia tidak lagi menangis. Suaranya sudah habis, air matanya sudah kering. Ia hanya terdiam dengan tatapan kosong yang hampa, seolah jiwanya telah tertinggal di lantai marmer mansion Tomy Alexander yang dingin. Namun, begitu gerbang rumah sakit mulai terlihat, sesuatu di dalam dirinya bangkit. Celia menegakkan tubuhnya yang lunglai. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengusap sisa air mata, merapikan helai rambut yang berantakan karena jambakan Alex, dan mengatur napasnya yang sesak. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, senyum yang harus terlihat meyakinkan bagi satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Begitu mobil berhenti dengan sempurna, Celia menghambur keluar. Ia berlari menyusuri lorong rumah sakit yang berbau antiseptik, jantungnya berpacu melawan waktu. Beruntung, ia sampai tepat waktu. Di ujung lorong, ranjang ibunya baru saja hendak didorong memasuki ruang operasi. "Mama!" panggilnya dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. Pintu ganda ruang operasi masih terbuka sedikit. Sang ibu, yang tampak pucat di atas bangsal, menoleh lemah dan tersenyum saat melihat sosok putrinya. Celia berdiri di sana, menyematkan senyum paling cerah yang bisa ia berikan, menyembunyikan luka yang baru saja ia terima beberapa menit lalu. Tanpa suara, Celia mengucapkan, "I love you," sambil menautkan jari-jarinya membentuk lambang hati di depan d**a. Ia terus mempertahankan posisi itu hingga pintu operasi tertutup rapat dan lampu tanda operasi menyala merah, menyisakan Celia yang kembali luruh dalam kesunyian lorong rumah sakit. Celia duduk di kursi tunggu depan ruang operasi dengan perasaan gelisah. Di tengah penantian itu, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Bella, Bella adalah nama kontak yang sengaja Celia buat untuk nomor Dimas. "Celia, maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu karena sedang ada persidangan," tulis Dimas dalam pesan tersebut. Celia hanya membalas, "Iya, tidak apa-apa, lagi pula aku masih dijaga ketat dua pengawal Alex." Setelah dua belas jam menunggu, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Celia langsung berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar. "Dokter?" panggil Celia memastikan. "Nona, kami berhasil mengangkat tumor di otak ibu Anda. Mengenai efek sampingnya, kami masih harus menunggu sampai pasien sadar sepenuhnya," jelas dokter tersebut. "Jadi, ibu saya tidak akan merasa kesakitan lagi, kan, Dokter?" tanya Celia. "Iya. Penyebab utama sakit kepalanya sudah kami angkat," jawab dokter. Celia mengembuskan napas panjang. "Syukurlah. Terima kasih banyak, Dok," ucapnya merasa sangat lega. Dokter dan tim medis kemudian berlalu meninggalkan area operasi. Celia masih menatap punggung dokter itu dengan rasa haru, hingga tatapannya berubah menjadi amarah saat melihat Alex muncul dari balik kerumunan tim medis yang sedang berjalan. Celia langsung membuang muka. Begitu sampai di dekatnya, Alex segera menyentak tangan Celia. "Alex! Apa yang kamu lakukan?" protes Celia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Alex. "Ayo pulang!" Alex menarik Celia keluar dari rumah sakit secara paksa. "Aku harus tetap di sini. Aku harus menunggu sampai ibuku sadar!" Celia berusaha menahan langkahnya, namun tarikan Alex terlalu kuat. "Apa kamu masih belum sadar? Kamu tidak punya hak atas dirimu sendiri," ucap Alex sambil mempercepat langkah hingga Celia hampir terjatuh. Mata Celia berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan tangis. Napasnya tersengal menahan sesak di d**a. Jangan menangis, Celia. Dia akan senang melihatmu menangis. Jangan biarkan dia puas, ucap Celia dalam hati sambil terus berusaha mengatur napasnya. Di parkiran, saat melihat Alex datang bersama Celia, Reza langsung keluar dan membukakan pintu mobil. Alex mendorong tubuh Celia ke dalam mobil dengan kasar, lalu menyusul masuk ke sampingnya. Mobil pun segera melaju kencang. "Bukankah seharusnya sekarang kamu pergi berkencan?" tanya Celia. "Aku membatalkannya," jawab Alex singkat. Celia menegakkan posisi duduknya. "Oh... jangan-jangan kamu masih sangat mencintaiku. Kamu begitu terobsesi sampai menikahiku karena tidak bisa melupakanku, kan, Alex?" ejek Celia. Amarah Alex terpancing. Ia mencengkeram dagu Celia dengan keras hingga mulut Celia tertekan. "Jaga mulutmu! Sebenarnya aku lebih suka kalau ibumu mati, biar kamu merasakan apa yang aku rasakan!" Alex menjeda sejenak, matanya melotot merah menatap Celia. "Tapi aku harus mengobati ibumu sebagai alat tukar pernikahan denganmu. Seperti yang kukatakan tadi pagi, aku menikahimu hanya untuk memberimu neraka seumur hidup!" Alex melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kuat hingga kepala Celia terbentur. Mobil berhenti di depan rumah mewah milik Alex. Begitu turun, Alex langsung menyeret Celia masuk ke dalam dengan kasar. Saat tiba di ruang tamu, langkah Alex terhenti. Ia terkejut melihat seorang perempuan muda berpakaian glamor sudah menunggunya di sana. "Hai, Alex... Aku datang ke sini karena kamu tidak muncul. Tapi ternyata, kamu malah sedang bersama mantan kekasihmu ini," ucap Silvie, perempuan yang seharusnya ditemui Alex malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN