Istri yang Teraniaya

1239 Kata
Tanpa peringatan, tangan kekar Alex bergerak brutal. Dia seketika mendorong Celia ke lantai hingga perempuan itu tersungkur tepat di kaki Silvie. Tubuh Celia menghantam ubin yang dingin dengan keras, menyisakan rasa ngilu yang langsung menjalar ke seluruh sendinya. Di atasnya, Silvie berdiri tegak. “Apa kau mau memukulinya seperti yang dulu sering kau lakukan?” tanya Alex. “Apa itu tidak masalah bagimu?” tanya Silvie dengan senyum miring. Tatapannya penuh kilat kepuasan yang keji. “Lakukan sesukamu, aku akan menikmati tontonan yang menyenangkan.” Alex duduk di kursi ruang tamu, menyilangkan kaki, dan bersandar dengan santai. Sama sekali tidak ada kilat kemanusiaan di matanya; dia benar-benar memperlakukan penderitaan Celia sebagai hiburan semata. “Hai, Celia.” Silvie berjongkok, gerakan tubuhnya begitu tenang namun mengintimidasi. Dia lalu menyibakkan rambut yang menutupi wajah Celia dengan sentuhan yang meremehkan. “Kau tau kenapa aku sangat membencimu?” ucap Silvie sambil mencengkeram pipi Celia dengan kuat. Kuku-kukunya yang panjang menembus kulit pipi Celia, memaksa perempuan yang terbaring itu untuk menatapnya. Namun, harga diri Celia menolak untuk runtuh. “Aku tau, kau iri denganku, bukan? Karena aku lebih cantik dari mu” ucap Celia sambil menatap tajam ke arah Silvie. Tatapannya menghunus, tak gentar sedikit pun meski posisinya sedang di bawah. Silvie langsung terpancing amarahnya. Rahangnya mengeras seketika,. Tangan Silvie beralih ke leher Celia. Ia mencekik Celia dengan keras hingga perempuan itu kesulitan bernapas. Wajah Celia mulai memerah, pasokan oksigennya terputus, dan dadanya naik turun dengan sesak. Namun, di antara sisa-sisa kesadaran dan sisa tenaga yang ada, Celia mengayunkan tangannya dengan kekuatan yang tersisa. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Silvie. Suara tamparan itu menggema tajam di ruangan. Silvie semakin murka. Ia segera berdiri dan menginjak-injak tubuh Celia tanpa ampun. Ujung tajam dari sepatunya menghantam tubuh Celia bertubi-tubi seperti badai. “Apa kau senang, Silvie?” tanya Alex sambil menyaksikan perlakuan Silvie. Pertanyaan itu terdengar begitu dingin, terlontar dari bibir pria yang mengamati setiap siksaan tanpa kedipan mata. “Aku sangat menyukainya, Alex. Aku menunggu momen ini.” Silvie terus menginjak Celia menggunakan sepatu hak tingginya. Setiap hentakan adalah pelampiasan dari rasa benci mendalam. Celia berusaha menahan sakit yang luar biasa, mencengkeram jemarinya ke lantai marmer untuk menyalurkan rasa perih. Sesekali rintihan spontan keluar dari mulutnya saat hentakan kaki Silvie menghantam tubuhnya dengan keras, mengenai tulang rusuk dan perutnya. Celia tergeletak tak berdaya di lantai, namun ia tetap berusaha keras menahan diri agar tidak menangis, apalagi memohon belas kasihan. Air matanya ditelan bulat-bulat; dia tidak akan sudi memberikan kepuasan melihatnya mengemis di hadapan dua orang kejam ini. “Oke Celia, aku sudah cukup puas.” Silvie melangkah menghampiri Alex, yang langsung berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat. “Ayo ke ruang kerjaku,” ajak Alex sambil menggandeng tangan Silvie. “Iya sayang … aku sudah dengar dari ayahmu, kau membawa gadis itu untuk menyiksanya kan, kau tau itu keahlianku, Akan ku pastikan dia tersiksa,” ucap Silvie sambil bersandar manja pada lengan Alex. Keduanya saling melempar tatapan penuh cinta di atas penderitaan Celia. Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan Celia sendirian dalam keheningan ruang tamu. Begitu pintu tertutup dan punggung mereka menghilang, pertahanan Celia runtuh total. Tangis Celia akhirnya pecah. Air matanya tumpah setelah menyaksikan kebersamaan Alex dan Silvie tepat di depan matanya. d**a Celia bergemuruh hebat, sesak oleh perpaduan rasa sakit fisik dan hancurnya hati yang berkeping-keping. Sesaat setelah Silvie dan Alex tidak terlihat lagi, Nur, seorang pembantu yang sedari tadi bersembunyi dan menyaksikan kejadian itu dengan tubuh gemetar, segera keluar dan menghampiri Celia. Air mata iba juga mengalir di pipi paruh bayanya. “Nyonya Celia,” panggil Nur sambil membantu Celia berdiri dengan tangan yang gemetar karena takut sekaligus sedih. “Nur …” Celia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Nur yang menatapnya dengan rasa iba. Di dalam dekapan hangat pelayan itu, tangis Celia semakin mengeras, meluapkan seluruh penghinaan yang baru saja dia terima. “Mari aku bantu ke kamar, Nyonya,” ucap Nur. Nur memapah Celia menuju kamar, menyangga sebagian besar bobot tubuh perempuan itu. Dengan langkah tertatih, Celia meringis menahan sakit. Beberapa bagian tubuhnya lecet dan memar akibat terkena ujung tajam sepatu hak tinggi milik Silvie. Setibanya di kamar, Nur membantu Celia duduk di tepi ranjang dengan sangat hati-hati, memastikan tidak menyentuh bagian yang terluka. “Nyonya, aku ambil kotak obat dulu ya,” ucap Nur. “Iya,” sahut Celia singkat, suaranya parau, menyiratkan kelelahan batin yang amat teramat dalam. *** Saat melewati depan ruang kerja Alex, Nur mendengar suara desahan. Ia berhenti sejenak tepat di depan pintu yang sedikit berderit itu. “Ah … Alex … nikmat … sangat nikmat …” Suara itu keluar dari mulut Silvie. “Alex lebih keras, lebih kencang, masukkan lebih dalam.” Silvie meracau dengan suara keras penuh gairah. “Silvie … nikmat? Apa kau menyukainya?” Suara Alex terdengar terengah-engah. “Iya … lebih kencang, lebih dalam Alex,” sahut Silvie. Di balik pintu tersebut, Silvie dan Alex ternyata sedang berhubungan intim. Silvie berdiri menghadap pintu sambil menunduk dengan kedua tangan menempel pada daun pintu. Di belakangnya, Alex terus menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat. Nur menggelengkan kepala dengan kuat dan bergegas pergi meninggalkan pintu itu. Nur sampai di kamar Celia. Saat itu, Celia sudah melepas pakaiannya, hanya menyisakan bra dan celana dalam yang melekat di tubuh. Nur terkejut melihat banyaknya luka yang disebabkan oleh perbuatan Silvie. “Nyonya, pasti Anda kesakitan,” ucap Nur sambil meraba luka besar di paha Celia. Celia hanya tersenyum tipis. “Aku masih beruntung karena ada kamu, Nur,” ucap Celia. Nur mulai membuka kotak obat di pangkuannya. Secara perlahan, ia mengoleskan salep ke setiap luka terbuka di tubuh Celia. Celia mengernyit saat merasakan perih yang menyengat. “Nyonya istirahatlah,” ucap Nur sambil berdiri, bersiap untuk berpamitan. “Terima kasih, Nur,” ucap Celia. *** “Alex, aku akan tinggal di sini. Bagaimana menurutmu?” tanya Silvie lembut. Ia menyandarkan kepalanya di d**a Alex saat mereka masih berbaring telanjang dalam dekapan hangat di atas sofa. “Silakan,” jawab Alex singkat, jemarinya bergerak pelan memainkan helai rambut Silvie dengan gerakan yang tampak santai. “Oke, besok aku akan memindahkan semua barang-barangku ke sini,” ucap Silvie sambil mempererat pelukannya, “Oh ya, kapan kau akan menceraikan Celia?” Seketika, raut wajah Alex berubah mendengar pertanyaan itu. Ada ekspresi ketidaksukaan yang melintas di matanya, namun ia dengan cepat menyembunyikan ekspresinya agar tidak terbaca oleh Silvie. “Tunggu sampai ibu Celia keluar dari rumah sakit. Itu isi perjanjianku dengannya,” jawab Alex dengan nada suara yang terkendali. Silvie mendongak, menatap Alex dengan tatapan penuh rencana. “Kau tidak akan benar-benar melepaskannya, kan? Aku ingin dia tetap di sini, sebagai pembantu kita.” Alex menyeringai tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. “Tentu saja. Dia akan tetap berada di rumah ini sebagai pembantu.” *** Malam sudah larut dan Celia telah tertidur di kamarnya. Alex masuk dengan sangat pelan, menjaga langkahnya agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Celia. Alex duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah istrinya itu. Matanya kemudian tertuju pada lengan Celia yang penuh dengan luka lecet dan memar. Saat Alex mencoba menyentuh luka itu dengan lembut, Celia mendadak tersentak. Ia terbangun dan langsung bergeser menjauh ke sudut ranjang. Dengan cepat, ia mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala, seolah bersiap menerima serangan. “Apa yang mau kau lakukan? Apa kau juga mau memukuliku?” tanya Celia dengan suara gemetar. Ia tampak ketakutan, rasa trauma akibat pukulan yang baru saja ia terima membuatnya sangat waspada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN