Mama yang Amnesia

1243 Kata
Alex tersentak melihat reaksi Celia. Manik matanya menangkap bagaimana bahu wanita itu gemetar hebat, ia tidak menyangka kehadirannya justru memicu ketakutan sebesar itu, sebuah teror yang begitu nyata hingga menguar di udara kamar yang dingin. Rasa bersalah dan harga diri yang terluka bergolak menjadi satu di dalam benak Alex. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alex langsung berdiri dari tepi ranjang, memutus jarak mereka berdua. “Tidurlah,” ucap Alex singkat, nada suaranya datar. Ada getaran samar yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng sedingin es itu. Alex segera melangkah pergi. Langkah kakinya terdengar berat, meninggalkan Celia yang masih gemetar ketakutan seorang diri di dalam kamar yang mendadak terasa begitu luas dan hampa. *** Keesokan harinya… Sinar matahari pagi yang menerobos jendela. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Celia bersiap menuju rumah sakit. Ia menuruni tangga dengan sangat pelan, satu tangan mencengkeram erat pegangan tangga, berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat konfrontasi semalam. Setiap undakan terasa seperti siksaan fisik yang mendera. Hari itu, ia sengaja memilih mengenakan pakaian serba tertutup, sebuah gaun berlengan panjang dengan kerah tinggi demi menyembunyikan lebam-lebam keunguan di tubuhnya agar tidak terlihat oleh orang lain. Di ujung tangga, Alex sudah berdiri rapi dengan setelan jas mahalnya, bersiap berangkat ke kantor. Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, ia menatap lekat-lekat cara berjalan Celia yang tampak kaku dan pincang. Celia terus melangkah melewati Alex tanpa menoleh sedikit pun, dagunya terangkat, seolah pria itu tidak ada di sana. Namun, ego Alex tak membiarkan penolakan itu terjadi. Dengan cepat, gerakan yang terlalu kasar untuk situasi sefana itu, Alex menarik tangan Celia, menghentikan langkahnya dengan paksa. “Aakh!” Celia memekik kesakitan. Lengkingan itu lolos begitu saja dari bibirnya yang memucat. “Kau tidak menyapaku?” tanya Alex dingin. Tatapannya menghujam, menuntut kepatuhan yang selalu gagal ia dapatkan dari wanita ini. Celia mencoba mengatur napasnya yang mendadak memburu, menahan denyut perih di pergelangan tangannya yang dicengkeram. “Aku berharap tidak perlu melihatmu. Lepaskan tanganku, aku harus segera menemui ibuku.” “Apa kau sudah mengobati luka-lukamu?” tanya Alex lagi, mengabaikan permintaan Celia. Ada nada posesif yang aneh, seolah ia peduli pada kerusakan yang ia ciptakan sendiri. “Untuk apa kau peduli? Bukankah luka ini kau sendiri yang menyebabkannya?” sahut Celia tanpa sudi menatap wajah Alex. Matanya lurus menatap dinding di depan mereka, mengeras oleh kebencian yang mendalam. “Lepaskan... kau memegang bagian yang luka.” Kata-kata itu seperti tamparan tak kasat mata. Alex akhirnya melonggarkan cengkeramannya dan melepas tangan Celia. Tanpa membuang waktu, seolah setiap detik di dekat Alex adalah racun, Celia segera memanggil pengawalnya yang berjaga di dekat pintu. “Ricky, Ronald, ayo antar aku ke rumah sakit,” ucapnya tegas sambil melangkah pergi. *** Di rumah sakit. Celia segera melangkah dengan tergesa menuju ruang perawatan intensif tempat ibunya berbaring setelah operasi besar yang menegangkan. Di dalam ruangan yang sunyi, hanya diisi oleh bunyi statis dari monitor jantung, ibunya tampak sangat rapuh di atas ranjang putih. Meskipun masih lemah dengan berbagai selang yang menempel, ibunya tampak sudah mulai sadar, kelopak matanya mengerjap lambat. Celia mendekat, meraih tangan ibunya yang dingin dan keriput, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri. “Ma... Mama sudah tidak merasa sakit lagi, kan?” tanya Celia lembut, suaranya bergetar oleh harapan yang membubung tinggi. Ibunya menoleh perlahan, gerakan lehernya tampak kaku. Wanita tua itu menatap Celia dengan pandangan kosong, tidak ada binar kehangatan mutlak seorang ibu di sana. Hanya ada kekosongan. “Kamu... siapa?” Celia tersentak, seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya ditarik paksa. Jantungnya mencelos menjatuhkannya ke dasar jurang keputusasaan baru. Tak lama kemudian, dokter datang bersama seorang perawat, memeriksa refleks dan kondisi ibunya secara menyeluruh dengan ekspresi yang perlahan berubah serius. “Mari ikut ke ruangan saya,” ujar dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan, suaranya merendah penuh simpati profesional. Celia mengikuti dokter dengan perasaan cemas yang kian mencekik lehernya. Ruangan dokter terasa begitu dingin saat ia melangkah masuk. Sesampainya di ruangan, dokter mempersilakannya duduk. Celia mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan untuk menghentikan gemetar yang menjalar dari lututnya. “Sepertinya ini efek samping dari operasi, tindakan bedah telah mengenai saraf memori. Jadi … Ibu Anda mengalami amnesia,” jelas dokter, menyampaikan vonis itu dengan hati-hati. “Amnesia?” gumam Celia lirih. Kata itu terasa asing dan berat di lidahnya. Pikiran Celia seketika kalut, berputar dalam badai emosi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada secercah perasaan lega yang ganjil dan egois; ia tahu ibunya kini tidak perlu lagi mengingat semua kenangan buruk, penderitaan, dan trauma mengerikan yang selama ini menghantui hidup mereka. Namun di sisi lain, hatinya hancur berkeping-keping menyadari kenyataan kejam bahwa orang yang paling ia sayangi, tidak lagi mengenalinya sebagai anak. “Apa ingatannya bisa kembali, Dok?” tanya Celia penuh harap, matanya berkaca-kaca menuntut seulas kepastian. “Kemungkinannya ada. Setelah fisiknya pulih, Anda bisa mencoba membawanya ke tempat-tempat yang dulu sering dikunjungi untuk memancing kembali memorinya,” jawab dokter, memberikan secercah stimulasi optimisme yang tipis. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dengan langkah gontai, Celia kembali ke kamar ibunya. Wanita itu sudah tertidur kembali, dadanya naik turun dengan teratur di bawah selimut rumah sakit. Celia hanya bisa berdiri diam di tepi ranjang, menatap wajah damai ibunya. Keheningan itu justru menyiksanya. Tiba-tiba, pertahanannya runtuh sepenuhnya; tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya pecah seketika, tak mampu lagi membendung beban yang bergolak di d**a. “Ma... kenapa semuanya jadi makin sulit seperti ini?” keluhnya dalam isak tangis, meratapi beban hidup yang terasa kian menghimpitnya hingga ia merasa hampir mati lemas oleh takdir. *** Di dalam ruang kerja Tomy Darmawan, suasana terasa mencekam, pekat oleh aura intimidasi. Semua pengawalnya berdiri menunduk kaku bagai patung, tidak ada yang berani mengangkat wajah karena ketakutan setengah mati menghadapi sang tuan yang sedang murka. PRANGG!! Gelas wiski berbahan kristal tebal di tangan Tomy melayang cepat di udara dan hancur menghantam dinding kayu mahoni. Cairan amber dan pecahan kacanya berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu ruangan yang temaram. “KENAPA DOKUMEN ITU SUDAH ADA YANG MENGAMBIL?!!” teriak Tomy penuh rasa frustrasi, urat-urat di lehernya menegang merah. Isi safe deposit box milik ayah Celia, dokumen rahasia yang sangat ia incar dan telah ia rencanakan berbulan-bulan untuk didapatkan, ternyata sudah didahului oleh orang lain. Rencana besarnya berantakan dalam semalam. “Apa ini ulah gadis itu?” tanya Tomy dengan mata menyipit tajam, memikirkan kemungkinan Celia berkhianat di belakangnya. “Kami sudah memastikannya, Tuan. Bukan dia. Celia sama sekali tidak tahu-menahu,” jawab Lucas, pengawal kepercayaan Tomy. Suaranya datar, namun ada keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya saat ia berusaha tetap tenang di bawah tatapan mematikan sang bos. “Lalu siapa? Bagaimana bisa mereka mengambilnya?” desak Tomy lagi, suaranya merendah, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan seperti lolongan serigala yang lapar. Lucas berdehem pelan, membasahi tenggorokannya yang kering, lalu menjawab dengan sangat hati-hati agar tidak salah memilih kata. “Kami sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar bank. Mereka... kemungkinan adalah orang-orang dari partai. Partai yang dulu menaungi Gunawan Sasongko.” “b******k!!” umpat Tomy. Kemarahan besar yang tak terkendali terpancar jelas dari wajahnya yang memerah padam, matanya menyala penuh dendam. “KALIAN HARUS TEMUKAN DOKUMEN ITU! BAGAIMANAPUN CARANYA!!” teriak Tomy, suaranya menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan, membuat kaca-kaca jendela bergetar. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak di dalam kepalanya. Kegagalan bukanlah opsi yang bisa diterimanya. Tiba-tiba, seolah kewarasannya telah menguap, ia menarik pistol dari balik jasnya dan melepaskan tembakan ke lantai, tepat di sela-sela kaki para pengawalnya yang berjejer. DOR! DOR!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN