12. Pertemuan Pertama Narendra dan Sheilla

1008 Kata
"Jefri si*lan! Jefri as*. Gue benci lo! B*go banget, sih, gue, Tuhan!" Sheilla memukul kepala. "Kamu kenapa begini, Shei?" Narendra mencegah tangan Sheilla yang hendak kembali memukul kepalanya sendiri. "Lepas!" "Jangan mukul diri sendiri. Pukul aku kalo mau?" Mata sayu Sheilla menatap Narendra. "Kamu? Kamu siapa? Kamu Narendra, ya." Sheilla tertawa sumbang sambil menunjuk-nunjuk. "Tapi, si Jef br*ngs*k itu ... dia gak tau gue di sini susah payah kuat-kuatin iman. Ya! Dia pikir gampang hidup satu atap, satu kamar, berbagi udara sama lawan jenis dan parahnya dia Narendra. Na-ren-dra. Gue berusaha masih perjuangkan hubungan, dia enak-enakkan selingkuh. Emang dasar as*, kan, dia? Lo siapa?" Setelah puas ngoceh nggak jelas, Sheilla kembali bertanya 'siapa' pada Narendra, membuat laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala. Seulas senyum tertahan di bibir Narendra. Kuat-kuatin iman, Sheilla bilang. Boleh Narendra gede rasa? "Shei ...." "Oh, lo Jefri, ya, ngapain lo ke sini?" Telunjuk Sheilla menuding lagi wajah Narendra. Menjauh dari laki-laki yang baru saja meraih pundaknya untuk melerai. "Kalo Narendra gak mungkin, dia gak mungkin berdiri di hadapan gue sekarang. Dia, kan, lumpuh. Dia cuma bisa duduk di kursi roda." Sheilla menggeleng-geleng sampai rambut yang memang sudah berantakan semakin berantakan. Narendra meringis kala bibir Sheilla mendekat. Aroma alkohol menguar dari mulut gadis itu. "Kenapa?" Cebik Sheilla. "Kamu tadi bilang, suamiku lumpuh gak bisa apa-apa, biarkan status suami dia yang pegang, sedangkan kamu mau berperan jadi suamiku di atas ranjang. Giliran aku setuju, kenapa kamu gak mau?" Narendra menggelengkan kepala mendengar ocehan ngawur Sheilla. Tangan dia menahan pundak Sheilla. "Aku ngomong begitu?" Narendra menguji. "Ya. Lupa? Tadi siang di kampus. Telinga gue bahkan masih panas denger ucapan lo tadi. Kalo gue berani, gue bisa teriak depan muka lo, Jef. Kalau Narendra, gue yakin gak lumpuh. Gue diam bukan karena gue bodoh. Tapi kalau dia maunya begitu, duduk terus, ya, terserah. Gue gak rugi." "Kenapa seyakin itu?" "Heh, mana ada orang lumpuh bisa ngapa-ngapain sendiri." Sheilla menyambar bibir Narendra. Mau tidak mau ... ya! tapi, jelas Narendra mau, dia bahkan mengimbangi permainan Sheilla. Tangan kiri Narendra mengusap pipi Sheilla, menyibak rambut gadis itu. Kemudian, meraih tengkuk Sheilla memperdalam pagutan. "Kok, lo, kaku?" Sheilla mengerjap mata. "Udah, ya." Narendra memang memutus kegiatan yang baru saja terjadi. Bukan apa-apa, Narendra tidak bisa melakukan lebih dari itu sebab Sheilla dalam keadaan hangover. Takut jika nanti, gadis itu menyesalinya setelah tersadar. Apalagi, dari tadi, dia mengira Narendra sebagai Jefri. Narendra kemudian meraih ponsel. Menelepon ART rumah untuk membawakan teh jahe. Berharap dengan minuman itu, Sheilla bisa sedikit lebih baik. Ketukan di pintu membawa Narendra—yang kembali ke kursi roda—membukakannya sedikit. Menerima teh jahe tersebut tanpa mengizinkan asisten rumahnya masuk. "Teh jahe buat apa, Tuan?" Tahu jika tuannya tidak pernah minum teh jahe, jadi dia bertanya. "Buat saya minum lah. Jangan bilang-bilang dan jangan banyak tanya." Tukas Narendra. Membawa gelas di tangannya, Narendra mendekat pada Sheilla yang duduk bersimpuh di lantai. Susah payah dia membujuk Sheilla meminum teh yang di bawakan Ratih tersebut. *** Sheilla sudah tertidur. Narendra mengusap-usap kepala gadis itu sampai dia terlelap. Ingatan Narendra membawanya pada kejadian 8 tahun lalu, saat pertama kali melihat Sheilla. Narendra duduk setelah menyalami Wira. Hasan pula turut mendaratkan b****g di sampingnya. Atensi Narendra beralih pada gadis remaja yang duduk di sofa lain—tak jauh dari tempatnya. "Sheilla! Sheilla bawain sepatu gue!" "Iya, Kak. Sebentar." Sahutan dari lantai dua membuat Narendra turut menoleh. Seperti tengah menunggu seseorang muncul dari anak tangga, Narendra terus mendongak ke arahnya. "Buruan! Udah jam berapa ini, Sheilla!" "Iya, iya, ini aku bawain." Langkah terburu-buru dari gadis yang menuruni tangga membuat Narendra meringis, takut-takut gadis itu tergelincir. "Nih, sepatunya." "Kaus kakinya mana? Jangan yang ini!" Nada protes terdengar lagi dari gadis itu. Menyaksikannya sudah membuat Narendra mengepal tangan. "Ambilin yang baru!" Narendra tidak buta, ada pembantu di sana tapi kenapa gadis bernama Sheilla itu yang malah diperlakukan seperti babu. Lebih parahnya lagi, Wira ada, pun dengan ibu dari gadis itu. Wanita yang tadi—saat Narendra datang—mengenalkan diri sebagai Alma, duduk di sebelah gadis berseragam putih abu-abu. Sementara Sheilla dengan seragam putih-biru kembali dengan kaus kaki baru yang diangsurkannya pada sang kakak. "Pakein, dong!" Ternyata, perintah tidak cukup dengan meminta mengambilkan barang saja, bahkan sekarang, meminta dipasangkan. "Mereka anak-anak, Om?" tanya Narendra pada Wira yang asyik berbincang dengan Hasan. Ucapan Narendra menghentikan Sheilla yang baru saja hendak berjongkok di hadapan Bella. "Oh, iya. yang duduk itu Bella kakaknya, satu lagi ... namanya Sheilla. Mereka mau berangkat sekolah. Jadi biasa kalau pagi-pagi pasti sibuk." Narendra mengangguk. "Jadi hal seperti tadi selalu terjadi?" "Ya?" Wira bukan menegaskan, tapi bertanya seolah tidak paham. "Satunya memerintah, dan yang satu diperlakukan seperti pembantu." "Ren!" Hasan menegur. "Papa liat sendiri, dong. Mana bisa begitu, pembantu, kan, ada." Tunjuknya pada ART yang sedang beres-beres di meja makan. "Tidak sering, Nak. Itu karena kebetulan Sheilla masih di atas jadi kakaknya sekalian minta tolong." Narendra menggelengkan kepala. Jelas-jelas Bella memerintah seperti pada b***k, minta tolong apanya? "Adik-Kakak memang seharusnya seperti itu, kan? Saling tolong menolong," lanjut Wira. "Aku sama mbak Dina apa seperti itu, Pah, kalau meminta tolong?" tanya Naren pada papanya. "Ren, sudah ... ya." Hasan melerai Narendra. Tahu jika putranya tidak suka ketidakadilan yang baru saja dia saksikan. "Kita pamit saja. Papa sudah selesai." Baru saja hendak beranjak, gadis bernama Sheilla menghampiri. "Om," sapanya pada Wira seraya mengulurkan tangan hendak pamit. "Om?" Narendra mengulang. Setelah pada Wira, Sheilla bahkan pamit pada Hasan dengan mencium tangannya. "Kak." Suara lembut itu memanggil Narendra. Membawa tangannya menyambut uluran dari gadis itu. Berbeda dengan Sheilla, Bella tidak pamit. Jangankan menyalami yang lebih tua, gadis itu bahkan sudah tidak berada di tempatnya, pergi tanpa bicara sepatah pun. Mungkin kesal pada Narendra yang membuatnya harus memakai sepatu sendiri. Narendra kembali pada kenyataan malam ini, masih menepuk-nepuk pelan kepala Sheilla yang terlelap dengan wajah lelah. Semua ocehan istrinya tadi berganti dengkuran-dengkuran halus. "Sekarang aku paham, kenapa kamu memanggil pria itu om, alih-alih papa, walau Wira mengenalkanmu sebagai anak angkatnya. Andai kamu mengingat kejadian itu, kamu bisa buka tabir yang belum terpecahkan ini, Sheilla. Tapi, aku tidak akan menyerah, sungguh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN