bc

Dikhianati Suami, Kubalas Dengan Kehancuran Mereka

book_age16+
2
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
heir/heiress
drama
tragedy
serious
cheating
affair
like
intro-logo
Uraian

Naura Maheswari, seorang wanita kaya raya yang memilih menikah karena cinta, percaya bahwa kebahagiaan sederhana bersama pria biasa sudah cukup untuknya.

Dan memang… awalnya semuanya terasa sempurna.

Sampai hari itu tiba.

Hari ketika Naura pulang dari rumah sakit, membawa bayi yang baru saja ia lahirkan—buah cinta yang selama ini ia perjuangkan.

Namun yang ia temukan di rumah justru menghancurkan segalanya.

Suaminya…

berselingkuh dengan adik tirinya sendiri.

Lebih menyakitkan lagi, tak ada penyesalan di mata pria yang dulu ia cintai.

Tak ada pembelaan dari keluarga yang seharusnya melindunginya.

Yang ada hanyalah hinaan, kekejaman… dan pengkhianatan tanpa ampun.

Diusir dari rumah dengan bayi di pelukan, Naura kehilangan segalanya dalam satu malam.

Suami yang ia cintai. Adik tiri yang ia percaya. Keluarga yang seharusnya melindunginya.

Semuanya menghancurkan Naura di saat ia paling lemah—setelah melahirkan anak mereka. Dikhianati, dihina, bahkan diusir tanpa rasa kasihan.

Tapi mereka lupa satu hal… wanita yang mereka injak hari ini adalah orang yang sama yang bisa menghancurkan mereka besok.

Dan saat Naura kembali, ia tidak datang sebagai korban.

Ia datang sebagai mimpi buruk.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 — PENGKHIANATAN
Hujan turun deras malam itu. Langit gelap seolah ikut merasakan kegelisahan yang mengisi d**a Naura Maheswari. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari mobil, satu tangannya menggenggam erat tas kecil berisi kebutuhan bayinya, sementara tangan lainnya menopang tubuh mungil yang terbungkus selimut hangat. Bayi itu terlelap, napasnya halus, wajahnya begitu damai. Berbeda dengan hati Naura. Sudah tiga hari sejak ia melahirkan. Tubuhnya masih lemah, luka jahitannya masih terasa perih setiap kali ia melangkah. Namun semua rasa sakit itu terasa tak berarti dibandingkan rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Ia akhirnya menjadi seorang ibu. Dan malam ini… ia pulang. Pulang ke rumah yang seharusnya penuh cinta. Pulang kepada suami yang ia cintai sepenuh hati. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia menatap pintu besar rumah itu. Rumah yang dulu ia banggakan, rumah yang ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri, lalu ia berikan kepada pria yang kini menjadi suaminya. Arga. Nama itu terlintas begitu saja di benaknya. Naura masih ingat bagaimana pria itu dulu datang dalam hidupnya sederhana, hangat, penuh perhatian. Tidak seperti pria-pria lain yang mendekatinya karena harta atau status. Arga berbeda. Atau… setidaknya, itulah yang ia percaya. Dengan hati-hati, Naura membuka pintu rumahnya. Sunyi. Terlalu sunyi. Alisnya sedikit berkerut. Apakah suaminya masih belum pulang dari kantor? Arga sebelumnya memang mengatakan ia hari ini memang tidak bisa datang ke rumah sakit karena harus meeting dengan investor. Arga bekerja di perusahaan keluarga Naura berkat Naura yang selalu memohon kepada papanya untuk menerima Arga di sana. Makanya Naura memaklumi kalau suaminya itu harus menjaga citranya di perusahaan meskipun harus mengorbankan waktu mereka bersama. Naura masuk, ia merasa kalau ia tidak sendirian di rumah itu. “Mas?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Naura melangkah masuk ke ruang tamu setelah menutup pintu di belakangnya. Suara hujan masih terdengar samar dari luar, menambah kesan dingin yang tiba-tiba menyelimuti rumah itu. Langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang terasa… berbeda. Sepasang sepatu hak tinggi tergeletak di dekat sofa. Naura menatapnya beberapa detik. Sepatu itu bukan miliknya. Napasnya mendadak terasa berat. Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin tamu. Mungkin keluarganya datang dam ingin memberikannya kejutan. Mungkin ia hanya terlalu lelah dan berpikir berlebihan. Namun kemudian terdengar suara tawa dan desahan secara bergantian. Pelan… samar… tapi jelas. Berasal dari lantai atas. Dari kamar tidurnya. Jantung Naura berdegup kencang. “Mas…?” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. Tak ada jawaban. Hanya suara desahan yang semakin jelas terdengar. Langkah Naura berubah ragu. Kakinya terasa berat, namun entah kenapa tubuhnya tetap bergerak menaiki tangga satu per satu. Setiap langkah terasa seperti membawa beban yang tak terlihat. Tangannya mulai gemetar. Hatinya berteriak untuk berhenti. Namun pikirannya memaksanya untuk terus melangkah. Sampai akhirnya ia berdiri di depan pintu kamar. Pintu itu tidak tertutup rapat. Sedikit terbuka. Dan dari celah itu, suara tawa berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas. Lebih menyakitkan. Perlahan, dengan tangan gemetar, Naura mendorong pintu itu. Ceklek. Pintu terbuka. Dan dunia Naura… runtuh. Di atas ranjang yang dulu menjadi saksi cinta mereka, Arga berada di sana bersama seorang wanita. Tubuh mereka saling mendekap tanpa rasa bersalah. Wanita itu tertawa sembari mendesah kecil, jemarinya bermain di d**a Arga seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Bayi di pelukan Naura tiba-tiba menangis. Suara tangis itu memecah keheningan. Keduanya menoleh bersamaan. Waktu seolah berhenti. “N… Naura…?” suara Arga nyaris tak terdengar. Tatapan Naura kosong, tak percaya dengan apa yang ia lihat, namun yang lebih menghancurkan bukanlah pemandangan itu. Melainkan wajah wanita di samping suaminya. “Ka… Kak Naura?” Suara itu. Wajah itu. Naura mengenalnya dengan sangat baik. Livia. Adik tirinya sendiri. Tubuh Naura gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Apa… yang kalian lakukan…?” bisiknya lirih. Namun Arga tidak terlihat panik. Tidak juga bersalah. Ia hanya menatap Naura sekilas, lalu menghela napas panjang, seolah kehadiran istrinya hanyalah gangguan kecil. “Aku pikir kamu tidak pulang hari ini,” ucapnya datar. Deg. Hati Naura seperti diremas. "Kenapa? Kamu kecewa aku datang sekarang? Mengganggu aktivitas menjijikkan kalian?" "Hey, jaga bicaramu ya Naura!" Bukannya merasa bersalah, Arga justru membentak Naura. “Mas… ini… anak kita…” Naura berusaha berbicara, suaranya bergetar hebat. “Aku baru saja melahirkan…” Namun Arga malah tertawa pelan. Tawa yang asing. Dingin. Menyakitkan. “Lalu?” jawabnya singkat. Satu kata itu, menghancurkan segalanya. Naura mundur selangkah. Dunia terasa berputar. Ia hampir kehilangan keseimbangan, namun segera menguatkan diri demi bayi di pelukannya. Livia bangkit dari ranjang tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia merapikan pakaiannya, lalu berjalan mendekat dengan senyum tipis yang menusuk. “Maaf ya, Kak,” ucapnya manis. “Tapi sepertinya posisi istri itu… lebih cocok untukku.” Tamparan tak terlihat itu terasa begitu nyata. Naura menatapnya tak percaya. “Kamu… adikku…” “Oh, jangan terlalu drama,” potong Livia santai. “Sejak dulu juga, Kak, semua yang kamu punya… selalu bisa aku ambil.” Napas Naura tercekat. Sementara itu, Arga bangkit dari ranjang, berjalan mendekat dengan langkah santai. Ia berdiri tepat di depan Naura, menatapnya dengan dingin. “Sudah cukup sandiwaranya,” katanya. “Sand… sandiwara…?” Naura mengulang dengan suara pecah. “Iya,” jawab Arga tanpa ragu. “Kamu pikir aku menikahimu karena cinta?” Dunia benar-benar runtuh kali ini. Naura menatapnya, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun tidak. Tatapan Arga begitu nyata. Begitu kejam. “Aku menikahimu karena aku pikir kamu adalah pewaris kekayaan Maheswari, Naura,” lanjutnya dingin. “Tapi, ternyata sang pewaris itu adalah Livia, jadi buat apa aku menghabiskan hidupku bersama wanita yang tidak berguna, sekarang hidupku hanya milik Livia.” Bayi di pelukan Naura kembali menangis. Namun kali ini… Naura tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia hancur. Benar-benar hancur. Dan malam itu… adalah awal dari segalanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
10.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.4K
bc

TERNODA

read
202.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook