BAB 1

1396 Kata
" Tok tok tok " " Kak aku udah bikin sarapan, kalau kak Biru nggak keberatan, ayo kita sarapan " ucap seorang gadis yang bernama Arania Claudya Sanjaya Gadis itu terdiam di depan pintu kamar yang baru saja ia ketuk, ia tertunduk, karena tidak mendapat respon dari penghuni kamar itu. Ceklek! Pintu kamar terbuka membuat Arania mendongak, karena pemilik kamar tersebut adalah Biru Hanggara, seorang pria bertubuh tinggi tegap, atletis, alis yang tebal , dagu yang lancip serta bibirnya yang sedikit tebal menambah kesan seksi untuk seorang Biru Hanggara. Tapi sayang semua kesempurnaan itu tertutup karena penampilan Biru yang selalu mengenakan kaca mata dengan kaca bening berbingkai hitam tebal tak lupa rambut bermodel poni bak sebuah mangkuk namun selalu memakai minyak rambut agar terlihat rapi , membuat julukan pria culun melekat pada diri Biru. " Kak Bi Ru " ucap Arania terbata Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Biru, ia hanya menatap gadis dengan mata bengkak di hadapan nya dengan ekspresi datar. Arania menyingkirkan tubuh nya agar Biru bisa lewat. Dan benar saja tanpa sepatah katapun Biru melewati Arania begitu saja. Biru melangkah pelan menuju dapur, di ikuti oleh Arania. Di meja makan, sarapan sudah tersaji rapi, sepotong sandwich yang terlihat masih hangat dan segelas s**u putih menunggu di hadapannya. Tidak, ternyata ada dua porsi dengan posisi berhadapan. Biru mengerutkan dahi, menatap makanan itu sesaat, seolah mencari semangat untuk memulai hari. Napasnya sedikit berat, tanda pikirannya masih berkelana jauh dari pagi yang biasanya tenang menjadi entahlah Biru tidak bisa menjelaskan. " Maaf kak, cuma bikin sarapan kayak gini, ada nya stok bahan di dapur kak Biru cuma bisa bikin ini " ucap Arania memelankan Kalimat terakhir nya. Lagi - lagi tak ada tanggapan dari Biru, Biru langsung duduk dan langsung memakan sarapan nya, melihat sang suami yang memakan sarapan nya, Arania langsung duduk di kursi yang kosong dan juga mulai melahap bagian nya, tidak ada suasana hangat, yang ada hanya suasana dingin dan canggung. Ya, Biru Hanggara adalah suami sah secara hukum dan agama Arania Claudya Sanjaya. Biru langsung bangkit dari tempat duduk nya, lalu melangkah kan kakinya menuju pintu rumah dan keluar begitu saja tanpa berkata sepatah katapun pada Arania yang kini sudah berstatus sebagai istri nya. " Brak! " Pintu di tutup dengan kencang. Membuat Arania terjingkat kaget. Seraya memegangi dadanya. Tidak, Arania tidak marah apalagi sakit hati dengan sikap suami nya. Karena ia masih sadar jika dirinya lah yang membuat suaminya bersikap seperti itu, bahkan dirinya sendiri juga yang memaksa untuk masuk ke dalam kehidupan sang suami. Arania mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu, tatapan nya terlihat kosong masih teringat dengan jelas di kepala dan pikiran nya, bagaimana bisa ia bersuamikan seorang Biru Hanggara yang terkenal dengan julukan Biru Si Pria Culun. _ Flashback On _ Sehari sebelum acara pernikahan terjadi, " Belum tidur sayang " ucap Tania Sanjaya mama dari Arania yang masuk ke dalam kamar Arania. Tania awalnya hanya ingin melihat sebentar keadaan putri nya sudah tidur apa belum, ternyata Tania melihat pintu kamar putrinya sedikit terbuka dan ternyata Arania masih sibuk mondar mandir entah apa yang sedang di kerjakan. Arania tersenyum saat melihat sang mama masuk ke dalam kamar nya, kegiatan nya langsung Arania hentikan lalu beralih memeluk sebentar sang mama, lalu kemudian membawa mama nya duduk di ranjang nya. " Belum mama, susah yang mau tidur " ucap Arania nyengir " makanya Ara pilih beres - beres yang menurut Ara harus di beresin biar cepet capek dan bisa tidur " ucap Arania lagi " kamu ini ada - ada saja " ucap Tania seraya menarik pelan hidung mancung putrinya itu. yang lagi - lagi mendapat cengiran dari Arania. Arania Claudya Sanjaya, gadis cantik berusia dua puluh lima tahun, putri dari pasangan Tuan Sanjaya dan Nyonya Tania Sanjaya. Arania seorang gadis yang cantik dan manja hanya pada keluarga nya saja, tapi meskipun Arania bisa di katakan manja bukan berarti Arania tidak memiliki pencapaian sendiri, Arania memang di manja oleh keluarga nya, tapi jika soal keinginan Arania harus mencapai keinginan itu sendiri tanpa bantuan dari keluarga nya, Arania dibiarkan memilih keinginan nya sendiri oleh keluarga nya dari segi sekolah, jurusan saat kuliah, hingga pekerjaan yang di dapatkan Arania saat ini yakni menjadi sekertaris di perusahaan terbesar di kota nya. Yang terpenting selama itu hal positif maka keluarga Arania akan mendukung putri cantik di keluarga sanjaya itu. Arania memiliki seorang kakak laki - laki yang bernama Afkar Rama Sanjaya, Pria tampan yang berusia dua puluh sembilan tahun yang hingga saat ini masih betah melajang sampai membuat tuan Sanjaya dan Nyonya Tania selalu pusing jika mengingat selalu mendapat penolakan setiap kali menjodohkan Afkar dengan berbagai macam alasan. Hingga akhirnya Tuan Sanjaya dan Nyonya Tania memilih menyerah dengan putranya itu, mereka menganggap Putra mereka Afkar sudah tidak tertolong dengan kekasih tercinta nya yakni pekerjaan. tapi meski begitu baik Tuan Sanjaya maupun Nyonya Tania berharap suatu saat ini sang anak mendapat kan hidayah dan mau menikah dengan wanita yang bisa menaklukkan hati putra mereka. kembali ke Arania, " mama, Ara takut sekaligus senang, tapi nggak tau cara ngomong nya gimana " ucap Arania dengan polosnya gadis berusia dua puluh lima tahun akan menjelma menjadi anak yang manja jika sudah bersama keluarga nya, padahal jika di luar rumah terutama dalam hal bekerja Arania akan berubah menjadi seorang gadis kuat dan tegas. cita - citanya yang sejak kecil ingin bekerja di perusahaan besar sudah tercapai bahkan ia bisa memiliki posisi sebagai seorang sekertaris direktur di perusahaan dimana dirinya bekerja saat ini. " kamu nggak yakin sama calon suami kamu? " tanya mama Tania tiba - tiba Arania menggeleng, " bukan ragu mama, Ara yakin sama Mas Haikal, hanya saja tidak tau kenapa perasaan Ara bingung sejak tadi, tapi juga nggak tau bingung nya kenapa " ucap Arania menceritakan kegundahan hatinya pada sang mama Mama Tania mengelus pelan rambut putrinya itu, " kamu cuma gugup aja sayang, tenang, rileks, acaranya masih besok, masih ada waktu buat kamu ngilangin rasa gugup kamu, istirahat ya, biar besok pikiran nya lebih Fress " ucap Mama Tania pada putri kesayangannya itu Arania mengangguk meski sebenarnya masih ada yang terasa mengganjal, " ya udah, istirahat beneran ya sayang, nggak usah beres - beres lagi, biar besok di lanjut bibi pagi - pagi " ucap Mama Tania yang lagi - lagi di angguki oleh Arania, Mama Tania mencium kening Arania sebentar setelah itu keluar dari kamar Arania. Arania menghela nafas pelan, " kenapa sih, aku merasa ada yang nggak enak, tapi apaaa??? " ucap Arania berbicara sendiri. " cuci muka dulu deh, baru nyoba tidur " ucap Arania pada akhirnya, lalu Arania bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. setelah mencuci muka nya, ponsel Arania berdering dengan gerakan cepat Arania meraih ponsel nya, senyum Arania mengembang saat melihat nama yang tertera di ponselnya. yakni " Mas Haikal " pria yang akan mengucapkan ijab qobul besok di sebuah gedung yang sudah ia sewa. tanpa menunggu waktu lagi, Arania langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari calon suaminya itu. " belum tidur sayang? " tanya Haikal di seberang sana " belum baru, mau istirahat, Mas udah di rumah kan? " tanya Arania memastikan " iya Mas, baru nyampek, gak papa lah agak malam, soalnya buat beresin kerjaan tiga hari kedepan " ucap Haikal menjelaskan Ya, Arania tau jika calon suami nya itu sibuk, karena Haikal sama seperti dirinya masih bekerja pada orang lain, tapi bedanya Haikal bekerja di perusahaan papa nya sendiri dan Haikal sedang dalam masa pelatihan untuk menjabat sebagai CEO nantinya di perusahaan itu. " mas, aku gugup, mas beneran cinta aku akan " ucap Arania pada Haikal hening, tak ada suara di seberang telpon " mas, mas masih di sanakan? " ucap Arania " ah, iya sayang aku masih di sini " ucap Haikal " kok nggak jawab pertanyaan aku sih " protes Arania " ehm, sayang bukan gitu, aku cuma kaget aja kenapa kamu tiba - tiba nanya seperti itu, kita udah mau nikah besok loh, masak iya kamu masih tanya kayak gitu, jangan - jangan kamu yang udah nggak cinta sama aku " ucap Haikal malah menuduh Arania " mana ada mas, kita udah di tahap ini, aku cuma mau mastiin aja biar aku bisa tidur " ucap Arania terdengar tawa renyah dari Haikal di seberang sana, yang membuat Arania ikut tertawa meskipun Haikal tidak melihat nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN