BAB 20 Pesawat baru saja mendarat di Jakarta, dan bersama itu, sepasang suami istri membawa pulang aroma perjalanan cinta yang masih menempel hangat. Mereka berjalan beriringan, senyum tersungging di wajah, seolah dunia hanya milik berdua. Ketika mobil hitam berhenti di halaman rumah Kemang, sebuah rumah megah dengan arsitektur modern yang dilingkupi teduh pohon-pohon besar, pintu pagar terbuka otomatis. Di sana sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan tubuh gempal, wajah bundar yang ramah, dan mata yang berkilat penuh kasih. Dialah Bi Inah, sosok yang sudah lama setia melayani keluarga Pratama. "Selamat datang, Tuan dan Nyonya." Suaranya dalam dan bergetar lembut. Ia segera meraih koper-koper yang diturunkan Pak Salim, tangan tuanya cekatan meski tubuhnya sudah termakan usia

