BAB 21 Rey dan Pak Salim tiba di sebuah rumah yang tidak begitu luas, bangunannya sederhana dengan cat dinding yang mulai pudar dimakan waktu. Kedatangan mereka disambut oleh seorang perempuan paruh baya. Dialah Mbak Sri, yang sudah lama ditugaskan menjaga rumah tersebut. Ia segera bergegas membukakan pintu, tubuhnya sedikit kaku, matanya menunduk dalam hormat. "Ini Mbak Sri yang mengurus rumah ini," ujar Pak Salim lirih. "Selamat datang, Tuan ..." Mbak Sri membungkuk pelan, lalu mempersilakan Rey masuk. Rey melangkah masuk. Begitu kakinya menjejak ruang tamu, aroma khas rumah lama menyergap hidungnya, perpaduan antara debu, kayu lapuk, dan sisa-sisa wangi pembersih. Hatinya menegang. Setiap sudut rumah itu seperti membawa bayangan adiknya, Reno, yang seolah masih bernapas di dalam d

