BAB 22 Malam pun tiba. Di sudut ruangan bar elit, Rey duduk seorang diri. Jas mahalnya tampak sedikit kusut, dasi terlepas longgar. Wajahnya yang biasanya tegas kini redup, tenggelam dalam bayangan lampu bar yang berwarna keemasan. Di depannya, gelas kristal terisi separuh, berulang kali ia putar di tangannya, seolah mencari jawaban pada pusaran cairan bening itu. Tak lama, langkah anggun seorang perempuan mendekat. Hak tingginya mengetuk lantai kayu dengan ritme mantap, hingga berhenti tepat di belakang Rey. "Rey?" suara itu lirih, namun cukup untuk membangunkannya dari lamunannya. Sebuah sentuhan ringan mendarat di pundaknya. Seketika Rey menoleh, pandangannya bertemu dengan wajah yang telah lama tersimpan di arsip kenangan. Bibirnya bergetar pelan. "Sarah?" Ya, Sarah—gadis yang p

