BAB 23 Aroma tumisan bawang yang harum menyeruak memenuhi udara, merambat ke setiap sudut rumah hingga mencapai kamar Rey yang masih remang oleh cahaya pagi. Wangi itu seakan mengetuk indra penciumannya, membangunkan kesadaran yang sempat terbenam dalam tidur berat akibat mabuk semalam. Di dapur, Naya tampak begitu lincah, tangannya menari di atas wajan. Dengan kesabaran seorang istri yang baru belajar menata bahtera rumah tangga, ia menyulap bahan seadanya menjadi hidangan sederhana namun penuh kasih. Bi Inah berdiri tak jauh dari sana, menyaksikan keseriusan Naya dengan tatapan penuh iba sekaligus bangga. Mulutnya menyunggingkan senyum hangat, lalu dengan suara rendah ia menawarkan. "Nyonya, biar saya saja yang lanjutkan. Nyonya pasti lelah." Namun Naya hanya menggeleng lembut, pipi

