CEMBURU

1526 Kata

BAB 24 Malam yang Membisu Naya duduk bersandar di sofa, tubuhnya letih, namun hatinya enggan menyerah pada kantuk. Kelopak matanya berat, tapi tekadnya lebih kuat: menunggu suaminya pulang. Sesekali matanya melirik jam dinding yang berdetak nyaring, seolah tiap detik menjadi palu yang memukul kesabarannya. Dentangnya semakin malam, semakin menusuk telinga, seakan ingin menegaskan betapa lama ia telah menunggu. Hingga jarum jam menunjuk pukul satu dini hari, pintu rumah itu akhirnya bergeser. Rey berdiri di ambang, raut wajahnya letih namun dingin. Pandangannya jatuh pada Naya yang tertidur pulas di sofa, tubuh mungilnya terkulai dengan selimut tipis yang tak mampu menahan dingin malam. Sejenak, Rey ingin membiarkannya begitu saja, biarkan istrinya terlelap di sofa tanpa ia pedulikan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN