Jatuh Cinta

1522 Kata
BAB 5 Keesokan harinya Naya melamun di ruangannya di dalam butik, mengingat perkataan tegasnya kepada Presdir Pratama Group, kegelisahan hadir meraja, mengingat tindakan impulsif yang dia lakukan sehari lalu, kecemasan akan ancaman tuntutan plagiasi berkecamuk dalam kepalanya. "Nay! Naya! kesini! buruan!" teriak Cua memanggil dari balik ruangan yang bersebelahan, Naya bergegas menghampiri dengan sedikit berlari. "Ada apa?". "Lihat!" Cua menunjuk siaran televisi yang sedang menyiarkan konferensi pers salah satu designer ternama Indo Putra Fashion. "Sekali lagi saya ucapkan permintaan maaf saya, atas ketidak kompeten saya sehingga melakukan tindakan plagiasi, saya memutuskan untuk mengundurkan diri" kata Dewi Inong salah satu designer ternama di Indo Putra Fashion. "Kami tim hukum dari perusahaan sudah menyiapkan kompensasi untuk Modis fashion jadi kami harap berita viral plagiasi yang perusahaan kami lakukan bisa dihentikan dari sekarang. Mohon maaf kami tidak menerima sesi tanya jawab. Sekian dan terimakasih!". 'Benar-benar orang itu ... dia mengorbankan karyawannya untuk melindungi nama perusahaan' kata Naya dalam hati. "Nay, memangnya apa yang sudah kau lakukan kemarin? Kenapa mereka jadi yang menyerah?" Cua terheran-heran sambil mencengkram kedua lengan Naya. "Kau hebat sekali Nay". Cua memeluk Naya dengan kegirangan. "Ya iyalah" jawab Naya dengan nada sombong. "Hahahahahahahaha" "Hahahahha" Mereka berjingkrak sambil tertawa lepas, Naya merasa lega, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan nya. **** Drttt ... Drrrttt … Ponsel Naya bergetar di atas meja butik yang penuh lembaran kain. Ia menoleh sebentar, lalu meraih perangkat mungil itu dengan ragu. "Halo," suaranya terdengar datar, namun ada guratan letih yang samar. "Halo, nona Naya? Saya Rizman, dari Indo Putra Fashion. Presdir kami mengundang nona makan malam untuk membicarakan tentang kompensasi." Suara di seberang terdengar resmi, berlapis formalitas. Naya terdiam sejenak, keningnya berkerut. "Apa saya bisa mengajak teman saya?" tanyanya hati-hati. "Maaf, nona. Presdir mengundang secara pribadi, jadi hanya untuk nona Naya saja." Nada ketus menyelusup ke dalam jawaban Naya. "Maaf, ini kan bukan urusan pribadi. Saya tidak akan datang kalau begitu." Keheningan sepersekian detik, lalu suara itu kembali terdengar. "Baik, nona. Silakan anda membawa teman. Nanti malam, pihak perusahaan kami yang akan menjemput di butik anda sekitar pukul delapan." "Oke, kami akan menunggu." Naya menutup sambungan dengan napas lega, meski hatinya masih menyimpan curiga. **** Tak lama, suara riang Cua memecah hening. "Eh, Nay ... katanya Presdir Pratama Group itu ganteng sekali ya?" Mata sahabatnya itu berbinar, penuh kilau penasaran. Naya hanya mengangkat bahu. "Ya, begitulah," jawabnya singkat. "Duh, senangnya bisa makan malam bersama pria ganteng dan kaya raya." Cua menengadahkan kepalanya, seolah sedang memandang bintang. Senyum lebarnya seperti anak kecil yang menemukan cerita dongeng hidup. Naya menatapnya geli, lalu menyikut lengannya. "Kita harus tampil super cantik malam ini, Nay. Siapa tahu dia bakal tertarik dengan salah satu dari kita," kata Cua, matanya menerawang nakal, bibirnya membentuk lengkung penuh harap. "Ngarep ya?" Naya meledek dengan tawa ringan. "Banget! Siapa tahu kan, bakal jadi Cinderella ... tanpa sepatu kaca." Dan tawa mereka pun pecah bersamaan, bergema di ruang butik yang sempit, mengusir sejenak segala ketegangan. "HAHAHAHAHA!" Namun di balik tawa itu, hati Naya berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena Presdir yang disebut-sebut Cua, melainkan karena firasatnya berbisik—malam nanti bukan sekadar makan malam biasa. Ada sesuatu yang sedang disiasatkan. **** "Cua ... cepetan! Pak sopir sudah menunggu dari tadi!" Suara Naya terdengar kesal ketika menelpon sahabatnya yang entah masih sibuk dengan lipstik atau gaun. Dari tadi ia berdiri di depan butik, ditemani sinar lampu jalan yang temaram. Naya tampak sederhana malam itu. Dress biru pastel tanpa hiasan berlebihan membalut tubuhnya. Tanpa make up mencolok, hanya lip balm tipis di bibirnya, rambut tergerai alami. Namun justru kesederhanaan itu yang membuatnya terlihat anggun, lembut, dan tidak dibuat-buat. "Maaf, Pak. Tunggu sedikit lagi ya, Pak ..." ucap Naya sembari menundukkan tubuh sedikit condong ke arah jendela mobil hitam yang terparkir rapi di halaman butik sejak tiga puluh menit lalu. Sopir tua itu menoleh, suaranya berwibawa tapi ramah. "Nona, tunggu di dalam mobil saja." Naya tersenyum kecil, menolak halus. "Ah, tidak apa-apa, Pak. Nanti saja sekalian masuk dengan teman saya." Tak lama kemudian, pintu butik terbuka. Cua muncul dengan dandanan tebal, eyeshadow berkilau, bibir merah menyala, dan gaun glamour berpotongan berani, seolah hendak menghadiri pesta akbar. Naya membelalakkan mata. "Serius pakaian elo begitu?" tanyanya, tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Cua mengangkat dagu, senyum penuh percaya diri. "Harusnya gue yang tanya! Serius elo cuma pakai dress polos begitu? Harusnya lo tunjukkan bahwa lo designer hebat." Nada meledek itu keluar begitu saja. Naya hanya menggeleng pelan, tak habis pikir dengan selera sahabatnya malam itu. "Ayo! Pak sopir sudah nunggu dari tadi." Ia meraih tangan Cua, menariknya agar segera masuk ke mobil. **** Mobil meluncur menembus keramaian kota yang berkilau diterangi lampu-lampu neon. Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Bangunannya menjulang elegan dengan kaca berkilauan, gerbangnya dijaga pelayan bersetelan jas. Aura berkelas langsung menyelimuti udara. Naya dan Cua turun dari mobil, langkah mereka diiringi tatapan para pelayan. Seorang pramusaji berseragam hitam putih menunduk sopan, lalu mempersilakan mereka masuk. Aroma harum rempah dan musik klasik lembut mengalun, menambah suasana semakin megah. Mereka diantar menuju sebuah meja bundar di sudut ruang, di mana dua pria telah menunggu. "Selamat malam ..." Naya dan Cua menyapa hampir bersamaan. Pak Salim—dengan jas abu-abu elegan—dan Rey yang berwibawa dalam balutan setelan hitam berdiri. Keduanya membalas sapaan itu dengan ramah, lalu memberi isyarat duduk. "Silakan duduk ..." suara Pak Salim tenang, penuh penghormatan. Rey, di sisi lain, tak bisa menyembunyikan tatapan matanya. Ia menatap Naya lekat-lekat—terkesima. Gadis itu hadir dengan kesederhanaan yang tidak berusaha memikat siapa pun, namun justru memancarkan pesona yang tak tertandingi. Dress simpel, wajah tanpa riasan berlebihan, hanya bibir lembut yang berkilau karena lip balm. Ia tampak berbeda, tulus, dan begitu alami. Sementara di sampingnya, Cua duduk dengan penuh percaya diri. Dandanan glamournya jelas menarik perhatian, tapi bagi Rey, semuanya terasa terlalu dipaksakan. Terlalu berlebihan. Bahkan sedikit norak. Naya dan Cua duduk bersisian, sementara pelayan datang membawa buku menu yang tebal, menunduk hormat sebelum meletakkannya di meja. "Silakan pesan makanan sesuai selera kalian," Rey mempersilakan dengan nada tenang namun sorot matanya tak pernah lepas dari Naya. Naya dan Cua membuka buku menu. Jari lentik Naya bergerak pelan membalik lembaran, matanya meneliti tanpa banyak ekspresi. Berbeda dengan Cua yang sibuk bergumam kecil, seolah sedang menimbang menu seperti sedang memilih perhiasan mahal. Pramusaji berdiri di samping mereka dengan penuh kesabaran, menunggu keputusan. Setelah beberapa kali membolak-balik, keduanya menyebutkan pesanan. Sang pramusaji mencatat dengan seksama, kemudian undur diri dengan sopan. "Pak Salim," ucap Rey singkat memberi isyarat. Seolah sudah paham betul kebiasaan tuannya, Pak Salim segera mengeluarkan map dari tas kulit hitamnya. Tangannya menyerahkan dokumen itu kepada Rey dengan gerakan penuh hormat. "Ini surat perjanjian perdamaian," Rey meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Naya. Suaranya dalam, tenang, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lain, bukan sekadar urusan bisnis. "Di sini tertulis kompensasi yang kami tawarkan. Silakan dibaca terlebih dahulu." Naya menarik napas dalam sebelum meraih map itu. Jari-jarinya menyusuri kertas putih berisi pasal-pasal hitam tegas. Tatapannya tak tergoyahkan, bibirnya mengatup rapat, hanya sesekali bergeser seiring matanya membaca setiap kalimat. Intinya jelas: Indo Putra Fashion menawarkan kompensasi satu miliar rupiah, dengan syarat Modis Fashion tidak melanjutkan tuntutan hukum. "Oke," ucap Naya pelan tapi mantap. "Saya setuju. Saya akan tanda tangan." Ia menengadahkan tangannya ke arah Pak Salim. "Mohon izin meminjam pena Anda, Pak." Rey sedikit condong ke depan. Ada sesuatu di wajahnya yang tampak gusar, campuran heran sekaligus kagum. "Apa tidak mau dibaca lebih teliti dulu? Jangan terburu-buru. Besok pun kita masih bisa meluangkan waktu untuk membicarakan ini lagi." Nada suaranya terdengar terlalu lembut untuk sekadar negosiasi bisnis. Sejak pertemuan pertama di depan kafe itu, Rey tahu ada sesuatu pada diri gadis ini yang menyalakan bara di hatinya. Bara itu makin berkobar pada pertemuan kedua yang penuh ketegangan. Dan kini, di bawah lampu kristal restoran mewah, ia sudah tak sanggup menyembunyikan kegilaannya pada pesona Naya. "Bukankah lebih cepat lebih baik, Pak Rey? Anda pasti sibuk. Satu masalah selesai, hidup bisa berlanjut." Jawaban Naya tegas, namun senyumnya tipis, seakan ingin menutup ruang yang coba Rey ciptakan. Rey tersenyum samar, agak getir, seolah ingin mengulur waktu. "Ah ... saya justru sedang punya banyak waktu luang akhir-akhir ini." Pak Salim yang duduk di sebelahnya sempat menahan tawa kecil. Tangannya membalik-balik agenda di pangkuan, pura-pura sibuk. Padahal jadwal Anda padat, Presdir, gumamnya dalam hati. Tapi untuk gadis ini, rupanya semua bisa Anda kosongkan. "Silakan dibaca lagi, nona. Tak perlu terburu-buru. Kita bisa bertemu lain waktu," Rey mencoba sekali lagi menahan. Ada harapan samar di balik kalimatnya—harapannya untuk kesempatan berikut, pertemuan berikut. Namun Naya sudah menutup map dengan tegas. "Sepertinya saya sudah cukup jelas memahaminya. Jadi—" Sebelum kalimat itu sempat lengkap, pelayan datang dengan baki penuh aroma masakan mewah. "Makanan sudah tiba. Kita lanjutkan setelah makan," Rey menyela, berusaha mencuri jeda. Keheningan menggantikan percakapan. Bunyi sendok, garpu, dan denting gelas jadi musik pengiring malam itu. Rey beberapa kali mencuri pandang, meneliti wajah Naya saat gadis itu menikmati makanannya dengan sederhana, tanpa basa-basi, tanpa dibuat-buat. Cua, yang duduk di samping Naya, menyadari tatapan itu. Bibirnya melengkung tipis, menatap Rey dan Naya bergantian. Ah, rupanya bukan aku yang jadi sorotan malam ini, batinnya, dengan sedikit getir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN