PERDEBATAN

1200 Kata
BAB 4 “Ah, tidak perlu. Bahkan kalaupun itu temanya, saya juga tidak kenal". Ada jeda sejenak sebelum Rey melanjutkan bicaranya. "Pak Salim, bagaimana masalah plagiasi desain? Apa sudah diselesaikan sesuai saran saya?” Rey melontarkan pertanyaan itu tanpa basa-basi, fokusnya sudah beralih. “Barusan, saat Presdir di pekuburan,” Pak Salim menjawab hati-hati, “saya mendapat telepon dari Pak Hadi. Beliau bilang pemilik brand Modis itu belum mau menerima negosiasi yang kita tawarkan.” Rey mendengus, senyum sinis tersungging di bibirnya. “Sombong sekali. UMKM yang hanya memiliki aset tiga ratus juta berani menolak kompensasi satu miliar?” Nadanya dingin, penuh kuasa. “Designer yang membuat masalah, apa sudah dipecat?” tuntut Rey, matanya menyipit. “Perusahaan sudah mengambil keputusan merugi untuk menjaga citra. Tidak ada alasan untuk mempertahankannya,” tambah Rey dengan nada kesal yang tersimpan rapi. “Baik, Presdir. Saya akan segera menghubungi CEO untuk memastikan pemecatannya.” “Apa Presdir jadi mampir ke Indo Putra Fashion?” tanya Pak Salim, mencoba kembali ke jadwal kerja sang Presdir. Rey melirik setelan jasnya yang sedikit ternoda tumpahan kopi. “Kita pulang saja. Jadwalkan kembali besok. Baju saya kotor.” “Sule, langsung menuju ke rumah ya!” instruksi Pak Salim pada sopir yang sudah menunggu. “Baik, Pak,” sahut Sule. Saat tangannya merogoh saku jas, Rey teringat akan syal sutra yang dibawanya dan secarik kertas struk yang tertera nomor telepon Naya. Rey mengambil benda-benda itu, lalu menyerahkannya kepada Pak Salim. “Pak Salim. Tolong bersihkan syal ini, bungkus yang cantik, dan kirimkan kepada pemiliknya. Nomor teleponnya tertulis di struk ini.” “Baik, Presdir,” jawab Pak Salim patuh, menerima tugas yang terasa sangat personal di tengah urusan bisnis yang dingin. **** Keesokan harinya. Naya tiba di lobi Indo Putra Fashion untuk menemui Pak Hadi, Creative Director perusahaan itu. Ia berjalan ke meja resepsionis. “Siang,” sapa Naya ramah. “Siang … Ada yang bisa dibantu, Kak?” balas resepsionis itu. “Saya Naya Pratiwi dari Modis Fashion. Saya sudah membuat janji dengan Pak Hadi. Apa saya bisa bertemu beliau sekarang?” “Maaf sebelumnya, Kak. Barusan Pak Hadi menghubungi, beliau masih ada pertemuan dengan Presdir. Jadi, Pak Hadi minta Kakak menunggu sebentar di lobi. Nanti setelah beliau bebas, saya akan panggil Kakak.” Resepsionis menunjuk area lobi dengan gerakan tangan yang terbuka. Naya berjalan menuju lobi. Langkahnya terhenti sejenak di depan Video Wall besar. Di layar, terputar iklan yang menampilkan Richard William, aktor blasteran Amerika yang terkenal, sebagai Brand Ambassador produk Indo Putra Fashion. Naya menatap video itu dengan ekspresi kemarahan yang tajam, tersembunyi di balik sorot mata serius. Ia baru saja duduk beberapa menit di sofa lobi ketika resepsionis menghampirinya lagi. “Permisi, Kak. Pak Hadi ingin bertemu sekarang, bersama dengan Presdir,” bisiknya. “Mari, saya antar ke ruang pertemuan.” ‘Presdir?’ batin Naya, terkejut. ‘Haruskah seorang Presdir turun tangan untuk masalah sepele ini?’ Mereka menuju lantai tiga menggunakan lift khusus. Sepanjang perjalanan, Naya yang mendadak gugup berusaha mengatur napasnya. Jantungnya mulai berdebar kencang. “Silakan masuk, Kak.” Resepsionis itu membukakan pintu. Detak jantung Naya semakin menggila. “Permisi …” Naya memberi salam, suaranya sedikit tertahan. Mereka bertemu di ruang rapat dengan meja bundar yang besar. Naya menyapu ruangan dengan pandangan menyidik: ada Pak Hadi, Pak Rizman, dan seorang laki-laki paruh baya yang tidak ia kenali, duduk berjejer rapi. Terakhir, pandangannya jatuh pada seorang laki-laki muda yang sedang fokus membaca berkas di tangannya. Wajah itu ... terasa sangat familiar. Naya mencoba mengingat—dan seketika ia tersadar. Itu adalah laki-laki yang ia tabrak kemarin siang di depan kafe. “Mari, Nona. Silakan duduk,” ajak Pak Hadi, mengarahkan Naya ke kursi yang tepat berhadapan dengan laki-laki muda itu—Rey Pratama, Presdir Holding Company Pratama Group. Naya menarik kursinya dengan gerakan hati-hati, seolah takut gesekan kayu itu akan memperkeras suara detak jantungnya yang sudah terlanjur gaduh. Ia duduk, menunduk sejenak, mencoba menenangkan napasnya yang memberat. Rey meletakkan dokumen di tangannya, lalu mengangkat wajah, menatap lurus ke arah Naya. Tatapan itu tajam, dingin, dan menusuk, bagai belati tajam yang menyingkap setiap lapisan kegugupan Naya. Dengan sedikit keberanian, Naya mengangkat kepala dan mengangguk pelan, sapaan sederhana yang terselip dalam sorot mata. “Oh … Nona muda ini pemilik Modis Fashion?” Rey meletakkan kedua tangannya di meja, menegaskan pandangan intimidatifnya. “Iya!” jawab Naya tegas, membalas tatapan Rey dengan sorot mata yang tak kalah tajam. Semenjak ia menginjakkan kaki di ruangan ini, Naya sudah menangkap aura dingin dan arogansi yang memancar dari sang Presdir. Tanpa sapaan, tanpa sambutan. Orang kaya yang sombong, begitu kesan pertama yang menyalip di benaknya. Namun Naya tahu, ini bukan sekadar kesombongan, ini adalah strategi. Cara halus untuk menekan mental lawan, meremehkan sejak awal agar mental yang datang runtuh sebelum pertempuran dimulai. “Jadi, Anda masih tidak bisa menerima penawaran kami?” tanya Rey, tatapannya semakin tajam. “Iya,” jawab Naya lantang. Rey menyeringai tipis. “Anda tidak takut, jika kami yang menuntut bahwa pihak Andalah yang telah menjiplak desain kami? Anda tahu, kan, di negeri ini, yang berkuasalah pemenangnya.” Nada suara Rey penuh penegasan dan tekanan, bermaksud menggoyahkan benteng kepercayaan diri Naya. Naya menelan ludah, sedikit gentar, namun ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutan. “Begini ya cara Anda berbisnis?” Naya membalas dengan senyum miring yang menyeringai, mencoba melawan intimidasi yang bertubi-tubi. “Demi kesuksesan, Anda melakukan berbagai cara licik. Mungkin bagi Anda, Modis Fashion kami hanya sebutir debu dibandingkan perusahaan Anda.” Naya mempertajam tatapannya, seolah ingin menusuk bola mata Rey. “Tapi kami membangunnya dengan harapan—harapan kami untuk menjadi usaha besar, dengan kehormatan!” Naya mulai mencondongkan tubuhnya ke depan. Keberanian yang didorong kemarahan spontan telah menguasainya. “Dengan kami yang harus mengakui plagiasi yang tidak kami lakukan, itu akan membunuh harapan dan kehormatan itu!” “Jika Anda memutuskan akan menuntut, silakan! Karena saya sudah mengumpulkan segala bukti!” “Jika memang di negeri ini tidak ada lagi keadilan, seperti yang anda bilang, setidaknya kami sudah berusaha mempertahankan kehormatan kami. Sepertinya sudah tidak ada kesepakatan lagi. Saya permisi!” Naya mendorong kursinya ke belakang—tidak keras, namun cukup tegas untuk meninggalkan gema di ruangan yang sunyi. Ia berdiri, lalu melangkah pergi dengan kepala tegak, tanpa menoleh sedikit pun. Dalam diamnya, ada sikap yang jauh lebih lantang dari seribu protes; sebuah perlawanan yang menawan namun menusuk. Rey hanya duduk, memandangi punggung Naya yang menjauh. Senyum tipis merayap di wajahnya tanpa ia sadari, bukan karena kemenangan, melainkan karena kekaguman yang tak terbendung. Ada sesuatu pada cara gadis itu menolak tunduk—tenang, namun berani; marah, namun anggun. Semakin jauh langkah Naya, semakin dalam rasa yang tumbuh di d**a Rey. Kekesalan gadis muda itu justru membuatnya terkesima, seolah ia sedang menyaksikan kobaran api yang indah: berbahaya, tapi memikat. Dan dalam hati Rey, ia tahu, ia mulai jatuh cinta, perlahan namun pasti. “Pak Salim,” panggil Rey kepada asistennya yang duduk di sebelah kiri. “Syal yang kemarin?” “Oh, sudah saya siapkan. Rencana saya baru akan menghubunginya setelah ini.” “Tidak usah,” potong Rey. “Berikan kepada saya. Saya sendiri yang akan memberikannya.” “Baik, Presdir,” jawab Pak Salim patuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN