BAB 3
"Ah, maaf!" seketika Naya melepas slayer sapu tangan yang dia kenakan di leher untuk menyeka tumpahan kopi di baju pria tersebut.
"Ah tidak apa-apa" jawab pria itu sambil mencoba menghentikan gerakan tangan Naya.
"Saya benar-benar minta maaf, saya terburu-buru". Naya menunduk dengan perasaan bersalah, Naya mengambil pena dan selembar struk pembelian kopi yang masih dia simpan di tasnya, Naya berjongkok dan menulis nomor dengan beralaskan salah satu paha kakinya. Naya menyodorkan kertas itu ke pria tersebut.
"Maaf, ini nomor saya, kalau anda butuh ganti biaya laundry, silahkan hubungi nomor ini"
Pria itu menerima tanpa banyak kata. Naya sudah berlari, tanpa sadar menanggalkan slayer penyeka tumpahan kopi. Pria itu memungutnya, menatap punggung Naya yang menjauh. Senyum tipis tersungging.
"Cantik" gumamnya lirih
****
Di Sebuah ruangan kecil di sudut butik, duduk dua orang pria dengan santai, salah satu dari mereka sambil mengotak-atik tumpukan dokumen di pangkuannya.
"Berapa lama kami harus menunggu nona?". Tanya salah satu Pria tersebut, pria paruh baya dengan tubuh gempal, pria yang memainkan tumpukan dokumen di pangkuanya. Sedang pria satunya yang tampak lebih muda, berperawakan kurus dan terlihat lebih sopan.
"Sekitar 20 menit–semoga saja tidak terkena macet–."Cua menyeringai takut.
Cua terlihat mondar-mandir di depan Butik, sesekali mengangkat pergelangan tanganya untuk memastikan waktu.
Ekspresi cemas yang Cua tampakan seketika berubah, matanya terbelalak melihat mobil Naya dari kejauhan. Naya turun dari mobil bergegas menemui Cua yang sudah menunggunya dengan ekspresi panik.
"Ada berapa orang?"
"Dua, mereka ada di ruangan lo" jawab Cua sambil berjalan beriringan dengan Naya.
"Selamat siang". Sapa Naya kepada dua orang tamu laki-laki yang sedang duduk di sofa ruangannya.
"Siang ..." jawab kedua laki-laki tersebut sambil berdiri dan menjabat tangan Naya secara bergantian.
"Silahkan duduk kembali". Gerakan tangan Naya mengisaratkan mereka untuk duduk.
"Kami perwakilan dari Indo Putra Fashion, saya Hadi Creative Director dan sebelah saya Pak Rizwan tim hukum perusahaan". Pak Hadi si pria paruh baya bertubuh gempal memperkenalkan diri.
"Mohon maaf, saya mau langsung ke intinya saja, saya mendengar kalau perusahaan Bapak menuduh kami telah menjiplak desain perusahaan Bapak, dan perusahaan bapak berencana menuntut pelanggaran hak cipta kami?, bukankah itu yang seharusnya saya lakukan kepada perusahaan bapak?"
perkataan Naya ini sudah dia persiapkan sepanjang perjalanan menuju butik, dia berusaha tetap tenang agar cara bicaranya tajam dan tidak tergagap, dengan nada dan raut muka marah Naya memandang Pak Hadi dengan tatapan intimidatifnya.
Walaupun di dalam hati kecilnya, Naya merasa gugup dan takut.
"Bukan … bukan begitu maksud kami, kami ingin bernegosiasi, bukan mau menuntut" Pak Hadi menjawab dengan santai.
Sepertinya gertakan yang di berikan berefek langsung, Naya dalam pikirnya.
"Negosiasi?"
"Negosiasi seperti apa?". Naya bertanya dengan nada ketus.
"Kami menawarkan kompensasi untuk masalah ini, dengan syarat, nona harus mengakui kalau sebenarnya butik nona lah yang menjiplak desain perusahaan kami, kompensasi yang kami tawarkan pasti sangat menguntungkan bagi usaha nona yang masih ‘kecil’ ini". Pak hadi mengucapkan dengan nada merendahkan sembari mengeluarkan dokumen dari tasnya dan menyodorkan kepada Naya.
"Silahkan dibaca baik-baik, saya yakin ini sangat menguntungkan anda dan usaha anda". Pak Hadi meletakan dokumen di meja karena Naya masih diam terpaku, dengan ekspresi kesal yang nampak jelas diwajahnya.
"Apa yang perusahaan anda lakukan kalau saya menolak kompensasi ini". Naya enggan mengambil dokumen yang tergeletak di meja, tetap pada pendiriannya.
"Silahkan lihat dulu berapa kompensasi yang kami tawarkan, jika anda masih tidak mau menyetujuinya kami akan melakukan hal yang dapat merugikan usaha anda lho …”. Ancaman pak Hadi ia bungkus dengan nada santai.
Pak Hadi membalas tatapan tajam Naya dengan seringai kecil di mulutnya.
"Jangan terlalu naif hidup di dunia nona, anda akan hancur kalau terlalu kaku". Pak Hadi mencondongkan badanya, wajah mereka berdekatan dengan jarak sejengkal sambil menatap semakin tajam ke arah Naya.
"Sepertinya anda butuh waktu untuk berfikir, saya akan tinggalkan dokumen ini, kami menunggu jawaban anda maksimal tiga hari, silahkan dibaca baik-baik, kami pamit dulu". Pak Hadi beranjak dari sofa diikuti pak Rizman, merekapun pergi dengan meninggalkan dokumen di meja.
Naya masih terdiam dan enggan menyentuh dokumen dengan kekesalan yang luar biasa, Cua mengambil dokumen itu dan membacanya dengan seksama, membalik lembar demi lembar.
"Hah!" Cua melotot salah satu bagian dokumen tersebut
"Nay, lihat! satu Milyar, mereka akan memberikan kompensasi satu milyar!" Cua menyodorkan dokumen itu kepada Naya sambil menunjuk bagian yang dimaksud.
"Terus kenapa kalau satu milyar?." Jawab Naya ketus, dia masih enggan melihat dokumen tersebut.
"Nay ... benar apa yang dikatakan bapak tadi, kita jangan terlalu kaku, kalau mau usaha kita maju, sepertinya gak ada salahnya kita terima kompensasinya"
"Selama ini kita juga tidak dirugikan, setelah berita viral tentang plagiasi yang di lakukan perusahaan fashion ternama, omset kita malah naik pesat, brand kita jadi terkenal." Cua berusaha membujuk.
"Dengan satu milyar ini, kita bisa memebeli bangunan pabrik yang selama ini kita hanya mampu sewa, dengan begitu biaya operasional jadi turun dan bisa menambah upah pekerja." kata cua meyakinkan.
"Bagi gue itu sebaliknya, brand yang kita bangun ini akan hancur dalam sekejab, biarpun mereka berjanji tidak akan menuntut ketika kita mau mengakui bahwa kita yang berbuat plagiasi, brand kita di masyarakat akan di cap sebagai barang murahan yang bisanya hanya menjiplak karya orang, kita baru mulai merintis, kalau masyarakat sudah tidak percaya, apa bisa kita jadi maju?"
Cua terdiam, dan memahami apa yang dikatakan Naya nampak benar.
****
Seorang laki-laki muda berjas mewah yang sempat bertabrakan dengan Naya membawa kopi americano dan keranjang yang berisi bunga tabur. Berjongkok di sebuah pusara dengan batu nisan yang bertuliskan 'Reno Pratama'. Laki-laki itu bernama Rey Pratama seorang Presiden Direktur muda sebuah Holding Company besar, kakak dari Reno.
Rey dikejutkan dengan taburan bunga segar yang ada di pusara adiknya, dari tampilan bunga yang masih segar dan basah, nampaknya bunga itu baru saja ditaburkan. 'Siapa yang datang kesini sebelumnya?' pikirnya dalam hati.
Rey meletakkan kopi americano di sandarkanya di batu nisan adiknya.
"Aku bawakan minuman kesukaanmu"
****
Rey sudah berada di mobil dan bersiap kembali ke kantor, Rey duduk di belakang bersama pak Salim orang kepercayaan ayahnya dulu yang sekarang jadi sekretaris pribadinya.
"Pak salim."
"Ya Presdir?."
"Dikuburan Reno ada bunga tabur yang masih segar, kira-kira siapa yang datang berziarah?"
"Saya akan minta penjaga makam untuk mengirimkan CCTV pengunjung Presdir". Ucap Pak Salim.