BAB 2
Empat hari kemudian
Langkah Naya terhenti ketika samar-samar terdengar suara dari ruang depan. Hans. Dan Cua.
Awalnya ia hendak mengabaikan, tapi begitu telinganya menangkap nama Reno, hatinya langsung terjerat. Ia berdiri diam-diam di balik pintu, tubuhnya menegang, napasnya tertahan.
"Reno ... gue nggak tahu harus mulai dari mana, Cua. Tapi lo harus tahu duluan sebelum Naya tahu dari orang lain," suara Hans terdengar berat, seperti menahan sesuatu.
Cua terdiam sebentar, lalu bertanya dengan cemas, "Ada apa sih, Hans? Kamu bikin gue makin penasaran."
Hans menarik napas panjang, dan seketika suaranya terdengar patah.
"Bokap gue baru dapat kabar dari kolega bisnisnya di Surabaya ... Reno ... meninggal. Dua hari yang lalu."
Dunia Naya seakan berhenti berputar. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Cua terperangah, wajahnya pucat. "Apa? Lo serius, Hans? Jangan bercanda!?"
Hans menggeleng pelan. "Gue gak bercanda. Katanya dia ditemukan tak sadarkan diri karena overdosis ... dan nggak tertolong."
Naya merasa tubuhnya melemah, lututnya nyaris tak sanggup menopang. Ia menutup mulut dengan tangan, berusaha menahan suara tangis yang tiba-tiba pecah dari dalam dadanya.
"Ya Tuhan ..." suara Cua bergetar, "Naya ... dia belum tahu kan?"
"Belum," jawab Hans lirih. "Gue takut dia nggak akan sanggup."
Benar saja, Naya tak sanggup mendengar berita itu. Air matanya tumpah, jatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ia terhempas ke lantai, bersandar di balik pintu, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya pendek-pendek dan dadanya terasa sesak.
Reno ... meninggal ...? Dua hari yang lalu?
Pikirannya kalut, hatinya hancur.
Tangisnya akhirnya terdengar. Cua menoleh kaget dan segera berlari menghampiri, diikuti Hans.
"Naya!" seru Cua, lalu berlutut memeluk tubuh sahabatnya yang terisak tak terkendali. "Astaga ... Lo dengar ya ...? Gue ... Gue minta maaf ..."
Naya menggeleng dengan lemah, suaranya pecah, hampir tak bisa keluar dari tenggorokannya.
"Kenapa ... Kenapa jadi begini ...?"
Tangis itu pecah semakin keras. Tubuh Naya bergetar hebat dalam pelukan Cua, seakan semua penyesalan yang ia pendam selama ini pecah bersamaan dengan berita duka itu.
Hans berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya penuh rasa bersalah. Ia hanya bisa menunduk, menatap lantai, sementara di sudut lain langit mendung semakin pekat, seolah ikut meratap bersama duka Naya.
****
Hujan deras mengguyur, petir sesekali menyambar, menggetarkan tanah, seolah ikut menyayat hati Naya yang tengah berlari tanpa arah.
Kakinya berlari menembus jalanan licin menuju pekuburan, tanpa payung, tanpa alas pelindung. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, menempelkan gaun tipisnya ke kulit. Rambutnya kusut basah menutup wajah, namun ia tak peduli. Yang ia tahu hanyalah satu: ia harus menemukan Reno.
"Nay! Tunggu!" Hans berteriak sambil berusaha mengejarnya, tubuhnya ikut basah kuyup. Cua, dengan napas tersengal, berlari di belakang, berulang kali hampir terjatuh di tanah becek. "Jangan seperti ini!"
Namun Naya tak menghiraukan. Tangannya gemetar, dadanya sesak, matanya nanar menatap deretan nisan yang berjajar seperti barisan sunyi. Ia terus berlari, berbelok, menyapu setiap nama di batu nisan dengan tatapan penuh panik.
"Reno ..." bisiknya, tersendat di antara tangis dan hujan.
Sampai langkahnya terhenti.
Di hadapannya, sebuah makam yang masih baru, tanahnya masih gembur, bunga taburannya masih segar, sebagian kelopaknya ikut tersapu air hujan. Batu nisannya putih bersih, seakan baru dipasang kemarin. Naya menatapnya dengan pandangan kabur, tubuhnya bergetar hebat.
Di sana, tertera dengan jelas:
Reno Pratama
Sejenak dunia berhenti. Hujan yang mengguyur deras seakan tak terdengar lagi. Nafas Naya tercekat, tubuhnya melemas.
Tidak. Ini tidak mungkin.
"Tidak ..." suaranya pecah, keluar dari tenggorokannya seperti rintihan. "Tidak mungkin ... Reno ... tidak mungkin ..."
Air matanya bercampur dengan derasnya hujan. Dengan lutut lemas, ia jatuh berlutut di depan nisan itu. Tangannya terulur, menyentuh batu dingin yang memantulkan kilau air hujan.
Hans berdiri tak jauh, wajahnya menegang, matanya ikut memerah menahan haru. Cua mendekat, mencoba memeluk bahu Naya yang terguncang hebat.
Namun Naya menghempaskan pelukan itu. Ia merangkul nisan Reno, memeluknya erat seolah bisa menembus batu, seolah Reno masih bisa ia peluk sekali lagi. Tangisnya pecah, melawan derasnya hujan.
"Reno!! Kenapa kamu begini?!" jeritnya parau, menggema di antara nisan-nisan yang diam membisu. "Aku berbohong … kenapa jadi seperti ini …"
Tangis itu pecah, disertai gemuruh hujan yang menjadi saksi. Cua dan Hans hanya bisa berdiri di samping, tak sanggup berkata-kata.
Lima tahun kemudian
Di pinggir pekuburan, sebuah kafe mungil bernama Young menjadi persinggahan para pejalan yang ingin bernafas teduh, sekadar menyesap minuman dingin, atau lari dari murka cahaya siang.
Naya, kini gadis dewasa berusia 28 tahun, melangkah ke dalam kafe itu. Rambutnya yang panjang dikuncir sederhana, wajahnya memancarkan keteguhan, meski di dasar matanya tersimpan bayangan-bayangan luka lama. Tangannya menggenggam secangkir kopi hitam—americano yang selalu ia pesan.
"Pak Hans ada?" tanyanya kepada kasir.
"Beliau di ruangannya, Kak." ujar Putri, kasir muda itu. Namun belum sempat Naya melangkah, seorang pria sebaya dengannya muncul dari balik pintu.
"Ah, itu beliau," kata Putri sambil menunjuk.
Hans melangkah keluar, wajahnya teduh, senyumnya ringan. "Gue udah menunggumu, Nay." Ia mengajaknya menuju meja paling ujung, jauh dari keramaian. Mereka duduk berhadapan.
"Tahun ini matamu tidak lagi merah. Lo sudah tak patah hati lagi, bukan, saat mengunjunginya?" tanya Hans lembut, seolah menyelami rahasia yang hanya mereka berdua tahu.
"Ah, bisa saja lo." Naya tersenyum samar.
Hans menyeringai nakal. "Gue denger kabar viral—sepertinya omset butik sedang meledak, ya?"
Naya menghela napas, menyesap kopi yang belum sempat mendingin. "Benar, sampai-sampai gue kewalahan."
"Tapi tetap aneh, bagaimana mungkin perusahaan besar justru menjiplak karya butik kecil?" Hans mengernyit heran.
"Mereka kehilangan ide kali. Dan jalan pintas, ya … njiplak."
Keduanya tertawa bersamaan, lepas sejenak dari kepenatan dunia. Namun keakraban itu terhenti.
Drrttt ... drrrtttt ...
Ponsel Naya bergetar. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat sejenak pada Hans.
"Halo, Cua. Ada apa?"
"Nay! Cepat ke butik. Masalah besar! Orang dari Indo Putra Fashion datang. Kita dituduh menjiplak desain—bahkan memproduksi barang KW!" suara Cua panik, terbata.
Jantung Naya berdegup kencang. Ia bangkit, hampir menumpahkan kopi. "Hans, maaf. Kita lanjutkan lain waktu."
Hans menepuk pundaknya, tersenyum menenangkan. "Pergilah. Semoga semua baik-baik saja."
Namun langkah Naya terburu-buru, terlalu cepat hingga—
BUG!
Ia menabrak seorang pria. Jas mahal pria itu ternodai tumpahan kopi. Wajahnya rupawan, tegas, aura kekuasaan memancar dari sorot matanya.