SPOILER
"Bagaimana rasanya diselingkuhi?" Rey menambahkan, setiap kata keluar bagai pisau yang menusuk perlahan, sengaja menyakiti, sengaja menekan luka yang sudah ada.
Naya menggeleng dengan wajah penuh luka, tapi suaranya keluar tegas, hampir bergetar karena menahan air mata. "Aku tidak pernah berselingkuh! Apa yang kamu tahu tidak seperti itu kenyataannya!"
Kata-katanya pecah di udara, membawa serta semua sakit yang dipendamnya selama ini.
"Jadi, KENAPA KAU MEMBAWA LAKI-LAKI BRENG*SEK ITU!" teriak Rey, suaranya pecah seperti ledakan yang mengguncang seluruh ruang tamu.
Naya menatapnya, matanya berapi, d**a berguncang hebat. "Sepertinya percuma berdebat denganmu, YANG HATINYA SUDAH MATI!" Balasnya, suaranya melengking, nyaris memecah kesunyian rumah besar itu.
Rey, terbakar amarah, mencengkeram lengan Naya dengan kuat. Nyeri tajam menjalar ke seluruh lengannya, tapi Naya tetap menatapnya.
"Apa kau tidur dengannya? SELAMA INI KAU TIDUR DENGAN NYA BUKAN?!" teriak Rey, suaranya penuh tuduhan dan dendam yang menggumpal dalam d**a.
Naya merasakan bulir air mata mengalir di pipi, suaranya bergetar keras, hampir patah. "Apa di matamu aku wanita seperti itu?"
Rey mendengus, matanya menyala dengan amarah, dan tanpa sadar kata-kata yang keluar semakin kejam. "IYA! KAU SAMA HAL NYA DENGAN IBUMU, DASAR PELA*CUR!"
Seakan tak mampu menahan ledakan hati, "PLAK!!!" Tamparan keras mendarat di pipi Rey, mengguncang seisi ruangan.
Hati Naya terasa remuk mendengar penghinaan yang dilontarkan oleh orang yang paling ia cintai—orang yang telah memberinya seorang anak yang kini tumbuh di rahimnya.
****
BAB 1
Di layar ponsel Reno, terpampang beberapa foto telanjang Naya, tubuhnya dipeluk seorang pria di atas ranjang-Richard William nama pria itu.
Naya membeku melihat gambar itu disodorkan depan mukanya. Tubuhnya gemetar, wajahnya memucat seketika. Air matanya hampir jatuh saat ia melihat gambarnya sendiri, begitu nyata, begitu telanjang, begitu menghancurkan.
"Bilang kalau ini bohong! bilang ini rekayasa! Katakan padaku semua ini palsu! ini foto editan bukan? Nay!" Reno berteriak, suaranya bergetar di antara amarah dan rasa percaya yang masih berupaya dipertahankan.
Naya menutup mulutnya dengan tangan. Ingatannya tiba-tiba melayang ke percakapan dengan Pak Anwar:
"Kalau kamu tidak bisa mengatakan putus pada Tuan Reno, saya akan melakukan dengan cara saya. Dan kamu tinggal menjalankan peranmu."
Darahnya terasa dingin. Saat itu juga Naya mengerti-semua yang terjadi malam itu bukan kebetulan. Semua ini adalah jebakan. Dan sekarang ... peran itu harus ia jalankan.
Air matanya luruh, tapi ia cepat menghapusnya. Naya mengangkat wajah, memaksa diri menatap Reno dengan dingin.
"Aku ... aku memang bersama dia, aku tidur dengannya," ucapnya dengan suara parau, tapi tegas. "Aku sudah tidak cinta, kita putus saja Ren."
Reno terpaku. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya dalam-dalam.
"Kau bohong!" bisik Reno, suaranya hancur. "Aku tahu kau bohong!"
Naya tersenyum getir, padahal hatinya sendiri sedang hancur berkeping-keping. "Tidak, Ren. Aku menyukainya, dia lebih perhatian dan romantis."
Reno mundur selangkah, ponselnya hampir terlepas dari genggamannya. Matanya memerah, rahangnya mengeras, mencoba menahan perasaan yang berkecamuk. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi tubuhnya terlalu lemah menahan kecewa.
Tanpa kata lagi, Reno berbalik, melangkah keluar dengan tergesa, membanting pintu kos dengan keras.
Begitu Reno pergi, Naya jatuh terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Aku minta maaf, Reno ..." bisiknya lirih, suaranya patah. "Aku tidak punya pilihan ..."
****
Reno menginjakkan kakinya di rumah dengan langkah terburu, pintu dibanting hingga menimbulkan gema di seluruh ruangan. Napasnya masih memburu, wajahnya penuh amarah bercampur luka.
Tanpa melepas jaket, ia langsung menuju sebuah ruangan di sudut rumah-studio kecil yang selalu menjadi tempatnya menemukan ketenangan. Tapi kali ini, studio itu justru menjadi saksi dari amarahnya yang tak terbendung.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah kanvas besar. Potret Naya yang belum selesai, mata lembutnya yang hampir rampung ia lukis, senyum samar yang perlahan ia abadikan dengan tiap goresan kuas.
Reno terdiam sejenak, menatap lukisan itu. Matanya memerah. Hatinya berteriak. Gambar itu seolah mengejeknya, mengingatkannya pada cinta yang kini telah ternodai.
"Kenapa, Nay ... kenapa kau tiba-tiba begini?!" teriaknya pecah.
Dengan tinju bergetar, Reno menghantam kanvas itu. Sekali. Dua kali. Sampai cat basah terpercik ke tangannya. Kanvas besar itu oleng, lalu jatuh menimpa lantai, suaranya menggema keras.
"BRENG*SEK!!" teriaknya lagi, suaranya parau, hampir histeris.
Reno terhuyung, jatuh berlutut di tengah kekacauan, dadanya naik-turun menahan sesak. Air mata akhirnya tumpah, meski ia mencoba menyangkalnya dengan tarikan napas kasar.
Tangannya yang berlumur cat dan bergetar itu merogoh saku. Ia meraih ponselnya, lalu menekan kontak Rey, kakaknya, dengan gerakan yang terasa sangat berat.
"Kapan balik Indonesia?" suara Reno terdengar di seberang, berat dan serak, berbeda dari biasanya.
Rey mengerutkan kening. "Tumben lo nanyain. Kalau urusan di sini lancar, empat hari lagi balik."
Ada jeda sunyi, hanya terdengar desah napas Reno. Lalu suara itu kembali terdengar, lirih namun penuh beban.
"Gue ingin ngajak lo minum."
Rey terkejut, alisnya terangkat. "Minum? Sejak kapan lo jadi peminum, Ren?"
"Gue baru mau coba," sahut Reno dengan nada lesu. "Katanya ... itu bisa membuat orang melupakan masalah."
Kening Rey berkerut semakin dalam. "Ada apa, Ren? Lo sedang ada masalah?"
Sejenak hening, lalu suara Reno terdengar pecah, seolah ada sesuatu yang ia tahan lama.
"Sepertinya begitu ... Rey, apa lo pernah patah hati?"
Rey terkesiap. Ia tahu betul, Reno jarang sekali terbuka soal perasaan. Suara yang ia dengar malam itu bukan hanya suara adik, tapi suara seorang anak lelaki yang sedang hancur.
"Kayaknya ada yang sedang putus cinta nih ... apa benar begitu?" tanya Rey, mencoba menghangatkan suasana.
"Begitulah, pacar gue selingkuh, dia tidur dengan cowok lain ..." suara Reno merendah, hampir bergetar. "Kalau sudah balik, kita ketemu segera, Rey. ajari gue minum."
Suara Reno di kata-kata terakhir itu bergetar parah, menusuk Rey yang saat itu berada di Amerika. Rey, yang hanya bisa mendengar suara adiknya, merasakan ketidakberdayaan yang menyesakkan.
Rey menutup mata, hatinya tercekat. "Oke, gue akan ajarin cara minum yang benar."
Rey menghela napas, panjang dan berat. Ia mencoba menahan emosi agar suaranya terdengar tenang. “Dengar, Lo tunggu gue. Nanti gue yang akan ajarin lo cara minum yang benar, gue ajarin juga cara lupain tu cewek.”
Setelah percakapan singkat di telepon, perlahan ia bangkit dengan langkah gontai. Perlahan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata, berharap tidur lelapnya akan menyembuhkan luka hatinya.
****
Dua hari berselang, Reno masih saja mengurung diri di dalam rumahnya, langkah kakinya hanya terukir antara ruang studio dan kamar tidur, dua tempat itulah yang ia jadikan tempat pengalihan gejolak hatinya, bolak-balik.
Reno mencoba bangkit dengan melukis, namun bayangan gadis yang ia cintai selalu muncul, amarah nya kembali meledak, ia mulai mengamuk acak, peralatan lukisnya ia tendang sekenanya hingga tercecer disembarang arah, napasnya ngos-ngosan, tenggorokan nya terasa tercekat.
Reno berjalan ke sudut ruangan, membuka kulkas kecil yang biasanya hanya ia isi dengan air mineral, namun matanya menatap beberapa minuman beralkohol yang ditinggal kan teman sesama seniman ketika berkunjung. Reno tak pernah mimum, namun kali ini, tangannya meraih botol yang tak pernah ia sentuh sebelumnya.
Dengan gemetar, ia membuka tutupnya, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Cairan berwarna cokelat itu berputar di dalam kaca bening, tanpa pikir panjang, ia menenggak isi gelas itu. Panasnya membakar kerongkongan, tapi rasa perih di dadanya tak juga hilang. Ia menuang lagi, menenggak lagi, hingga meja penuh dengan noda whiskey yang tumpah.
Di dinding, beberapa lukisan lain-pemandangan, abstrak, dan potret dirinya bersama Naya dalam bingkai foto kecil-seakan menatapnya, menilai kejatuhannya. Reno semakin gelisah, ia bangkit lalu melempar gelas ke dinding, pecahannya berhamburan.
"Semua ini sia-sia!" teriaknya parau.
Alkohol yang ia teguk tak cukup membuatnya berhenti memikirkan Naya, ia berjalan kembali ke kamarnya dan berjalan menuju sebuah meja, membuka laci bagian atas, diraihnya sebuah botol obat, obat tidur yang sudah lama tidak pernah ia konsumsi lagi, bahkan ketika ia mengambilnya mungkin obat tersebut sudah memasuki masa kadaluarsa.
Tanpa pikir panjang, ia menelan butiran pil tanpa ukuran, dituangnya pil itu ke mulutnya, untuk membuat pil-pil itu mudah lolos meluncur ke tenggorokan, Reno meneguk cairan minuman keras yang sejak tadi ia genggam.
Air matanya kembali tumpah, bercampur dengan aroma alkohol yang menusuk. Tubuhnya goyah, kepalanya semakin berat.
Dalam mabuk dan luka itu, Reno akhirnya tergeletak di lantai kamarnya yang dingin, di antara botol minuman, sisa obat yang terhambur dan kenangan tentang Naya yang terus menghantuinya.
****
Keesokan harinya …
Pintu kamar Reno berderit terbuka. Seorang asisten rumah tangga keluarga Reno masuk dengan ragu, membawa alat kebersihan. Begitu melihat keadaan kamar, langkahnya terhenti.
"Ya Tuhan ..." bisiknya, kaget melihat Reno tergeletak di lantai.
Tubuh Reno membujur di lantai, wajahnya pucat, bibirnya berbuih. Di sampingnya berserakan botol minuman keras dan obat tidur yang sudah kosong, sisa-sisa pilnya telah terhambur. Aroma menyengat alkohol bercampur obat begitu tajam menusuk hidung.
Asisten itu panik, alat kebersihan jatuh hingga berantakan. Ia segera berlari keluar ruangan mencari pertolongan. Namun tak ada orang disekitar, kemudian asisten rumah tangga itu menelpon pak Anwar.
Tak lama, suasana rumah Reno menjadi gaduh. Pak Anwar bersama beberapa orang suruhan keluarga Reno segera masuk ke studio. Dengan wajah dingin tapi panik terselubung, ia berjongkok memeriksa denyut nadi Reno.
"Dia masih hidup ... cepat bawa ke rumah sakit!" perintahnya keras.
Beberapa orang segera mengangkat tubuh Reno yang lemas tak berdaya. Kepala Reno terkulai, rambutnya berantakan, dan di sela-sela bibirnya masih ada sisa buih putih akibat overdosis.
Pak Anwar menatap sekeliling ruangan berantakan itu lukisan-lukisan hancur, potret Naya yang tergeletak di lantai, dan botol minuman keras berserakan. Pandangannya mengeras, lalu ia menghela napas panjang.
"Kenapa malah jadi begini." ucapnya lirih, penuh nada penyesalan.
Reno dibawa keluar dengan terburu-buru, sementara studio itu ditinggalkan dalam keadaan kacau, seakan menjadi saksi bisu kejatuhan seorang pemuda yang patah hati.