Gumpalan asap bakaran tembakau berputar-putar di depan lukisan yang menampilkan seorang wanita berambut emas, berkulit cerah, dan tersenyum riang yang berbalut gaun putih longgar. Seorang pria gagah rupawan berdiri di hadapan lukisan mendiang istrinya. Tatapan bengisnya tertancap pada mata bulat, hidung mungil lembut, dan bibir semerah mawar yang terlukis di kanvas. Bibir Claude melingkar di ujung cerutu yang tumpul. Dia mengisapnya seperti perokok ulung dan mengepulkan asap yang lebih tebal lagi ke karya indah itu. Kata-kata si kepar*t telah berputar-putar dalam benaknya bagai makian orang gila yang mengamuk. Suara memuakkan itu menggelegar di telinganya, mengentak dalam kepala bak gajah liar... Selama berminggu-minggu. Murka membara menggelapkan mata abu-abunya. Urat marah menonjol

