Suara detik jam yang terasa semakin jelas, tangan yang di genggam erat dengan begitu hangat, hingga kemudian sebuah cahaya menyilaukan membuatku mengedipkan mataku beberapa kali. Aku bangun, di sampingku ada mas Rein yang terlihat lelah tidur dengan menyandarkan wajahnya di pinggiran kasurku. Lehernya pasti sakit jika terus seperti ini. Aku menoleh ke arah jam dinding, rupanya menjelang pagi. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi pantas saja semua orang tertidur. Argan terlihat tidur di sofa, mamah dan papah sepertinya sedang pulang karena hanya dua laki-laki ini yang terlihat mataku. Tanganku lumayan kesemutan karena terus di genggam erat oleh mas Rein. Aku menarik pelan sekali dari genggamannya agar dia tidak terbangun tapi matanya sudah terbuka padahal aku baru menggerakkan sedikit tan