Menjadi Tawanan sang Penguasa
“Tidak, Ayah. Aku tidak akan menerima permintaan gila ini.” Iris Eveline Vance menatap tajam pada Brian, ayahnya yang duduk tegak di depannya.
“Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita, Iris!” Suara Brian tenang namun mampu membuat udara di ruang keluarga mereka menyempit.
“Aku tidak peduli. Kenapa bukan Lora? Dia juga putrimu, Ayah.” Iris beralih tatap pada adiknya yang langsung berlindung di punggung sang ibu, seolah Iris adalah monster.
“Jaga sikapmu! Tega sekali kau ingin menumbalkan Lora. Dia masih muda, masih ingin mengejar mimpinya,” bentak Sabrina, ibu tiri Iris.
“Jadi menurutmu, dengan menukarku akan menjamin masa depan putrimu cerah?” Iris melemparkan senyum penuh duri.
“Jangan membantah! Tuan Caspian hanya menginginkan dirimu.” Brian menatap anaknya cukup lama kemudian beranjak dari sana, seolah ucapannya adalah titah yang tidak bisa diganggu gugat.
Tapi Iris tidak tinggal diam. Ia mengejar langkah ayahnya “Caspian memiliki enam istri, Ayah. Dan sekarang... Ayah ingin menjualku padanya?”
Plak!
Tamparan keras yang dilemparkan ke pipi Iris, membuat telinganya berdengung dan kepalanya tersentak ke samping.
“Ingat, sekali lagi kau membantah, aku akan memotong lidahmu!” telunjuk Brian mengarah tepat pada wajah Iris.
“Potong saja, Ayah. Lebih baik aku mati daripada harus menjadi p*****r pribadi Caspian!”
Sabrina menyunggingkan senyum merendahkan. “Harusnya kau tahu cara berterima kasih, Iris. Kami sudah membesarkanmu bahkan rela menampungmu di sini, padahal kau sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri,”
Iris menggertakkan gigi. Pipi dan hatinya masih panas akibat perlakuan sang ayah, dan sekarang wanita itu malah menghinanya.
“Kau dan putrimu yang seharusnya berterima kasih. Kalian dipungut oleh ayahku hanya karena aku ingin berteman dengan Lora. Nyatanya, kau seekor ular, Sabrina. Kau membunuh ibuku agar bisa...”
“Iris!!” suara Brian memenuhi ruangan.
Dad4 Iris berdenyut nyeri, naik-turun dengan cepat. Terlihat, Lora yang kini memberi senyum penuh kemenangan padanya.
“Lebih baik Ayah membunuhku saja.” Iris kembali menatap Brian. Matanya merah berair, menunjukkan betapa hancur perasaannya karena sang ayah justru membela dua wanita asing itu.
“Kalau kau mati, siapa yang akan melunasi hutang ayahmu?” sambar Sabrina tanpa tahu malu. Agaknya ia sengaja membuat Iris merasa direndahkan.
Iris tertawa kecut tatkala air matanya membanjiri pipi. “Kenapa bukan dirimu saja? Bukankah kau sudah ahli menjual diri pada pria kaya?” balas Iris sengit. Meski ia terluka, bukan berarti ia akan diam ketika ditindas.
Sekali lagi Brian hendak melayangkan tangan, namun Iris dengan berani menunjuk pipinya sendiri. “Tampar lagi, Ayah! Tampar!”
Tangan Brian terkepal gemetar. Ada rasa bersalah di matanya melihat tangis Iris, tapi ambisinya sebagai pebisnis jauh lebih besar dari sekadar rasa kasihan.
Iris membuang napas kasar. Ia menatap Sabrina dan ayahnya bergantian, kemudian berlari menapaki anak tangga.
Dia tidak ingin menjadi koleksi ketujuh Caspian. Sejak awal, Iris sangat membenci pria itu.
Dengan tergesa, Iris meraih pakaian dari lemari dan memasukkannya ke koper. Ia bergerak cepat mencari beberapa dokumen penting.
“Aku harus pergi sebelum terlambat,” ujarnya pada diri sendiri, sambil memaksa tangannya agar bergerak lebih cepat.
Namun, di tengah kesibukannya mengepak barang, suara klakson mobil dari halaman depan memecah keheningan. Jantung Iris berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri yang menyesakkan d4da. Ia bergegas menyibak tirai jendela kamarnya.
Iris membeku. Di bawah sana, segerombolan pria berjas hitam berdiri siaga dengan tubuh tegap.
Di depan mereka, berdiri seorang wanita berusia matang yang mengenakan setelan jas putih tulang. Wanita itu terlihat jauh lebih mengintimidasi daripada para pria bersenjata di sekelilingnya.
Iris mundur selangkah saat wanita itu mendongak dan tak sengaja menatap ke arah jendela kamarnya.
Tangannya terangkat menutup mulutnya yang mendadak kelu. Ia terlambat. Tidak ada lagi celah untuk kabur bahkan dari rumah ayahnya sendiri.
“Bagaimana ini?” desis Iris kalut.
Di halaman, empat pengawal berjaga di setiap sudut, sementara sisanya melangkah masuk mengikuti wanita tadi.
Seluruh tubuh Iris gemetar hebat. Ia tahu siapa Caspian. Pria itu adalah penguasa dunia gelap yang sanggup membuat pemerintahan tunduk, sekaligus kolektor wanita yang tak punya belas kasihan.
Ia bukan manusia, ia titisan iblis.
“Kenapa Ayah tega menukarku dengan uang?” lirihnya di sela tangis yang tertahan.
Pandangan Iris terjatuh pada sebuah foto di atas nakas. Hanya itu satu-satunya harta yang ingin ia bawa. Dengan ujung jari gemetar, ia meraih potret ibunya dan membawanya ke dalam dekapan yang pilu.
“Ibu... aku ingin ikut denganmu,” ujarnya putus asa.
Tok! Tok! Tok!!
Iris tersentak. Ia segera menghapus air mata dan mengeratkan pelukannya pada foto itu.
“Nona Iris. Saya tahu Anda di dalam. Bukalah, sebelum kami terpaksa merusak pintu ini.” Suara itu terdengar asing, dingin, dan penuh otoritas. Jelas bukan suara pelayan rumahnya.
Iris menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Sosok wanita berjas putih itu berdiri tegak di depannya. Ia memberikan senyum tipis sementara sorot matanya tajam seolah sedang menilai kelayakan sebuah barang.
“Silakan,” ujar wanita itu sambil memberi isyarat tangan agar Iris keluar.
“Tidak!” tegas Iris. Ia berdiri kaku, mencoba membalas tatapan wanita di depannya. “Aku tidak akan ikut denganmu.”
Bukannya marah, wanita bernama Diana itu justru tersenyum misterius. “Transaksi Anda sudah lunas, Nona Iris. Anda bukan lagi milik keluarga ini.”
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Aku bukan barang yang bisa dibayar lunas!” Iris menegakkan bahunya, membalas tatapan Diana.
Diana hanya memalingkan wajah pada dua pengawal di belakangnya. Sebuah kode kecil yang langsung dipahami.
“Jangan sentuh aku!” peringat Iris ketika dua pria itu hendak memegang lengannya.
Diana mengangguk pada pengawalnya. “Kalau begitu, kau sudah paham.” Kembali ia memberi senyum yang terlihat menyebalkan.
Iris menarik napas dalam. Belum juga melangkah, Sabrina mendekat lalu meraih foto ibunya.
“Kau tidak membutuhkan sampah ini, Iris.” Tanpa ragu, Sabrina meletakkan benda itu pada lantai, menendangnya hingga terlempar jauh ke dalam kolong sofa.
Iris membeku. Pandangannya mengikuti benda itu, lalu kembali pada Sabrina. “Siapa yang kau sebut sampah? Apa kau kurang menyadari diri, Sabrina? Kau bahkan lebih menjijikkan dari segunung sampah sekalipun,”
Sabrina hendak bertindak lagi, namun satu tatapan Diana menghentikannya. “Dia sudah menjadi milik Tuan Caspian. Ingat, jangan berani menyentuhnya seujung kuku pun atau kau akan tahu akibatnya.”
Sabrina menunduk. “Maafkan aku, Diana,”
Iris tersenyum kecut. Lihatlah, wanita picik itu berubah jinak ketika dikendalikan dengan uang.
Brian tak bereaksi saat ia menyaksikan sang istri menghancurkan kenangan terakhir putrinya. Hanya kedua tangannya yang terkepal, disertai tatapan pilu.
Dan bagi Iris, penyesalan yang terpancar dari mata ayahnya tidak berarti apa-apa lagi. Tak ubahnya sang ayah dan ibu tirinya itu. Sekumpulan manusia rendahan yang tunduk pada kekuasaan dan uang.
“Silakan, Nona Iris.” Diana kembali mempersilakan.
Iris mengangkat tinggi dagunya, melewati sang ayah dengan hati hancur namun sekuat mungkin ia memaksa diri terlihat tegar.
Sabrina tertawa mengejek. Ia tahu Iris tidak akan bisa berbuat apa-apa setelah masuk ke paviliun itu. Pengawasan di sana lebih menyesakkan dibanding penjara para pembunuh sekali pun.
Iris pergi meninggalkan rumah masa kecilnya. Rumah yang menyimpan sisa-sisa kenangan tentang ibunya.
Air matanya jatuh dalam diam saat mobil mewah itu mulai bergerak meninggalkan halaman. Ia tidak lagi menangisi ayahnya, ia menangisi nasibnya sendiri.
Detik itu, Iris menyadari satu kenyataan pahit. Terlahir sebagai putri dari pria seperti Brian Vance adalah kutukan paling sial dalam hidupnya.
___oOo___
Satu setengah jam yang dilalui dengan berbagai tanya namun justru semakin menambah luka dalam hati Iris.
Tanpa terasa, mobil itu berhenti tepat pada pelataran mansion yang megah.
Wajah Iris terangkat. Ia menatap tajam pada sosok pria yang sedang berdiri di ambang pintu. Caspian Harrison menatap puas pada Iris yang kini akan menjadi salah satu penghuni paviliun haremnya.
Iris dibawa tepat ke hadapan Caspian. Mereka saling tatap. Tubuh Iris gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena hasrat yang menggebu untuk membunuh pria di depannya itu.
“Selamat datang, Iris. Akhirnya kau bergabung juga dengan kehidupanku,” sambut Caspian sambil membuka kedua tangannya lebar, seolah Iris adalah tamu kehormatan yang ia tunggu-tunggu.
Lalu, ia mencengkeram dagu Iris. “Kau terlihat berantakan. Tidak seperti biasanya,” kata Caspian dengan nada mengejek. Ia tahu, Iris adalah wanita elegan dan terpelajar.
Melihat kehancuran gadis angkuh itu, membuat Caspian merasa menang akan hidup Iris.
Diana mendekat dengan langkah tenang. “Maaf Tuan, sepertinya Nona Iris sempat bertengkar dengan ayahnya.”
Caspian membuang wajah Iris dengan kasar. “Bawa dia ke Harem,”
Diana menunduk. Hendak menyentuh lengan Iris namun lagi-lagi, ia tak ingin disentuh.
Melihat itu, Caspian menyeringai tipis. “Bahkan ketika telah dibayar pun kau masih bersikap angkuh,”
Iris menghela napas berat. Ingin rasanya ia meludahi pria yang terlihat menjijikkan itu.
Tak ada kata yang terucap. Iris tetap bersikap tegar, mempertahankan sisa harga dirinya.
“Ikuti saya!” kata Diana, mendahului langkah Iris.
Caspian mengikuti langkah Iris dengan pandangannya.
Gadis populer di kampus yang menolak cintanya lima tahun lalu itu, kini berada dalam kendalinya.
Pria itu tidak membutuhkan cinta lagi. Ia ingin menghancurkan Iris dalam setiap detik hidupnya.
“Dunia memang tidak akan bisa melukaimu, Iris. Aku melindungimu dari mereka, tapi tidak ada satu orang pun yang bisa melindungimu dariku!”