Tasya dan Damar segera berlari ke ruang keluarga. Kekhawatiran tergambar jelas pada raut wajah mereka berdua. Tasya dan Damar tidak tahu suara benda jatuh itu apa, tapi mereka ingat ayah Tasya sedang berada di ruang keluarga sekarang. Tasya dan Damar membelalakkan mata saat tiba di ruang keluarga. Mereka melihat ayah Tasya terbaring di karpet sambil memegang tubuh bagian depannya. “Ayah,” pekik Tasya, segera berlari mendekati ayahnya. Dia berjongkok di sebelah sang ayah yang terlihat kesakitan. “Ayah kenapa?” tanyanya panik. Ayah Tasya tidak menjawab. Matanya setengah terpejam sambil meringis kesakitan. Kedua tangan ayah Tasya memegang bagian dadanya. “Ayah.” Tasya sedikit mengguncang tubuh ayahnya. Dia sangat cemas karena sang ayah tidak menjawab pertanyaannya. “Sebaiknya kita b