Tara menggeleng beberapa kali memperhatikan pria yang sebelumnya menemani Zahra, berjalan keluar dari ruang rawat. Berdecak, gadis itu membuka kantong plastik yang ia tenteng dari kantin rumah sakit seraya memutar kepala. “Apa dia mengancam mbak Zahra?” tanya Tara sambil mengeluarkan paper cup berisi kopi yang ia beli. “Hah?” Tara mengangkat kepala hingga tatapannya bertemu dengan netra Zahra. “Sepertinya mas Naka benar. Dia bukan orang baik. Iya, kan?" Tara mendesah. "Hampir saja.” Tara mengetok kepalanya sendiri dengan satu tangan yang bebas. “Bod*h. Kenapa aku tidak bisa melihat gelagat jahat laki-laki itu? Aku kira dia beneran teman mbak Zahra. Orang baik. Untung saja mas Naka peka. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menyelamatkan mbak Zahra," oceh panjang gadis itu, menyesali keti