Sore ini Elis, mama Beryl, datang ke apartemen anak tertampannya. Sudah biasa saat merasa suntuk di rumah dia akan pergi berjalan-jalan atau datang berkujung menemui anaknya. Karena kakak Beryl sudah menikah jadilah sekarang hanya Beryl yang menjadi prioritasnya setelah suami tentunya.
“Mbak, tolong hangatin makanan ini. Biar nanti kalau si Beryl pulang bisa langsung makan bareng.” ujarnya pada asisten rumah tangga yang dia perintahkan dua hari sekali datang ke apartemen Beryl. Entah untuk bersih-bersih atau memantau persediaan bahan makanan di kulkas.
Elis seperti biasa masuk tanpa perlu mengetuk pintu. Tatapannya sedikit memincing saat telingannya mendengar suara orang bercakap-capak dari kamar tamu. Biasanya juga kamar ini yang Elis pergunakan untuk beristirahat pada saat menunggu kepulangan sang putra.
“Iya, mbak. Sayang banget emang kalau sampai mereka bercerai. Aku juga penggemar pasangan itu soalnya.” Terdengar suara perempuan tengah membahas sesuatu.
“Tapi Song Joong Ki sekarang udah main di drama baru, mbak.” jawab salah satu perempuan. Jelas kalau begini jiwa-jiwa emak sudah meronta-ronta. Pergibhan telah dimulai.
“Iya. Aku juga nonton tuh. Vincenzo, kan?” katanya lagi.
Apa yang tengah mereka bicarakan sebenarnya?! tanya mama Elis mulai bertanya-tanya.
“Loh, sampean juga nonton, mbak?” Nah, tepat sekali dugaan Elis. Ini jawaban emak-emak kalau ngomongin orang
Suara kikikan tawa khas perempuan mengghibah sangat mendominasi isi kamar. Elis mulai berpikiran aneh-aneh. Tidak mungkin Beryl berani menyembunyikan perempuan di apartemennya sementara anaknya itu mempunyai kekasih yang pernah dibawa pulang ke rumah.
Elis menggeleng cepat. Meski Ezra, sang suami dulunya fuckboyy tapi sikap Beryl tentu tidak boleh menuruni papanya lah. Elis sudah menjaga dan mendidiknya dengan baik. Agar jangan sampai jiwa-jiwa buaya darat tumbuh pada diri Beryl. Elis harus mencari tahu sendiri. Mencegah lebih baik daripada berdiam diri.
Ceklek…
Suara pintu terbuka dan Elis muncul dengan wajah garangnya. Sementara dua orang yang berada di dalam hampir berteriak saking terkejutnya melihat kedatangan Elis.
“Tante…” Isabella cukup kaget saat mama Beryl datang. Juga sepertinya dia tidak dalam suasana hati baik. Wajahnya menyeramkan.
Elis sama terkejutnya, “Loh…Isabella??!”
Dua puluh menit dua perempuan ini bercengkerama. Yang awalnya mama Elis ingin marah langsung sirna sudah saat melihat keadaan Isabella.
“Tapi kamu beneran udah nggak papa, kan, sayang?” Elis memperhatikan baik-baik kaki kanan Isabella yang diperban. Dia sempat meringis membayangkan soal sakit yang dialami Isabella.
Isabella senang atas kehadiran mama Beryl. Setidaknya perempuan ini bersikap sangat perhatian layaknya ibunya sendiri. Kalau begini ceritanya Isabella menjadi rindu mamanya. Tapi kehidupan harus tetap berlanjut, Isabella tidak boleh larut dalam kesedihan terus menerus. Mamanya, di surga pasti tidak akan senang melihatnya terus meratapi nasib.
“Aku udah baikan kok, tante. Besok sudah bisa pulang. Nggak enak disini merepotkan Beryl terus.” Isabella jadi merasa dia beban disini.
“Aduhhh… di rumah kamu nggak ada yang jagain. Lebih baik tinggal disini saja. Toh kalian juga berpacaran toh. Nggak apa-apa saling membantu satu sama lain disaat membutuhkan. Itu akan sangat mengokohkan hubungan loh.”
“Tante dulu ketika pacaran sama Om Ezra juga gitu. Dia pernah kecelakaan dan tante harus wira wiri ke apartemennya buat ngingetin dia minum obat. Apalagi jarak dari kos tante ke apartemen om Ezra hampir tiga puluh menitan.” Curhatnya dan seketika membuat Isabella meringis malu. Dia ingat awal mula sandiwara hubungan bohongan diantara dirinya dan Beryl. Tidak menyangka akan malah merembet serta dibahas sampai sekarang.
"Pasti Beryl ngamuk-ngamuk nih kalau sampai tau." ujar Isabella dalam hati.
“Pokoknya kamu tetap disini saja. Supaya Beryl bisa memantau kamu. Nanti tante bakalan lebih sering kesini, kok.” ujarnya penuh keriangan.
Astaga, Isabella malah merasa ini akan menjadi sebuah masalah. Terlebih binar bahagia jelas nampak di mata tante Elis. Isabella harus melakukan apa, nih.
“Maa…” Beryl tiba-tiba muncul menghentikan interaksi Isabella dan Elis
Mama Elis menampilkan wajah sumringah, “Kamu keren banget, sayang. Mau merawat Isabella saat dia lagi kesakitan begini.” Tangannya menepuk bahu Beryl penuh kebanggan.
Beryl seketika menatap Isabella penuh selidik, merasa takut juga Isabella akan membeberkan bagaimana ceritanya dia bisa mendapat luka tembak. Itu seharusnya privasi dan jangan sampai diketahui banyak orang.
“Lain kali jangan biarin Isabella naik motor sendirian. Kamu harus antar jemput dia. Jangan sampai kejadian kayak gini terulang lagi. Untung saja cuma luka kecil di kaki Isabella. Kalau luka besar bagaimana, kamu yang nantinya akan menyesal nggak bisa jagain pacarmu.”
Luka kecil apanya. Jelas-jelas Isabella terkena tembakan peluru. Bagaimana bisa dikatakan luka kecil. Apa kedua kalinya Isabella tengah melakukan sandiwara konyolnya. Tapi untuk kali ini setidaknya Beryl berharap memang begitu.
Karena jika Isabella berani mengatakan alasannya. Itu akan membuat sang mama khawatir. Beryl tidak suka melihat mamanya mengkhawatirkan dirinya berlebihan. Bagi Beryl kebahagiaan sang mama adalah nomor satu.
“Baiklah, kalian mengobrol dulu saja. Mama tadi kesini bawa makanan tinggal dihangatin saja. Mama mau bantuin mbak Ning di dapur dulu. Kalian baik-baik ya.” Pamitnya meninggalkan kebisuan di dalam kamar.
Beryl bingung harus memulai kalimat apa. Sedangkan Isabella juga merasa aneh dengan situasi ini.
“Lo udah pulang?” kalimat tak berfaedah yang Isabella lontarkan. Padahal jelas saja, sebelum pergi Beryl sudah sempat mengatakan dia akan pergi berkuliah. Lantas kalau Beryl kembali artinya itu dia sudah selesai. Kenapa sangat bodoh sekali kau ini Isabella?
“Hmm…” gumam Beryl guna menjawab pertanyaan Isabella yang entahlah. Beryl malahan tidak berharap juga ada interaksi diantara dirinya dan Isabella.
Beryl butuh menghindar untuk beberapa waktu. Menjauhkan pikiran suntuk dengan keberadaan Isabella.
Isabella awalnya ingin membuka mulutnya namun tidak jadi akibat dering ponsel Beryl yang begitu nyaring.
“Hallo, manis…” kata pembuka Beryl begitu meletakkan ponsel di telinga.
Lidah Beryl kelu mengucapkan kata barusan. Jujur dia tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi ketika Isabella bisa berbuat seenaknya untuk membahagiakan dirinya sendiri. Lantas kenapa Beryl tidak?
Sejujurnya Beryl tidak bahagia menjawab panggilan masuk dari Aida. Namun bukankah hidup harus terus berjalan?!
Beryl tidak mungkin kalah pada keadaan.
“…”
“Ya. Barusan sampai. Ini mau mandi terus ngerjain proposal yang kita bahas tadi.”
“…”
“Oke. See you too sayang.”
Isabella memalingkan wajahnya. Ada sebersit rasa penasaran tentang siapa perempuan yang menelpon Beryl barusan. Kenapa Beryl memanggilnya manis dan sayang?!
“Huft, jangan mencampuri urusan orang lain, Bella. Fokus saja pada balas dendammu dengan Nando.” batin Isabella menyabarkan diri.
“Bell…” panggil Beryl pelan.
“Ya?” Isabella sangat excited dan mungkin sedang, berharap, lebih.
Atau tidak?
“Gue balik ke kamar ya.” Pamitnya meninggalkan Isabella sendirian
Isabella menghela nafas pasrah. Berapa butir obat yang dia konsumsi hari ini. Kenapa sekarang rasanya Isabella jadi tidak bisa fokus begini.
Siall, Isabella menyesal tidak langsung tidur saja sesuai perintah suster Ratih dan malah mengghibah. Jadilah sekarang Isabella melek tanpa bisa berbuat apa-apa.
Isabella menyesal soal kecerobohannya.
________________________________
Beryl meletakkan ransel dan mengeluarkan laptop beserta casnya. Tangannya sibuk mengolor kabel namun pikirannya kembali pada interaksi dingin yang barusan terjadi diantara dirinya dan Isabella.
“Apa benar yang gue lakukan sekarang?” Beryl bergumam sendiri. Pasalnya rasa tidak nyaman benar-benar menguasai dirinya. Beryl tidak mengerti.
Ting…
Satu notifikasi muncul di ponselnya. Jelas ini adalah pesan masuk dari Aida. Kenapa perempuan itu mengiri pesan.
Aida send a picture.
Mata Beryl menatap foto yang dikirimkan Aida sekilas saja. Aida, maksud Beryl pacar barusnya itu mengirimkan sebuah gambar selfie bersama Beryl tadi siang di kampus. Teman-teman sekelas empat heboh saat mengetahui hubungan mereka. Dan Beryl malahan memilih kabur ke perpus bersama Aida. Jadilah mereka berselfie sembari kencan ala-ala.
Beryl tidak mengetikkan balasan apapun. Dengan segera pergi ke kamar mandi untuk guna membersihkan diri lalu makan malam bersama mamanya.
Tok…tok…
Ezra mengetuk kamar Beryl namun tidak sahutan dari sang putra. Tatapannya langsung teralih pada suara gemericik air dari kamar mandi.
Lalu Ezra malah duduk di meja belajar Beryl dan menatap apa yang ada di depannya. Ada laptop yang tengah di cas, ponsel, tablet, lalu buku-buku tebal, dan berjejer bolpoint warna warni.
Ternyata Beryl benar-benar menuruni kecerdasan Elis. Ezra bersyukur akan itu. Apalagi kalau mengingat soal bagaimana nakalnya dia sewaktu masih kuliah dulu. Namun semua berubah saat Elis mulai hadir di hidupnya. Semua karena cinta.
“Papa…” Beryl cukup kaget menemukan papanya ada di kamar. Karena terlalu sibuk membersihkan diri jadilah dia tidak mendengar saat papanya masuk ke kamar.
Ezra menatap sang putra, lalu memperhatikan Beryl dari jarak dekat. “Kamu udah nggak perjaka, ya?” kalimat pembuka menggoda anaknya yang sepertinya tengah jatuh cinta. Istrinya sudah bercerita semuanya.
“Haaa?!” Beryl melotot kaget. Pasalnya Beryl masih mengenakan handuk sebatas pingang dan papanya tiba-tiba menyodorkan pertanyaan yang membuatnya kebingungan begini.
Ezra geleng-geleng kepala. “Buruan pakai bajumu. Papa mau ngomong.” Perintahnya pada sang anak.
Beryl dengan cepat berganti baju dan segera mendekati papanya. Perasaannya tidak karuan begini. Apakah papa Ezra akan membahas soal Isabella.
Beryl duduk di pinggiran ranjang sementara papa Ezra di kursi dekat meja belajar.
“Isabella tinggal disini?” pembuka pertanyaan yang cukup membuat Beryl kembali tercekat.
Apa sekarang papanya akan melakukan sidang atau bagaimana?
Beryl mengangguk kecil. Kepalanya menunduk menatap kakinya yang masih basah akibat mandi. Tubuhnya baru saja menempel di kasur tapi pertanyaan sudah susah begini, sih.
“Dia kecelakaan?”
Beryl lebih memilih membuat seratus soal untuk diserahkan pada Prof.Warsono besok daripada menjawab pertanyaan yang satu ini.
“Iya…” akhirnya kebohongan itu keluar juga. Tamatlah riwayatmu Beryl,sudah berbohong pada mama sekarang gantian pada papamu.
“Tatap papa, Ber.” Ezra mengatakan santai tapi mimik wajah Beryl jelas terbaca.
Beryl menurut, “Enggak, pa.” akhirnya Beryl berbicara sejujurnya. Beryl tadi belum mengatakan apapun kepada mama. Alasan kecelakaan adalah ide Isabella. Berarti hanya Isabella yang berdusta.
“Lalu?”
“Beryl cuma menolong Isabella karena dia terkena luka tembak saat menghadiri acara di rumah pacarnya.” ujar Beryl.
Ezra mengerutkan kening saat mendengar jawaban anaknya. “Jadi kalian nggak pacaran atau bagaimana?! Apa sudah putus atau bagaimana. Papa nggak mengerti alur percintaanmu.”
“Beryl nggak pernah berpacaran sama Isabella. Kami hanya bersandiwara. Beryl sudah punya pacar, pa. Kami baru jadian beberapa waktu yang lalu.”
“Buat apa kamu membawanya kalau kalian nggak ada hubungan apa-apa?!”
“Dia punya seorang wali, Ber. Nggak selayaknya kamu bersikap berlebihan begini.” Papa Ezra menasehati sang putra.
“Kembalikan dia besok. Papa nggak mau ada masalah setelah ini.” Ezra mulai keras kepala.
“Paaa…” panggil Beryl sedikit frustasi.
Papanya hanya memandangnya datar. Satu alisnya terangkat.
“Beryl selalu menuruti kemauan papa dan mama kan sedari kecil. Beryl belajar dengan giat, ikut privat, masuk organisasi, masuk kampus terbaik.” Pesta Ezra mengiyakan.
Memang Beryl anak yang penurut sampai Ezra tidak mengerti kenapa jiwa-jiwa memberontak tidak ada dalam diri Beryl sedikitpun. Namun Ezra juga tidak pernah marah jika seandainya selama sekolah pun Beryl tidak mendapat predikat yang terbaik. Tidak sama sekali ada pemaksaan.
“Untuk kali ini Beryl nggak bisa buat menuruti permintaan papa.” Beryl menjeda kalimatnya, “Beryl mau menjaga Isabella sampai dia sembuh.”
“Kenapa?” masih dengan wajah datar papanya.
“Beryl udah janji sama Prof.Warsono buat menjaga Isabella. Beryl menyanggupi itu. Dan Beryl nggak mau ingkar janji.”
Ezra berdiri dan berjalan maju mundur. Mulai mengerti situasi anaknya. “Terus, siapa nama pacarmu?”
Beryl mendongak kembali kaget pada pertanyaan papanya. Beryl tetap menjawab, “Aida.”
“Kalau memang ada sesuatu antara kamu dan Isabella. Dan juga belum menemukan titik temu segera cari tahu. Papa mau kamu tegas bahkan soal perasaanmu sendiri, Beryl.”
“Maksud papa?”
“Lebih baik bersama dengan orang yang dicintai meski itu terlambat daripada tidak pernah sama sekali.” kata Ezra.
“Tapi Isabella ada pacar.” Beryl memotong kalimat papanya.
“Seenggaknya akhiri sesuatu yang tidak hatimu inginkan. Semakin lama kamu membohongi dirimu sendiri, semakin dalam dia jatuh cinta kepadamu. Dan saat tiba waktunya nanti luka di hatinya akan menganga...lebih lebar dari yang kita lihat. Karena hanya dia yang merasakan.”
“Dan utarakan sesuatu yang memang pantas dikatakan. Jangan sampai menyesal. Orang lain nggak akan mengerti apapun selain diri sendiri. Benar begitu bukan?” papa Ezra tersenyum hangat.
Hati Beryl sedikit lega. “Beryl hanya butuh waktu.”