Awkward

2004 Kata
“Kenapa disini?” tepat saat Beryl keluar dari mobil sport miliknya. Seseorang berdiri tanpa melunturkan senyuman sedikitpun. Aida berdiri disana dengan wajah berseri. Beryl tidak tahu harus melakukan apa. “Hari ini jadwal ngajar kamu kosong?” Beryl mengingat-ingat jadwal ternyata memang kosong. Apa Aida setidakpunya kerjaan itu sampai harus memantau jadwal mengajarnya terus. “Hmm…iya.” Kepala Beryl mengangguk membenarkan. “Bisa makan siang bareng, nggak?” tanya Aida penuh harap. Sempat juga Beryl menangkap rona merah di pipi pacarnya ini. Apa artinya Aida sedang mengajaknya berkencan. “Bisa.” ujar Beryl memutuskan mengalah dari egonya. Dia memang harus mengakhiri hubungan bersama Aida. Namun perlu situasi dan kondisi yang mendukung bukan?! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Meski Beryl rasanya tidak kuat. “Ke kelas barengan boleh?” Aida kembali bertanya. “Ayo.” kata Beryl mengajak Aida ke kelas bersama. Beryl jadi menyimpulkan bahwa sikap seseorang akan langsung nampak saat menjalin hubungan spesial. Aida salah satunya. Sebelum ini, sebelum mereka memutuskan berpacaran Beryl kira Aida adalah tipe orang pemalu dan terlalu sungkanan. Tapi dia salah. Aida ternyata bisa langsung seterbuka itu setelah hubungan resmi mereka terpublikasi. Meski bukan kehendak Beryl hubungan mereka jadi bahan konsumsi publik. “Kamu dari kapan nungguin di parkiran?” Beryl tidak tahu jam berapa Aida datang. Pasalnya jarak antara kampus dan tempat tinggal Aida tidak bisa dibilang dekat. Aida melirik jam tangannya, “Aku hari ini berangkat pagi, Beryl. Pak Reo mengajakku untuk melakukan penelitian.” “Wahhh…selamat ya.” Beryl memberikan ucapan selamat. Memang tidak perlu diragukan lagi kalau soal kecerdasan Aida. Dia sering mendapat tawaran seperti itu. Bahkan hampir setiap semester. Dulu di semester dua Beryl juga pernah diajak masuk dalam penelitian dosen. Tapi hanya sekali itu saja. Selebihnya Beryl memilih kesibukan lain dalam PKM Fakultas. “Makasih. Nanti aku yang teraktir kamu makan ya.” pintanya sebagai bahan pembicaraan. “Oh, ini sebagai syukuran atas penelitian itu?” Aida mengangguk cepat. “Benar.” “Widihhhhh…pasangan baru kita nih.” Hendrik berujar saat melihat Beryl dan Aida datang bersamaan. “Wuahhh, mantaps banget pasangan satu ini. Couple goals banget deh. Sama-sama pintar.” Heny ikut berseru heboh. Azlio yang berada dipojokan dengan laptop dihadapannya bertepuk tangan riuh. Tidak mengerti dia bersorak untuk apa. Padahal sahabatnya itu yang paling mengerti alasan terbesar Beryl bisa berpacaran dengan Aida. Viola datang lalu menarik Aida untuk duduk di sampingnya, “Ajarin gue cara buat metode yang baik dan benar.” Aida melirik Beryl seolah meminta persetujuan. Beryl mengangguk saja. Sekalipun mereka berpacaran tidak harus duduk berdempetan terus bukan. Ada kalanya perlu berbaur bersama teman lain. “Hubungan lo berkembang pesat banget.” Azlio berujar kala beberapa orang mulai sibuk pada laptop masing-masing. Azlio sengaja memilih bangku pojok karena berada tepat di bawah AC. Beryl melirik sekilas sahabatnya lalu berdecak sebal. Azlio terkekeh, seolah mengerti Beryl tidak suka pada godaannya. “Isabella masih di tempat elo?” “Masih…” Beryl menjawab lalu menyalakan laptop untuk ikut larut mengerjakan tugas dari dosen pagi ini. “Aida berhak tahu, Ber.” Azlio mengutarakan kebenaran. “Posisi elo cukup rumit. Nggak mungkin selamanya bakalan disembunyiin, kan?” “Iya.” Beryl memberikan pembenaran Beryl merasakan tepukan di bahu, “Gue tetap bakal kawal elo sampai dapat Isabella.” “Kawal apaan?” Heny tiba-tiba saja muncul dan membuat Beryl bersikap dingin pada sahabatnya. Bisa gawat kalau apa yang dikatakan Azlio sampai ke telingan orang lain. Meski itu Heny. Orang yang dianggap bisa menjaga rahasia. “Kawal elo nikah sama gue!” kata Azlio membuat Heny melotot marah. Kesal pada kalimat Azlio. “Nggak bisa apa sehari nggak godain gue?” ujarnya penuh penekanan. “Nggak bisa cantik.” Azlio suka melakukannya itu. “Bebeeeeb…” teriak manja ala Heny meminta untuk menghentikan Azlio Hendrik yang mendengar rengekan pacarnya seketika bangkit, “Lo godain nona lagi?” tanyanya dengan raut wajah menyeramkan ala Hendrik. Yang tentu saja wajah ini malah terkesan lucu. Heny menggeleng takjub, “Beb, kok gitu sih mimik wajahnya.” “Loh, gimana beb?” Hendrik menatap pacarnya dengan kening yang berkerut. “Ihh…” tangan Heny menarik gemas kedua pipi Hendrik, “Kamu gemeciiin banget, ayangkuh.” “Uuuuuu…tayang-tayang…” Hendrik merentangkan tangan dan langsung dibalas pelukan hangat oleh Heny. “Cayangnya aku nih.” Hendrik berujar pada Azlio seolah tengah pamer hubungan mereka. “Yailah. Gitu doing gue juga bisa.” Azlio ikut merentangkan tangan. Bergabung bersama Heny dan Hendrik. “WOYYY…cewek gue nih.” kata Hendrik sengak. Azlio terlonjak kaget dan terpaksa mundur, “Nyebelinnn…” komentarnya segera dibalas Heny dengan memeletkan lidah. “Makanya cari pacar.” Sindiran Heny telak. “Aduh…” Azlio mengaduh begitu kakinya ditendang oleh Hendrik. “Tapi bukan pacar gue juga yang lo jadiin pacar.” ungkapnya meluapkan kekesalan. “Yeilehhh…abang pelit amat sih. Bagi-bagi atuh pacarnya bang.” Azlio menoel-nole pipi Hendrik dibalas sumpah serapah oleh empunya. _________________________________ “Kita ke kantin aja, ya.” Beryl memberikan arahan. Pasalnya dia tidak mau pada akhirnya Aida akan menjawab kata terserah yang nantikan tidak akan berakhir sampai besok. “Oke.” jawabnya penuh persetujuan. “Makan apa?” saat kedua orang ini sudah antri di depan stand mie dan bakso. “Bakso.” kata Aida sembari membaca rentetan menu. “Aku juga bakso. Sama air dingin.” ujar Beryl kemudin teralih pada Aida, “Minum apa?” “Samain aja.” “Kamu cari kursi aja. Biar aku yang antri.” Beryl memberikan usulan. Aida menolak, “Aku yang mau bayarin kok. Jadi kamu yang cari kursi. Aku yang bakalan antri.” Beryl menggeleng cepat tapi Aida memaksanya, “Nggak akan merendahkan cowok kok cuma gara-gara ditraktir makan ceweknya. Santai aja. Ini juga nggak akan sering-sering.” Pada akhirnya Beryl memilih setuju daripada berdebat bikin kepala pusing. Beryl memilih duduk di luar karena ingin udara segara sementara Aida memesan makanan. Tangan sibuk mengotak atik ponsel. Isabella: Hari ini mama lo datang lagi bawa makanan. Isabella: Besok gue udah bisa balik. Kaki gue udah mendingan. Sebenarnya Beryl juga tidak masalah sih semisal Isabella akan tinggal di tempatnya sampai benar-benar pulih. Toh, tugasnya memang menjaga Isabella. Tapi apa perlu juga Beryl mengatakan soal Isabella pada Aida. Sementara bagi Beryl itu tidak mesti harus dikatakan. Beryl dilema. “Nih…” Aida membawa nampan yang berisi dua mangkuk bakso dan dua botol air mineral. “Makasih.” Beryl membantu Aida memindahkan mangkuk. “Aku balikin dulu nampannya.” Aida kembali meninggalkan Beryl. Sempat terlintas untuk mengajak Aida putus disini, sekarang. Tapi itu hanya bayangn sepintas saja. Bisa gawat kalau Aida menangis guling-guling dan membuat banyak pasang mata berpikiran aneh kepada mereka. Beryl tidak boleh gegabah. Aida kembali, “Chat sama siapa?” tanyanya ingin tahu. “Mama.” jawab Beryl tidak sepenuhnya berdusta karena setelah pesan masuk dari Isabella, mamanya juga mengirimi chat yang kurang lebih sama. “Kenapa?” Aida terlihat antusias. Dan sekarang Beryl menyesal sudah berbohong, “Cuma ngabarin kalau nganterin makanan ke apartemen.” Aida mengangguk mengerti, “Apa aku boleh main ke apartemen kamu?” Oh, sialll… Lagi-lagi Beryl merasa gagal. Salah langkah lagi. Berdusta lagi. “Boleh. Tapi besok aja ya.” Karena besok Isabella sudah mengatakan akan pulang. Jadilah tidak mungkin tercipta pertemuan antara dua perempuan ini. “Oke.” _________________________________ “Loh, lo udah bisa jalan?” Beryl terkejut karena Isabella sudah berlalu lalang dihadapannya malam ini. “Lo kalau kuliah emang pulang malam?” Isabella malah melontarkan pertanyaan sementara Danis yang kebetulan tengah asik makan malam sembari menonton televisi ikutan menoleh karena kedatangan Beryl. “Hmm…” gumam Beryl. Tidak. Kuliahnya tidak akan selarut ini kalau Beryl tidak ada acara setelahnya. Semisal membantu Prof.Warsono, menjemput Danis di klub, dan mengurus Isabella si paling merepotkan. “Habis kencan lo.” Danis memberikan pernyataan. “Oalah, ternyata.” Isabella mengangguk-anggukan kepala seolah paham. Lalu kembali pada ritual makannya bersama Danis. Seolah apa yang dikatakan Danis bukan apa-apa. “Lo mau makan?” Danis melemparkan pertanyaan. Melihat Beryl hanya menontonnya makan. “Nggak. Udah makan.” Beryl meninggalkan dua orang di ruang makan. “Lo mau ayam?” Isabella menyodorkan paha ayam pada Danis. Dengan senang hati laki-laki ini menerimanya, “Lo nggak makan?! Lo butuh asupan banyak, Bell. Biar kuat menghadapi kenyataan.” “Udah kuat gue.” Isabella berujar lalu berjalan pelan kearah wastafel untuk mencuci tangan. Saat hendak kembali tiba-tiba saja kakinya lemas. “Eh..ehh…” Isabella tidak bisa mengendalikan kakinya. Brukkk… Isabella terduduk di lantai. “Lah, ngapain lo gelesotan di lantai?” Danis heran padahal lantai juga tidak licin kenapa Isabella duduk nyaman disana. “Gue lemes nggak bisa jalan begoo. Tolongin napa.” Sebal sendiri punya kenalan cowok soax macam Danis. “Tangan gue kotor, anjirrr…” Danis menunjukkan tangan penuh sambal. “Berrr…” panggil Danis nyaring. “Hmmm?” terdengar sahutan dari dalam kamar. “Tolong angkatin Isabella dong. Gue lagi khidmat nih.” Danis tidak tahu diri Beryl muncul setelahnya dengan wajah panik. “Hah?” seolah mencari jawaban atas kebingungan. Matanya sudah menemukan Isabella terduduk di lantai. Juga Danis yang tengah asik pada paha ayam. “Kenapa pakai acara jatuh segala sih.” Kalau begini bisa jadi Beryl bersentuhan dengan Isabella. Itu alarm bahaya. Tatapannya tajam pada Danis. Jelas sahabatnya itu dengan amat sengaja melakukan ini. “Minta tolong panggilin mbak Ratih aja.” Isabella mengusulkan. Tidak mungkin juga Beryl mau mengangkat tubuhnya, bukan?! “Ehhh…” Isabella melotot saat Beryl mengangkat tubuh rampingnya. Danis yang melihat keduannya sempat menggoda namun mendapat pelototan tajam dari keduannya. “Lo nggak perlu bersikap baik terus ke gue.” kata Isabella setelah berhasil duduk dengan aman di ranjang berkat bantuan Beryl. Beryl menatap manik mata Isabella, “Gue masih punya belas kasihan. Lo pikir gue sejahat itu.” Beryl heran sendiri kenapa Isabella sangat menyebalkan akhir-akhir ini. Oh, Beryl lupa bahwa Isabella memang selalu menyebalkan setiap saat. “Lo emang sejahat itu.” Isabella merutuki mulutnya sendiri. Kenapa malah keceplosan begini sih. “Hah, apaan?” Beryl meminta Isabella mengulangnya. Isabella menggeleng cepat, “Haa.. enggak.” “Gue jahat?” Beryl melemparkan pertanyaan atas pernyataan Isabella, “Iya?” kali ini Beryl memaksa Isabella menatap matanya. Aura di kamar itu cukup menakutkan bagi Isabella. Bingung pada situasi yang barusan tercipta. “Gue yang jahat.” Isabella berujar dengan berani menatap tepat pada bola mata Beryl. Beryl dan Isabella saling betatapan satu sama lain. Ada sesuatu yang seolah ingin mereka utarakan satu sama lain. Tapi disaat mulut tak mampu berucap. Tatapan seolah menjawab semuannya. Isabella memutus kontak mata. “Gue mau istirahat.” Akhirnya hanya kalimat itulah yang muncul saking sulitnya mengontrol detak jantung. “Tetap disini aja kalau emang belum benar-benar pulih. Prof.Warsono nggak begitu khawatir karena gue udah bilang kalau elo nggak ketemu Nando beberapa waktu ini.” “Lo nggak bilang gue disini, kan?” Isabella harap-harap cemas. “Ya kali gue mau bunuh diri.” Beryl menjawab sarkas, jika Prof.Warsono tahu Isabella tinggal di apartemnya bukankah akan menimbulkan pertanyaan. “Paling juga dinikahin.” kata Isabella setelahnya. Beryl menahan diri untuk tidak terkejut sekaligus…senang?! “Mana ada.” Isabella mulai bisa mengedalikan situasi yang terjadi, “Ya jelas. Di lihat dari seberapa sukanya Om Warsono ke elo.” “Lo nggak nyesel nikah sama gue?” “Hah?” mulut Isabella melongo. “Eh…” Beryl gelagapan sendiri. “Gue nggak bakal bocorin ke Prof.War kok…” ujarnya entah menjawab pertanyaan yang mana Pipi Isabella sudah semerah tomat. Tangannya dingin. Berkerigat padahal AC nyala. “Woy, ngapain sih berduaan lama-lama di kamar.” Kepala Danis muncul. Tanpa tahu diri memecahkan suasana awkward diantara keduannya. “Lo ngapain disitu?” Beryl malah melontarkan kalimatnya. “Gue khawatir sama elo.” kata Danis dengan wajah polos dibuat-buat. Beryl bangkit, “Jorok terus pikiran elo.” “Gue nggak bilang gitu, ya.” Tangan Danis diangkat tanda menyerah sekaligus takjub semenjak bersama Isabella, Beryl jadi dewasa begini. “Istirahat ya, Isabella. Mas Danis sama mas Beryl ke kamar dulu.” “Najonggg…” sembur Isabella pada godaan Danis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN