Bagaimana caranya agar tetap waras disaat semua hal meminta perhatian kita. Ingin menyerah tapi belum sampai pada titik puncak yang diinginkan. Seharusnya menjadi seorang penerima adalah hal mudah, seharusnya. Nyatanya tidak segampang kalimatnya.
Drttt…drttt…
Nando: Kita ketemu, ya.
Nando: Kita bicara.
Nando: Kamu dimana???
Nando: Sayanggg…
Nando: Isabella
Isabella tidak tahu Nando masih terus menghubunginya hingga hari ini. Lelah, Isabella butuh pelampiasan sekarang. Matanya melirik pada waktu yang tertera pada laptop. Masih pukul dua belas siang. Isabella meraih obat di nakal lalu menelan dilanjutkan meminum air. “Gabut banget…” Isabella merenggangkan otot-ototnya.
“Mbak Bella obatnya sudah di minum?” suster Ratih datang tepat setelah Isabella menelan obat
“Udah, mbak…” kata Isabella memanggil suster Ratih dengan embel-embel mbak atas permintaan perempuan itu “Istirahat ya mbak Bella.” Pinta suster Ratih karena Isabella memang masih membutuhkan waktu beristirahat yang cukup
Isabella mengangguk lemah, “Nanti juga istirahat mbak. Lagi gabut banget nih.”
“Sebentar lagi mas Beryl pulang, mbak?”
“Emang iya?” kenapa Isabella jadi sangat excited begini cuma gara-gara Beryl pulang dari kampus
“Tadi sih mas Beryl bilang kalau pulang siang. Tungguin aja, mbak. Udah kangen ya?” tebaknya dengan kekehan kecil Eh, apa-apaan suster Ratih ini. “Kita temenan mbak.” Mbak Ratih hanya geleng-geleng kepala. Selanjutnya mulai membereskan piring dan gelas bekas Isabella makan siang.
“Aku mau turun, mbak.” Isabella bangkit perlahan. Suster Ratih hendak membantu namun Isabella menolak. Beralasan ingin bisa mandiri.
Toh, dari kemarin dia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Cuma kadang kakinya lemas saat Isabella kehabisan tenaga. Mungkin memang banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh sangat mempengaruhi kondisinya sekaranng.
Isabella melihat suster Ratih pergi ke dapur. “Apa gue pulang aja ya, sekarang, nggak usah nungguin Beryl.” Isabella memikirkan kemungkinan setelahnya jika dia melakukan itu. “Tapi orang itu akan murka kalau tahu gue tiba-tiba ngilang gitu aja dari apartemennya.”
“Lebih baik gue mandi, bersih-bersih. Nah, pas Beryl datang dia bisa langsung nganterin gue balik.” ucapnya tanpa pikir panjang
___________________________________
“Masuk aja…” Aida masuk ke apartemen Beryl. Cukup luas untuk kategori tempat yang ditinggali sendirian. Namun Aida memaklumi bahwa Beryl adalah anak dari orang tua yang cukup terkenal di kota ini. Tidak ada yang aneh jika dia bisa membeli tempat semewah ini hanya untuk ditempati seorang diri.
“Mikirin apa?”
Aida menatap Beryl sembari tersenyum “Apartemen kamu bagus.” Pujinya guna mengutarakan rasa kagum. Beryl tidak menanggapi berlebihan. Laki-laki itu selain sering mendapatkan pujian prestasi pastinya juga rutin pujian kemewahan. Respon Beryl gampang dibaca.
“Mau ngerjain dimana?” Beryl melontarkan pertanyaan. Hari ini sesuai perkataan Beryl kemarin Aida ingin mampir ke tempatnya. Tidak mungkin Beryl menolak sementara sorot mata Aida sangat berharap.
“Disini aja.” jawabnya menunjuk ke ruang tamu Baru saja Beryl ingin kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
Isabella muncul dan tentu saja mengagetkan Aida. Isabella tidak pernah melihat keberadaan perempuan ini di apartemen Beryl. “Lo siapa?” Isabella malah melontarkan pertanyaan bodohh
Beryl mentap penampilan Isabella dari ujung kepala sampai kaki, “Mau kemana lo?”
“Butuh banget persetujuan, ya.” Isabella mulai mengerti situasi. Orang yang tempo hari menelpon Beryl adalah perempuan ini. Pacar Beryl. Isabella meminta bantuan suster Ratih untuk menarik koper miliknya. “Makasih ya sus…” lalu teralih pada Beryl yang terlihat kebingungan. “Gue mau pulang. Makasih ya.” Tutupnya meninggalkan Beryl dalam keadaan mematung beberapa saat
Beryl tersadar. Menghadang tubuh Isabella di depan pintu. “Kondisi elo belum pulih betul.” Beryl masih belum yakin apa Isabella bisa melakukan segalanya sendirian. Kemarin saja dia tiba-tiba duduk di lantai membuat Beryl harus repot-repot menggendongnya.
“Suster Ratih bakalan ikut gue kok.” kalimat penenang untuk membuat Beryl tidak kelimpungan. Mata Isabella melirik ke arah Aida meminta Beryl untuk bersikap sewajarnya saja.
Beryl kembali tersadar. Dia melupakan Aida.
Aida masih mematung di tempat tentu saja menjadi penoton setia sedari tadi. “Jangan halangin jalan gue!” pintanya mengusir Beryl agar menyingkir
“Enggak!” Beryl keras kepala
“Lo siapa? gue siapa?” Eh, Isabella kembali pada sikapnya yang menyebalkan.
Beryl menghela nafas. “Ya…” pada akhirnya Beryl menyingkir membiarkan Isabella pergi. Beryl tidak mungkin akan memulai perdebatan panjang. Ada Aida yang menonton interaksi mereka.
___________________________________
“Jadi, sebenarnya hubungan kamu sama Isabella itu apa?” Kalimat pembuka saat Beryl duduk dan menatap Aida yang mendiamkannya hampir lima belas menitan.
“Kita teman biasa.” “Atau malah nggak berteman sama sekali.” Batin Beryl
Aida dengan sangat pengertiannya mengangguk, “Bisa cerita apapun kalau ada masalah.”
Beryl merasa jadi orang paling jahat kalau begini ceritanya. Tubuh Beryl ada bersama Aida. Sebaliknya otaknya sudah jalan-jalan memikirkan keberadaan Isabella. Juga kemungkinan Nando datang dan membuat semua semakin rumit.
“Sebenarnya nggak ada masalah.” kata Beryl masih terus ingin menyembunyikan apapun yang berkaitan dengan Isabella
“Aku boleh tanya?” tatap Aida penuh harap
“Iya.” Beryl merasa ingin disidang
“Kenapa dia tinggal bareng sama kamu?! Dan udah berapa lama?”
Tuhkan, memang sedari awal menerima Aida adalah sebuah kesalahan. Tapi mau bagaimana lagi Beryl harus siap pada resiko. Meski tidak tahu apakah jawabannya menjadi akhir atau justru masalah baru bermunculan.
“Isabella habis terkena tembakan saat dia di rumah pacarnya. Dan pacarnya nggak bersikap baik ke dia. Jadilah gue menolong dia.”
“Dia nggak punya keluarga?” Aida kembali bertanya
“Ada.” jawab Beryl
“Terus kenapa Ber?! Kenapa harus kamu yang nolongin sampai sejauh ini. Harusnya cukup bawa dia sampai ke rumah sakit dan nggak perlu sampai bersikap begini, kan?”
Beryl ingin menyela Tapi lebih cepat Aida, “Nggak seharusnya kamu tinggal berdua sama dia tanpa ikatan. Sementara kamu punya aku.”
Beryl ingin menjawab. Kalah cepat. “Aku tahu. Kamu emang disini sekarang sama aku seolah membuat keadaan menjadi baik-baik saja. Tapi Ber, aku tahu.”
“Cuma raga kamu aja yang sama aku sekarang. Tapi pikiran kamu di sana. Di Isabella.”
“Daaa…” Beryl ingin sekali mengatakan dia tidak menyukai Aida seperti apa yang Aida rasakan. Bagaimana caranya untuk berbicara.
“Aku siapa kamu, sih, Ber?”
Nah, kenapa malah mereka bertengkar disini. Beryl kelimpungan sendiri kan. Beryl lemah soal berdebat dengan perempuan. “Kamu pacar aku.”
“Status saja.” Aida membenarkan Beryl harus mengatakan kebenarannya.
Tangan Beryl memegang bahu Aida lembut. “Aku nggak mau nyakitin kamu terus menerus, Da. Tapi…”
Aida meneliti wajah Beryl, “Tapi apa?” Air mata Aida lolos begitu saja Akankah Beryl melanjutkan kalimatnya, dia tidak mau menyakiti Aida. Banjir di pipi Aida juga mengerutkan niatnya.
“Tapi aku, kan disini, sama kamu.” ungkapnya tidak jelas
“Terus kenapa kalau sama aku?” Aida mendesak
“Ya berarti aku sayang kamu.” kalimat buaya dari seorang Beryl Navy Prayudha Aida memeluk tubuh Beryl. Erat. Semakin dilema saja Beryl kalau seperti ini.
_______________________________________
Isabella turun dari taxi dibantu oleh suster Ratih. “Pelan-pelan mbak, Bell.” Saat pintu rumahnya terbuka tatapan mata Isabella jatuh pada seseorang yang duduk di sofa dengan keadaan, kacau?
“Bella…” Nando bergerak cepat membantu pacarnya untuk berjalan “Kamu kemana aja?”
“Maafin aku sayang.” Nando memeluk erat tubuh Isabella.
“Aku bakalan proses Bianca karena udah membuat kamu kayak gini.”
“Aku minta maaf karena terlalu fokus sama pekerjaan dan membuat kamu terluka.” ungkapnya sangat mellow di telinga Isabella.
Isabella melirik suster Ratih, rasanya jadi malu sendiri. “Kamar suster Ratih ada disebelah sana. Aku mau bicara dulu sama Nando, mbak.”
Suster Ratih segera pergi berlalu ke kamarnya untuk beberes.
Nando mengusap kepala Isabella, “Gimana keadaan kamu?” ujarnya khawatir
“Baik.”
“Kamu masih perlu perawatan. Kita ke rumah sakit lagi, ya.” Seperti biasa dengan lebay-nya Nando berujar
“Gue udah sembuh, Do.” Meminta agar Nando sedikit menjaga jarak darinya Nando tahu itu pertanda Isabella tengah marah,
“Maaf…” ucapnya, lagi.
“Nggak yang perlu dibahas lagi. Aku mau istirahat.”
“Kamu nggak bisa seenaknya, Bella. Aku pacar kamu. Aku berhak atas kamu.”
Nando sangat menyebalkan di mata Isabella sekarang
“Terus?! Kenapa dengan hubungan pacaran?” Isabella melemparkan tembakan Isabella tidak berpikiran dia bisa kembali bersandiwara di depan Nando. Perasaannya mulai menguar tidak jelas begini. Terlebih Isabella mulai dilema soal kedekatannya dengan Beryl.
“Ayo kita putus.”
Nando mencerna kalimat Isabella. “Mudah banget kamu ngomong begitu?”
“Kenapa harus juga bersusah-susah?” “Tinggal ngomong doang, kan?” lanjutnya gamblang
“Belll…” Nando masih tak percaya pada kalimat loss dari mulut Isabella. Padahal dia beranggapan hubungan mereka serius. “Kamu cuma mainin aku, Bell.” ungkapnya menatap nyalang ke depan
“Kamu yang mainin aku, Do.” Isabella tidak akan membuat dirinya terlihat bersalah di hadapan Nando. “Kalau kamu memang serius. Dimana kamu saat aku dibawa pergi Bianca. Itu nggak waktu sebentar, Do.”
“Sementara kamu tahu bagaimana sikap keluarga besar kamu ke aku. Apa yang perlu dipertahankan.”
Nando menggeleng cepat, “Aku nggak bisa.” Tolaknya pada pernyataan Isabella.
“Aku nggak bisa tanpa kamu, Bella. Kita bareng-bareng nggak baru satu dua bulan loh.” jelasnya Memang hubungan Nando dan Isabella sudah terjalin hampir dua tahunan. Tapi status yang jelas baru terjadi beberapa bulan ini.
“Jangan tinggalin aku cuma gara-gara masalah kecil kayak gini?”
Emosi Isabella meletup. “Kecil?! Heh, Sialannn. Adik elo si Bianca mau bunuh gue. Apa yang bisa dibilang kecil?”
“Dia ngelakuin itu karena terobsesi sama elo. Masih mau bilang itu masalah kecil?”
“Terus masalah elo bunuh Diana juga disebut kecil?” Isabella tidak habis pikir pada cara otak Nando menyimpulkan Nando mengeraskan rahang, “Aku nggak pernah bunuh Diana.” ujarnya dingin
“Lalu apa?”
“Lo ambil nyawa dia secara paksa?! Iya?” tembaknya jahat
Nando menggeleng cepat, “Kamu nggak pernah sekasar ini sama aku. Kamu kenapa sih. Apa cowok itu yang bikin kamu jadi kayak gini, Bella?”
“Apa?” Isabella tak mengerti
“Si Beryl mu itu loh.”
Isabella mengedipkan matanya beberapa kali, “Dia bukan yang bikin gue kayak gini. Ini semua salah lo sendiri lah.” “Hah?” Nando kelihatan bloon di mata Isabella
“Kalau bukan gara-gara Bianca bikin gue susah jalan mana ada gue bakalan sekasar ini.” ungkap Isabella marah Nando menjambak rambutnya. “Aku bakalan proses kasus Bianca.”
“Terserah.”
“Kamu cuma perlu segera pulih. Okay?” pinta Nando penuh pengertian
“Tanpa dia bilang harus cepat pulih gue juga harus pulih.” Batin Isabella kesal sendiri. Tidak guna berada dalam dekat dengan Nando terlalu lama.
“Aku siapin pembantu. Pengawal buat jagain kamu.”
“LO GILA YA?” Isabella murka lagi
“Buat menjamin keselamatan kamu sayang.” Nando masih kekeuh pada pendiriannya. Akan sangat mengganggu jika sampai Isabella kembali bertemu dengan Beryl. Nando cemburu.
“Mulai sekarang kamu juga dilarang ketemu sama dia.”
“Dia?” Isabella meminta penjelasan
“Jangan ketemu Beryl atau siapapun. Termasuk juga si Kenand.”
“Wikkk… lo ngurung gue?” Isabella tidak paham lagi, “Di rumah gue sendiri?” Isabella masih tak percaya
Nando bangkit dari sofa. Menghubungi orang kepercayaannya. “Lakukan apa yang tadi saya perintahkan.” ucapan Nando mencurigakan.
Isabella menarik kerah baju Nando, “Berani lo sentuh Beryl. Lo bakal berhadapan sama gue!” tantangnya tanpa takut Nando tertawa keras, “Bela aja terossss… lo buta Bella, Dia cuma mau tubuhh to aja. Bukan tulus jagain elo.” “Seenggaknya dia punya hati nggak kayak elo. Muka ganteng kelakuan minus. Lo kayak setannn.”
“DIAMMM…” suara Nando meninggi. Sampai suster Ratih yang berada di dalam kamar ketakutan
“APA?” Isabella tidak ketakutan sama sekali
“Aku bilang nurut ya nurut Isabella!”
Plakkk…
Isabella menampar pipi Nando. “Kurang sabar apa gue sama elo, hah?”
“Lo yang cuma manfaatin tubuhh gue aja, berengsek. Lo ambil nyawa Diana. Lo datang layaknya seorang kakak yang melindungi adik kecilnya.”
“TAPI APA??! LO NGGAK BISA BENAR-BENAR TAHU APA ITU KETULUSAN!”
“ISABELLA…” teriak Nando semakin gila
Brugh…
“Mbak, Bella…” suster Ratih datang tergopoh-gopoh