Sampah

655 Kata
"Ardan, aku... aku..." Sekujur tubuh Kinara bergetar hebat saat melihat wajah dingin Ardan. Pria itu terus melangkah mendekat. "Ardan, kamu... kamu mau apa?" tanya Kinara gelagapan. Hingga akhirnya jarak mereka begitu dekat. Kinara berusaha menghindar, tetapi dengan cepat Ardan menahan tangannya di atas wastafel. Lalu Ardan mencondongkan tubuhnya. Kinara benar-benar terpojok. Bahkan nafas mereka bisa saling terasa karena jarak mereka yang begitu dekat. Ardan pun berbisik di telinga Kinara dengan lembut, "Jadi karena aku miskin sehingga kau lebih memilih Rian?" bisiknya. Deg. Kinara mematung mendengarnya. Tapi itulah yang memang pernah ia katakan saat mengakhiri hubungan mereka. "Lalu... bagaimana jika Rian tahu apa yang pernah terjadi di antara kita berdua?" bisik Ardan lagi. Tangannya menyentuh telinga Kinara, membuat sekujur tubuh Kinara menegang. Belum lagi ucapan Ardan yang terasa seperti ancaman. "Ardan... aku mohon, jangan beritahu dia... aku mohon," pinta Kinara dengan wajah pucat karena menahan panik. Sungguh, ia tidak lagi mengenal Ardan yang ada dihadapannya saat ini. Pria itu terlihat asing, tidak ada kehangatan seperti dulu, hanya sikap dingin yang terasa. Terlebih lagi senyum penuh intimidasi itu, membuat Kinara merasa takut. "Kenapa?" bisik Ardan. Tangannya perlahan menyentuh tengkuk leher Kinara. Mengelus lembut seakan mengingatkan bahwa mereka sudah pernah lebih dari sekedar ini. Kinara rasanya ingin pingsan saat itu juga, tapi ia harus tetap mempertahankan kesadarannya agar Ardan mau menyembunyikan apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua. "Kau takut kehilangan laki-laki kaya itu?" ejek Ardan tersenyum miring. Lalu dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Kinara pun berkata, "Ardan, bisakah kita lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita?" pintanya. Ardan memicingkan matanya mendengar ucapan Kinara, lalu tiba-tiba ia tertawa. Tawa itu membuat Kinara merinding. Ardan pun mengangguk seolah mengerti. "Lalu bagaimana dengan hubungan kita di atas ranjangmu? Apakah itu juga termasuk?" tanya Ardan dengan nada mengejek. "Iya, kita lupakan. Anggap saja tidak pernah terjadi," kata Kinara cepat. Ardan pun menyentuh rahang Kinara, lalu menuntutnya untuk mengangkat kepalanya dan kini tatapan mereka bertemu. Tatapan yang begitu dalam hanyut dalam isi pikiran masing-masing. Kemudian Ardan pun memajukan wajahnya, dan melumat bibir Kinara dengan rakus. Saat itu Kinara mematung sesaat, tapi detik berikutnya ia pun mulai tersadar dan segera mendorong d**a Ardan. Namun, dengan cepat tangan Ardan memegang kedua tangannya, dan Ardan semakin melumat bibir Kinara dengan penuh hasrat. Sampai akhirnya Kinara pun menggigit bibirnya, Ardan melepas dan mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Lalu ia tersenyum sinis. “Wanita liar,” katanya. Kinara menahan air matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Ardan, sebelumnya pria ini sangat manis. Tapi sekarang? Ia seperti seekor serigala yang kejam dan siap mencabik-cabik mangsanya. “Jadi, kau meninggalkanku karena pria kaya itu?” Ardan tersenyum miring, sambil memperhatikan bibir Kinara, “lantas, bagaimana jika aku adalah laki-laki kaya? Kau akan berlutut memohon kembali?” Ardan menjeda ucapanya, lalu mengangkat tubuh Kinara dan duduk di atas wastafel. “Ardan, turunkan aku,” pinta Kinara panik sambil memukul d**a pria itu. Tapi Ardan tak terusik sama sekali, ia menangkap tangan Kinara hingga tak bisa lagi memberontak. Kemudian Ardan justru melingkarkan tangannya di pinggang indah wanita itu, membuat sang empu merasa tak nyaman. “Aku yakin jika kau tau siapa aku pasti akan berlutut memohon kembali, tapi aku tidak akan menampung sampah sepertimu! ” Kata Ardan lagi setengah mengejek. “Kinara,” Panggil Rian dari luar sana. Deg. Jantung Kinara berdebar kencang saat mendengar suara itu, ia kembali memberontak berharap Ardan akan menjauh. Sayang tubuh tegap Ardan tak bergerak sama sekali. “Ardan, aku mohon. Tolong lupakan hubungan kita, lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita berdua,” Kinara terus memohon berharap Ardan mau mengabulkan keinginannya. Tapi Ardan hanya tersenyum miring seakan tak terusik sama sekali. “Ardan, tolong…bagaimana kalau Rian tau,” katanya panik. “Kalau dia tau, dia akan membuangmu. Dan, kalau dia membuangmu kau akan kehilangan pemuda kaya itu, dan aku pun tidak mungkin akan menerimamu lagi, sampah,” bisik Ardan. Deg. Jantung Kinara berdebar kencang mendengar ucapan Ardan, dan pertanyaannya siapa sebenarnya Ardan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN