Bertemu Lagi
"Ardan, perkenalkan. Ini calon istriku, Kinara," kata Rian sambil memperkenalkan wanita di sampingnya dengan bangga.
Ardan yang sejak tadi duduk santai dengan ponsel di tangannya hanya diam. Ia tidak terlalu tertarik dengan percakapan itu, sampai akhirnya suara Rian membuat jarinya berhenti bergerak.
Perlahan ia mengangkat wajahnya.
Tatapannya langsung jatuh pada sosok wanita di hadapannya.
Untuk beberapa detik, Ardan terdiam. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi seperti biasanya. Namun sorot matanya yang dingin seolah berubah saat mengenali seseorang yang beberapa hari ini tidak ia lihat.
Kinara pun membeku.
Ia tidak menyangka orang yang kini duduk di hadapannya adalah Ardan. Seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ia pikir tidak akan pernah ia temui lagi.
Kemudian Rian pun memperkenalkan Kinara kepada Ardan.
"Kinara, ini Ardan. Dia sepupuku," kata Rian.
Sepupu?
Kinara meremas kedua tangannya perlahan. Tubuhnya menegang saat melihat siapa sosok yang duduk di hadapannya.
Ardan.
Ardan pun bangkit dari duduknya. Wajahnya tetap datar, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan meski tatapannya tertahan beberapa saat pada Kinara.
Ia mengulurkan tangannya. "Senang bertemu denganmu," ucapnya dingin.
Deg.
Jantung Kinara berdetak lebih cepat. Tangannya terasa kaku, bahkan untuk sekadar membalas uluran tangan itu.
Bagaimana mungkin, dari semua orang di dunia ini, kenapa ia harus bertemu dengan Ardan?
Pria yang baru saja ia tinggalkan satu minggu yang lalu.
"Kinara," panggil Rian karena wanita itu masih terdiam tanpa membalas uluran tangan sepupunya.
Kinara tersentak dari lamunannya. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan Ardan.
Begitu tangan mereka bersentuhan, keduanya sama-sama terdiam. Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya keheningan yang terasa semakin berat.
Mata Ardan tetap dingin, seolah pria itu sudah tidak mengenalnya. Tidak ada senyuman, tidak ada kemarahan, bahkan tidak ada pertanyaan.
Namun justru sikap tenang itu membuat Kinara semakin gugup.
Sementara Ardan hanya menatapnya dalam diam, seperti sedang memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar orang yang sama. Orang yang meninggalkannya seminggu lalu.
"Senang bertemu denganmu, Kinara," ucap Ardan akhirnya.
Suaranya terdengar datar sampai membuat Kinara merasa lebih sakit daripada jika pria itu marah kepadanya.
Kinara tersenyum kaku.
"Rian, aku ke toilet sebentar," ucapnya pelan.
"Ah, iya," jawab Rian sambil mengangguk, lalu kembali duduk di kursinya.
Tanpa menunggu lebih lama, Kinara segera melangkah pergi.
Langkahnya cepat, seolah ingin menjauh dari tempat itu secepat mungkin.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.
Bagaimana bisa?
Batin Kinara terus bertanya-tanya.
Dari semua kemungkinan yang ada, kenapa justru hari ini ia harus bertemu dengan Ardan?
Pria yang baru saja ia tinggalkan satu minggu lalu.
Begitu sampai di toilet, Kinara langsung menghampiri wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang terlihat pucat.
Tangannya segera membasuh wajahnya dengan air dingin. Namun rasa gugup itu tidak hilang.
Bayangan tatapan Ardan tadi terus muncul di pikirannya. Tatapan dingin yang berbeda dari Ardan yang ia kenal dulu.
"Kenapa mereka sepupu, Ardan kan hanya orang biasa..." gumam Kinara lirih.
Ia menundukkan kepalanya, mencoba menenangkan diri. Tapi satu hal yang ia tahu, Pertemuan ini tidak pernah ia bayangkan.
Lalu mata Kinara melebar saat melihat sosok lain dalam pantulan cermin.
Ardan.
Perlahan ia berbalik. Dan benar saja, pria itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Tubuh tinggi Ardan memenuhi ruangan kecil itu dengan auranya yang tenang namun mengintimidasi.
Kedua tangannya berada di saku celana, wajahnya tetap datar seperti tidak terjadi apa-apa.
Tatapan matanya yang tajam menatap Kinara tanpa berkedip.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada senyuman.
Hanya ketenangan dingin yang justru membuat
Kinara semakin gugup. "Ardan..." panggil Kinara pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik, seolah mencoba memahami wanita yang berdiri di hadapannya.
Wanita yang satu minggu lalu memilih pergi darinya. "Jadi..." suara Ardan akhirnya terdengar rendah, "ini alasanmu meninggalkanku?"
Deg.
Kinara terdiam seketika, pertanyaan Ardan seperti hantaman petir disiang bolong.