Sudah tiga puluh menit berlalu. Belum ada yang menjemputku. Sialan! Tahu begini mending tadi aku nebeng sama pasangan belut sawah itu. Si Kia juga sama sekali gak setia kawan. Malah udah pulang duluan sejak tadi. Ayahnya sudah jemput. Andai saja ayah masih ada, pasti aku juga akan dijemput seperti si Kia. "Hei, kenapa melamun?" Aku mendongak. Bibirku tersenyum lebar melihat siapa yang datang. "Bang Fatih?" Mataku yang semula hampir menangis sekarang urung dan berubah jadi berbinar. "Ayo kita pulang, Ca!" ucapnya. Aku mengangguk. "Ayo, Bang!" Dengan sigap Bang Fatih mengambil semua barang bawaanku. Mobil Bang Fatih terparkir tak jauh dari lapangan. Kami berjalan beriringan. Ah, kenapa aku seperti sedang diawasi ya? Penasaran, aku celingukan ke kanan dan kiri. Ck, gak ada siapapun.

