Aku Gak Cemburu!

1315 Kata
Pak Indra terlihat sangat terkejut. "Jangan gila kamu!" Aku mengernyit heran, "Gila apanya? Saya normal kok. Tipe pria seperti Bang Fatih itu termasuk idaman wanita. Dia perhatian, baik dan juga penya-hei!" Bangke nih orang! Aku sampai kaget. Tiba-tiba dia menyentak tanganku hingga aku berada dalam pelukannya. "Jangan sekali-kali bermimpi bisa menjadi pasangan si Fatih." ucapnya penuh penekanan. Deru nafas Pak Indra menyebar di wajahku. Aku mendorong dadanya yang mendekat. "Anda yang gila, Pak. Saya hanya ingin sosok seperti Abang saya. Bukan berarti jadi pasangannya. Ingat, kami itu bersaudara." Akhirnya aku bisa melepaskan diri dari pelukan pria di depanku ini. "Apa kamu punya bukti jika Fatih memang saudara kandung kamu?" Aku makin bingung, "Apa maksud Anda, Pak?" Pak Indra tersenyum kecil, "Ternyata kamu memang masih anak-anak. Rahasia sebesar ini pun, masih belum diberitahu oleh kedua orang tua kamu." "Rahasia? Apa itu?" "Sudahlah, sekarang kita kembali ke perkemahan. Sepertinya semua kelompok penjelajahan sudah sampai." Pak Indra berdiri dan bersiap untuk menggendongku lagi. "Tunggu, Pak. Jelaskan rahasia apa itu?" Sumpah, berasa digantung pacar bertahun-tahun. Penasaran dan bikin kesal. "Lupakan saja. Yang jelas, kamu jangan terlalu dekat dengan si Fatih." Pak Indra sudah jongkok. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar aku naik lagi. "Pak kasih tahu dulu ih, jangan bikin saya penasaran!" "Ck, naik gak? Kalau gak naik sekarang, saya tinggalin kamu di sini." Aku berdecak kesal. Akhirnya mau gak mau aku naik ke punggung pria ini. Daripada nanti ditinggal di sini kan? Sepanjang jalan, aku lebih banyak diam. Otakku masih berpikir keras. Kira-kira bisa dipercaya gak sih omongan manusia ini? Apa benar Bang Fatih punya rahasia besar? Dari gelagat Pak Indra sih sepertinya di antara anak Mama ada yang bukan anak kandung. Mengingat hal itu, hatiku jadi gak tenang. Gelisah bukan main. Bagaimana kalau nyatanya aku yang bukan anak Mama? Lalu siapa orang tuaku? Ah, atau mungkin saja Bang Fatih yang bukan anak Mama. "Tumben kamu diam?" Pak Indra bertanya saat kami sebentar lagi sampai ke lokasi perkemahan. "Anda membuat saya harus berpikir keras." "Kok saya?" "Ck, kan Anda yang bilang bahwa Bang Fatih punya rahasia besar. Kenapa saya harus menjauhi Abang saya sendiri? Bukankah itu aneh?" Pak Indra tidak menjawab. Ia menurunkanku di pos tenda P3K. Ada tiga orang yang sedang diam berjaga langsung menghampiri kami. "Kamu kenapa?" tanya salah satu petugas P3K. Mereka ini anggota PMR senior. "Dia terkilir." Pak Indra yang menjawab. Aku mengangguk. Ketiga anggota itu sigap mengambil kotak P3K. "Ada minyak urut?" tanya Pak Indra. "Ada, Pak. Sebentar!" Aku hanya memperhatikan saja. Pak Indra menerima minyak urut lalu mulai memijat kakiku. "Kenapa gak dipijat sejak di hutan tadi, Pak?" tanyaku. "Kamu mau diobati atau tidak?" Pak Indra malah balik bertanya. "Lah, kan kalau nyatanya Anda bisa memijat kaki saya, kenapa gak dari tadi? Mungkin saya gak usah digendong." Pak Indra melirik ketiga anggota PMR itu lalu tiba-tiba pijatannya jadi agak kasar. "Hei! Pelan dong, Pak. Sakit!" "Makanya jangan bawel!" Aku diam. Baru sadar saat melihat tatapan bingung dari ketiga anggota PMR itu. Haha, mungkin mereka merasa aneh dengan pertengkaran kecil kami. Ya, Pak Indra dikenal guru yang tegas. Jangankan didebat seperti barusan, bercanda juga nyaris gak pernah. "Coba gerakan kakimu!" ucapnya. "Eh kok gak sakit lagi, Pak?" tanyaku heran. Kok bisa ya? Wah ternyata benar! Dia sengaja tidak mengobati aku di hutan biar bisa gendong aku tuh! Cari kesempatan tuh orang! "Ck, iyalah. Kan sudah dipijat. Coba kamu jalan." Aku nurut. Mencoba jalan kaki kesana kemari. Bibirku tersenyum lebar, "Sudah gak sakit, Pak." "Baguslah. Sekarang kamu kembali ke tenda dan bersiap ikut upacara penutupan." Walau aku masih penasaran dengan tujuan dia gak mau mengobati aku, tapi di sini ada orang lain. Jadi aku harus simpan dulu unek-unek ini. Saat aku kembali ke tenda, semua sudah beberes. "Lah, elo udah sembuh lagi, Ca?" tanya Fani saat melihatku mendekat. "Iya nih, kalian tadi gak apa kan?" tanyaku balik. "Kita tadi sempet khawatir tahu! Ck, eh tahunya yang dikhawatirkan malah asyik gendongan! Aduh!" si Kia nyeletuk langsung ku lempar dengan topiku. "Gue beneran gak bisa jalan, anjir! Ya mau gimana lagi, terpaksa digendong." "Eh sudah-sudah, jangan berdebat. Ayo, sekarang kita ke lapangan. Upacara penutupan akan segera dimulai." Fani mengingatkan. Kami semua akhirnya pergi ke lapangan. Upacara penutupan tidak terlalu lama. Beberapa anak terlihat lelah. Rerata baju mereka sangat kotor dengan lumpur. "Lo pulang sama siapa?" Kia mengajakku duduk di tepi lapangan. "Kayaknya dijemput sama Bang Zein seperti biasa deh." "Yakin?" "Ck, kenapa elo bertanya begitu?" Si Kia malah tersenyum geli, "Bukannya sekarang elo sering diantar sama Pak Indra?" "Sst, jangan kenceng-kenceng! Ntar ada yang denger." "Eh, kemarin juga sebenarnya anak-anak udah agak curiga lho, Ca." "Curiga kenapa?" "Lah, elo malah gak sadar. Kan kemarin waktu kaki lo terkilir dan kram, Pak Indra sigap membawa elo kan? Bahkan digendong segala, uhuy!" "Ish, lo jangan berburuk sangka, njir! Dia begitu biar dibilang baik sama nyokap gue. Nyatanya selama digendong, gue diledekin." "Masa sih?" Aku mengangguk. "Iya, dikata gue gendut lah, dikata gue anak-anak lah, gila kan?" "Eh, tapi elo yakin kalau elo gak suka sama Pak Indra?" Aku menggeleng dengan mantap. "Enggaklah, mana mungkin? Orangnya menyebalkan begitu. Sebenarnya kita udah sepakat sih, akan mengakhiri semuanya saat gue udah lulus sekolah." "Ha? Bentar lagi dong?" "Ya, begitu lah." "Eh, itu bukannya Pak Indra ya?" Kia menunjuk ke seberang lapangan. "Ya, benar. Ck, semoga saja dia gak ke sini. Males gue kalau harus pulang bareng dia." "Ca, dia kok sama cewek lain sih? Lo lihat deh. Gue baru lihat cewek itu malah." Aku memicing. Apa yang dikatakan Kia benar! Pak Indra dijemput wanita yang tempo hari jalan dengannya waktu di mal! "Dia ... pacarnya Pak Indra." ucapku. "Wow, gila sih ini. Dia gandeng pacar. Apa elo gak mau gitu balas dia juga?" Kia mulai jadi kompor meleduk. "Ck, ogah ah! Kalau gue bales dia, nanti dikira gue cemburu dan pengen dia sakit hati kan?" "Ish, bukan lah! Tujuannya ya mengetes perasaan Pak Indra ke elo, Ca." "Ogah! Gue gak masalah dia pergi sama siapapun. Mau gandeng satu cewek kek, mau gandeng sepuluh cewek juga gue gak peduli." Aku kesal. Ah, bukan, tapi sedikit marah. "Eh, kok elo sewot, neng?" Kia menatapku curiga. "Siapa yang sewot?" Edan ya si Indra! Udah sedot-sedot bibirku juga. Eh malah masih belum puas. Bawa cewek lain! Ih, bisa gak ya waktu diputar ulang dan aku selamat dari hisapan bibirnya yang seksi itu? "Fiks sih ini. Lihat gelagat lo, pasti lo cemburu kan?" Kia malah meledekku. "Kagak, Parjo! Ngapain gue cemburu?" "Eh, Pak Indra ke sini, Ca!" "Biarin!" ucapku ketus. Bodo amat lah, mau ke sini atau ke angkasa sekalian juga. "Kamu pulang sama siapa, Ca?" Suara itu! Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Indra? "Tentu saja dijemput sama Bang Fatih!" ucapku. Sengaja aku sebut Bang Fatih aja. Biasanya pria itu suka kesal tiap kali aku sebut nama Bang Fatih. "Gak mungkin. Fatih sekarang masih kerja. Kamu ikut bareng saya aja." Pak Indra melirik jam tangannya. Jelas aku menolak lah, "Gak, Pak. Terimakasih. Saya mau nunggu jemputan saja." "Gak apa, Ica. Kamu ikut bareng kami aja. Ayo!" wanita centil yang gak lepas dari lengan Pak Indra itu menatapku. Merinding a***y! Gerakannya seperti cacing kepanasan. "Gak usah, Mbak. Saya gak apa kok. Silakan Mbak sama Pak Indra duluan aja." "Ya sudah, dasar keras kepala. Ayo, Mulan! Kita pulang saja. Anak keras kepala ini memang susah dibilangin." Pak Indra menggeleng lalu pergi meninggalkan aku dan Kia. "Namanya Mulan ternyata." bisikku. "Cie yang lagi cemburu!" Plak! "Aduh, sakit Nyet!" Aku memukul lengan si Kia. "Lagian elo asal nyablak aja. Udah gue bilang, gua gak cemburu. Hanya saja gue baru tahu ternyata wanita itu namanya Mulan." "Eh, emang elo pernah ketemu?" Aku mengangguk. "Ya. Cewek itu yang pernah gue ceritain ke elo." "Wow, jadi dia yang membuat Pak Indra ninggalin elo di mal waktu itu?" "Hm, benar." "Agak lain sih." "Maksudnya?" "Ya aneh aja gitu. Pak Indra kalem masa suka sama belut sawah begitu. Jangan-jangan Pak Indra di bawah tekanan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN