"Mulai hari ini kamu tinggal sama Kakek ya, Na." kalimat itu seketika membuat gadis cantik bernama Rana tersentak.
Entah karena alasan apa, ibunya tiba-tiba menyuruhnya tinggal bersama Kakek dari keluarga mendiang ayahnya. Padahal selama ini, sang ibu tidak pernah sekalipun membawanya bertemu dengan pria tua itu.
Rana, atau gadis cantik yang baru lulus dari sekolah abu-abu itu tentu saja merasa heran. Hubungan sang ibu dengan keluarga mendiang ayahnya memang tidak baik sejak dulu. Rana tidak pernah tahu pasti, alasan yang jelas di balik masalah itu. Karena ibunya tidak pernah mau berkata jujur.
"Bu, kenapa aku harus tinggal sama Kakek? Aku mau tinggal sama Ibu aja." Rana mengeluh tidak terima.
Ibunya tampak mengusap sudut matanya yang berair, sembari menatap Rana dengan sendu."Kalau kamu tinggal sama Kakek, hidup kamu akan terjamin, Na." katanya.
"Tapi, Bu.." Rana hendak bersuara, tapi ibunya lebih dulu memotong ucapannya.
"Tidak ada penolakan, Rana. Keputusan Ibu sudah bulat, kamu akan tinggal sama Kakek Wisnu. Sebentar lagi dia akan menjemput kamu. Jadi kamu harus segera bersiap." kata ibunya tegas.
Rana seketika membisu, menelan kekecewaannya terhadap keputusan sepihak sang ibu. Wanita itu seenaknya memutuskan masalah ini tanpa melibatkan dirinya, tanpa ingin mendengarkan pendapatnya.
Berbagai macam asumsi mulai berkeliaran di dalam pikirannya. Tentang banyak hal yang mungkin menjadi pemicu sang ibu memutuskan hal ini. Apa mungkin karena dirinya pernah berkata ingin melanjutkan kuliah di saat keadaan mereka seperti ini?
Bertahun-tahun Rana dan ibunya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Sang Ibu hanya seorang pekerja buruh di salah satu pabrik yang letaknya berada di pinggir kota. Gajinya setiap bulan tidak pernah tersisa, selalu habis untuk membayar hutang dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
"Bu, kalau Ibu nyuruh aku tinggal sama Kakek karena nggak kuat bayar biaya kuliah buat aku.. aku bakalan ngerti. Aku nggak akan maksa Ibu. Aku akan kerja bantu Ibu aja di sini." mata Rana tampak berkaca-kaca ketika mengatakan kalimatnya.
Sang Ibu tampak diam, dengan air mata menggenang. Bahunya gemetar dengan deru napas yang sesak dan tersengal. Ibunya memilih diam, tidak menimpali ucapan Rana yang menunggu jawaban. Wanita itu memutuskan untuk berbalik, meninggalkan Rana dalam kebisuan yang menyesakkan.
"Jadi Ibu beneran buang aku?" gumam Rana dengan pandangan nanar.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tidak dapat terbendung lagi. Cairan bening itu perlahan membasahi pipinya. Gadis itu seketika diliputi rasa kecewa pada seseorang yang selalu ada bersamanya selama ini.
"Kalau itu yang Ibu mau, aku akan nurut. Aku akan buktikan kalau aku pasti baik-baik aja tinggal sama Kakek." gumam Rana penuh tekad.
Perlahan, Rana akhirnya turun dari ranjang reotnya yang berderit. Tas besar berwarna hitam yang berada di atas lemari dia turunkan. Rana mulai mengemasi bajunya satu persatu, memasukkannya ke dalam tas tersebut dengan hati sesak.
Tepat ketika dirinya menarik resleting tas hitam miliknya hingga tertutup, suara deru kendaraan terdengar jelas berhenti di depan rumahnya. Rana menahan napas, sebelum kemudian membuangnya secara kasar.
Srak
Bunyi gorden yang disibak memecah kesunyian di dalam kamar Rana. Tanpa perlu menebak, Rana sudah tahu siapa yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Ran-"
"Aku udah siap." Rana sengaja memotong ucapan ibunya. Sudah tidak kuasa lagi mendengar suara lembut itu.
Sang Ibu seketika bungkam, pun ketika Rana berlalu melewatinya tanpa melihatnya. Langkah keduanya yang terseret pelan membawa mereka ke ruang tamu. Tempat dimana seorang pria paruh baya tengah terduduk dengan tatapan lurus mengarah pada jendela luar.
"Kakek.." dengan ragu Rana memanggil seseorang yang belum pernah dia temui selama hidupnya.
Pria itu menoleh, dengan raut awal yang tampak datar. Namun begitu melihat ke arah Rana, sorot mata itu memancarkan keterkejutan.
"Ka-Kamu Rana?" suara pria paruh baya itu terdengar tercekat.
Dengan heran Rana mengangguk, sebelum berjalan mengikis jarak di antara mereka. Gadis itu berhenti di sudut ruangan yang berjarak beberapa langkah dari sang kakek duduk.
Wisnu masih belum mengalihkan perhatiannya dari Rana yang berdiri kaku di depannya. Dengan susah payah pria paruh baya itu berusaha berdiri, lututnya yang telah goyah ditopang tongkat kayu yang mengkilap. Rambutnya telah sepenuhnya beruban. Namun ketampanannya tampak tidak pudar walau telah ditelan masa.
"Kamu sudah siap, Rana?" tanyanya dengan suaranya yang nyaris bergetar.
"Em, Rana siap, Kek." suara halus Rana menembus kecanggungan di antara mereka.
Wisnu tampak mengulas senyum, dengan kilat aneh yang mengandung banyak makna. Tangannya terulur, menarik tangan Rana agar mengikuti langkahnya. Meninggalkan rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal gadis itu sejak sembilan belas tahun silam.
"Aku pergi, Bu." pamit Rana untuk terakhir kalinya menatap ke arah sang ibu yang memandangnya dengan derai air mata.
***