"Jadi ini rumah Kakek?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Rana ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun terlihat asri dan terawat.
Kakek Wisnu mengangguk, sebelum kemudian membuka pintu samping untuk keluar. Rana tanpa suara mengikuti sang kakek. Melangkah ragu memasuki rumah yang tampak sepi dari luar.
"Kenapa sepi banget, Kek? Apa Kakek cuma tinggal sendiri di sini?" lagi, Rana tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya.
Kakek Wisnu menoleh,"Kamu ternyata cerewet sekali ya." celetuknya dengan senyum kecil.
Rana tampak mengulum senyum malu-malu, berusaha untuk menahan diri.
Kakek Wisnu mengajak Rana untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa suara. Hening menyelimuti suasana rumah tersebut. Letaknya yang cukup terpencil membuatnya terasa tersisihkan dari dunia luar.
"Mulai sekarang kamar ini jadi milik kamu, Rana." kata Kakek Wisnu sesaat setelah berhenti di depan salah satu ruangan.
Rana belum bersuara, sibuk mengamati interior kamar barunya yang jauh berbeda dengan kamar miliknya dulu. Tidak ada ranjang reot yang berderit nyaring. Juga tidak ada kelambu usang penangkal nyamuk yang mengitarinya. Yang ada sekarang adalah ranjang berukuran sedang dengan kasur empuk sebagai alasnya. Ukuran kamarnya dua kali lipat lebih lebar dari sebelumnya.
Seketika Rana dirundung rasa senang melihat kamar yang dia idamkan sejak lama kini menjadi miliknya. Saking senangnya, gadis itu tanpa sadar memeluk sang kakek dengan raut sumringah.
"Kek, Rana suka banget sama kamar barunya. Makasih ya, Kek." suara Rana hampir memekik.
Kakek Wisnu berdiri kaku, sebelum mengangsurkan tawa gelinya yang terdengar sumbang."Apapun untuk cucu kesayangan Kakek." katanya menepuk punggung Rana.
Rana membalas senyumnya dengan riang dan menyerbu masuk ke dalam kamar barunya. Gadis itu terlalu asik mengagumi kamarnya, lupa dengan kehadiran sang kakek yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu pasti lelah karena perjalanan kita cukup jauh. Jadi lebih baik sekarang kamu istirahat saja, Rana." ujar Kakek Wisnu dengan perhatian.
Rana mengangguk semangat, menaiki ranjang empuknya tanpa perhitungan. Tak sadar jika gerakan grasa-grusunya itu membuat rok sebatas lututnya tersingkap naik memperlihatkan kulit mulusnya yang tidak seharusnya terlihat.
Glup
"Sial. Anak ini sepertinya akan mengganggu kewarasanku mulai sekarang." gumam Kakek Wisnu buru-buru berpaling, berjalan meninggalkan Rana di kamarnya.
Kakek Wisnu bergegas keluar dari kamar yang akan ditempati Rana mulai sekarang. Bulir keringat tampak membasahi pelipisnya. Langkah kakinya pelan, tapi penuh dengan perhitungan. Namun di dalam pikirannya, tengah berkeliaran sosok Rana yang begitu mirip dengan pujaan hatinya.
"Kenapa dia bisa mirip sekali dengan Tari? Andai dulu aku bisa menolak perjodohan itu, aku pasti akan hidup bahagia bersama Tari." wajah Kakek Wisnu tampak mengeras setiap mengingat kisah hidupnya yang menyedihkan.
Ketika usianya menginjak 16 tahun, orang tuanya memaksanya menikahi seorang gadis yang tidak dia kenal. Dia hanya tahu jika gadis bernama Kasih itu telah hamil di luar nikah dan kekasihnya tidak mau bertanggung jawab.
Wisnu merasa dibohongi oleh keluarganya sendiri karena menempatkan dirinya pada posisi yang sulit. Orang tua Kasih menjanjikan keluarganya warisan yang banyak jika dia mau menikahi gadis itu. Wisnu yang masih sangat muda kala itu, terpaksa menuruti perintah sang ayah.
Kisah hidup Wisnu belum berakhir sampai di situ. Setahun setelah melahirkan Randu, Kasih meninggal dunia karena kanker rahim yang dideritanya. Dengan terpaksa, Wisnu harus merawat bayi yang bukan anak kandungnya.
Lantas jika memang Randu, Ayah Rana bukanlah anak kandungnya, kenapa Wisnu mau merawat Rana?
Jawabannya karena Rana mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, Tari. Yang merupakan nenek dari gadis itu. Tari merupakan ibu dari Lisa, ibu Rana dari pernikahannya bersama pria lain. Dan alasan kenapa Wisnu membenci Lisa karena dia tidak terima Tari menikah dengan pria lain. Benar-benar sakit kakek tua ini.
"Oh Tari.. Kenapa kamu harus secepat itu pergi? Aku bahkan tidak pernah melihatmu sejak aku menikah dengan wanita itu." Kakek Wisnu kembali mengingat sosok Tari. Bayang-bayang wajahnya masih tergambar jelas diingatannya.
Pria paruh baya itu terdiam, hanyut dalam lamunan akan sosok yang masih begitu dicintainya. Pernikahannya dengan Kasih terasa hambar sejak awal. Tak ada cinta, juga tidak ada rasa lain yang menggelayuti hatinya selain rasa benci. Dan ketika dirinya terbebas dari jerat pernikahan yang membelenggunya selama setahun terakhir, Wisnu akhirnya bisa bernapas lega. Dia bertekad ingin mempersunting Tari, walau dengan status duda beranak satu yang disandangnya.
Wisnu pikir dia akan menang, berhasil merengkuh Tari untuk yang kedua kalinya. Tapi ternyata langkahnya harus terhenti, karena Tari telah menjadi milik orang lain. Wanita itu tampak bahagia di dalam pernikahannya, dengan seorang bayi kecil berada di gendongannya waktu itu.
Helaan napas berat terdengar dari pria paruh baya itu. Kakek Wisnu kembali bersedih ketika mengingat kisah cintanya yang berakhir pelik. Dia terus tenggelam dalam lamunannya, tanpa menyadari malam semakin larut.
***