KK | #3

817 Kata
"Pagi, dunia..." gumam Rana yang pagi ini merasa jauh lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Terhitung sudah tiga bulan dirinya tinggal bersama sang kakek. Dan Rana sangat menikmatinya. Kakek Wisnu memperlakukannya dengan baik. Semua kebutuhannya tercukupi tanpa perlu merengek dan menunggunya berbulan-bulan seperti saat tinggal bersama sang ibu. "Kamu sudah bangun rupanya." suara berat itu membuat Rana menoleh. Gadis itu mendapati sang kakek tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Rana tersenyum dan melangkah ringan menuju pria tua itu. Lantas mengecup pipinya singkat. "Pagi, Kek." sapanya riang. Wajah tua itu tampak bersemu, dengan seulas senyum menghiasi bibir kecoklatannya. Kakek Wisnu menatap dalam cucunya dan dengan gemas mencubit pipi Rana. "Bagaimana tidur kamu, hm? Apa sudah tidak kesusahan lagi?" tanya Kakek Wisnu masih dalam posisi yang sama. Rana tersenyum tipis, sembari bergelayut manja pada lengan sang kakek. Pipinya dia sandarkan pada d**a pria tua itu. Menikmati irama detak jantung Kakek Wisnu yang berdebar kencang tanpa tahu pasti penyebabnya. "Hari ini Kakek mau ngajak Rana kemana lagi?" tanya gadis itu, tanpa berniat menjawab pertanyaan Kakek Wisnu sebelumnya. Pria tua itu mendengus, diam-diam menghirup dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh gadis muda di dekapannya. Kedekatan ini telah terjalin seiring dengan berjalannya waktu. "Hari ini kita tidak kemana-mana, Rana. Kakek sedang tidak enak badan." jawab Kakek Wisnu sembari mengusap puncak kepala gadis itu. Rana bergumam sembari mendongak, menatap sang kakek dari jarak dekat. Diamatinya wajah tua itu yang tampak sedikit pucat. Mata jelaganya terlihat redup dan sayu. Dan suhu badan Kakek Wisnu terasa lebih hangat dari biasanya. "Kakek sakit? Kenapa baru bilang sama Rana? Sekarang Kakek lebih baik istirahat di kamar, ya." Rana menampilkan wajah khawatir. Kakek Wisnu cepat-cepat menggeleng, merasa tubuhnya baik-baik saja. Tapi Rana terus membujuknya untuk beristirahat. Hingga akhirnya pria tua itu menurut dengan syarat Rana mau menemaninya. "Rana pijitin ya, Kek?" tawaran itu terdengar menggiurkan bagi Kakek Wisnu. Maka tanpa basa-basi dia mengangguk, membiarkan Rana memijat bagian-bagian tubuhnya. Sentuhan halus pada punggungnya membuat Kakek Wisnu memejamkan matanya. Perutnya terasa tergelitik dengan sesuatu yang perlahan bangkit di antara kedua kakinya. "Gimana, Kek? Apa pijatan Rana enak?" tanya Rana ringan masih bersemangat memijat punggung polos kakeknya. Kakek Wisnu mengangguk, menyembunyikan suaranya yang mulai tercekat. Pijatan Rana tidak hanya membuat tubuhnya rileks, namun juga membangkitkan gelora di dalam dirinya. "Sekarang coba balik badan, Kek." pinta Rana yang langsung dituruti oleh Kakek Wisnu. Rana kembali mendaratkan tangannya pada kedua kaki Kakek Wisnu. Terus naik sampai ke pahanya yang terlapisi boxer tipis. Gadis itu mengerjap ketika mendapati pusat tubuh sang kakek mengeras. Namun bukannya takut, Rana justru dirundung rasa penasaran. "I-Ini apa, Kek?" tanya Rana dengan nada polos. Padahal kenyataannya gadis itu sebenarnya telah mengetahuinya. Kakek Wisnu tampak tercekat, dengan tatapan gelisah. Jika dia menjawab pertanyaan dari Rana, dia takut gadis itu akan berpikiran buruk terhadapnya. Tapi.. Greb Hmphh Belum sempat Kakek Wisnu bersuara, tiba-tiba saja Rana sudah menjatuhkan tangannya pada area itu. Menggenggam tongkat saktinya dengan sedikit cengkraman yang membuatnya meringis. "Lepaskan, Rana. Kamu tidak seharusnya memegang benda itu." kata Kakek Wisnu dengan napas tercekat. Rana menoleh, menggembungkan pipinya."Tapi Rana udah lama penasaran, Kek. Boleh ya Rana lihat?" pintanya. Doeng Kakek Wisnu seketika melotot mendengar permintaan Rana. Apa gadis itu tidak sadar dengan apa yang dia inginkan? Apa Rana pura-pura polos atau memang tidak tahu menahu akan benda itu. "Kakek..." suara lirih Rana berhasil mengusik ketenangan batin Kakek Wisnu. Pria tua itu berusaha tetap sadar dan buru-buru mendudukkan dirinya. Tidak mungkin dia membiarkan Rana melihat barangnya. Bisa-bisa gadis itu pingsan dan tidak mau berdekatan dengannya lagi. "Tidak, Rana. Kamu belum boleh melihatnya." kata-kata spontan terucap dari bibirnya. Mata Rana membulat lucu,"Terus kapan Rana boleh lihat, Kek? Apa Rana harus jadi cucu yang baik biar bisa lihat itu?" tanganya dengan semangat. Glek Sepertinya Kakek Wisnu telah salah bicara pada Rana. Membuat gadis itu tidak henti menanyakan pertanyaan yang sama. Ketenangan batin pria itu mulai terusik. Apalagi terdapat gadis cantik nan muda yang tengah berada di dekatnya. "Iya, kamu harus jadi cucu yang baik dulu. Setelah itu.." "Rana mau jadi cucu yang baik buat Kakek. Sekarang bilang sama Rana, Kakek mau dibuatin apa? Kopi? Teh? s**u?" Rana memotong ucapan Kakek Wisnu cepat. Kakek Wisnu tercekat,"Su-Su?" lirihnya sembari tanpa sadar mengamati dua bola menggelantung indah di depan matanya yang merupakan milik Rana. Rana mengangguk cepat, mencondongkan tubuhnya pada Kakek Wisnu tanpa menyadari belahan dadanya yang terlihat jelas karena gadis itu hanya mengenakan tanktop. Glup "Godaan macam apa ini?" erang Kakek Wisnu dalam hati. Mata tuanya tidak dapat berpaling dari pemandangan yang menyejukkan mata tersebut. Jakunnya naik turun, dengan tenggorokan yang mulai terasa tercekat. "Kakek tiba-tiba menginginkan susu." lirihnya tanpa sadar. Rana menyipit,"Kakek mau s**u?" tanyanya memastikan. Kakek Wisnu mengangguk, tanpa mengalihkan perhatiannya pada belahan d**a Rana. "Ya udah, Kakek tunggu sebentar ya. Rana buatin dulu di dapur." kata Rana yang langsung melesat meninggalkan Kakek Wisnu di kamarnya. Pria tua itu mengusap wajahnya dengan kasar."Sial. Sepertinya aku memang sudah tidak waras." rutuknya pada dirinya sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN