Suara batuk yang terdengar dari bilik kamar Kakek Wisnu menyita perhatian Rana. Gadis itu baru saja membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang berada di dekat dapur. Tetesan air masih menetes membasahi lantai ketika Rana melewatinya dengan hanya memakai handuk sebatas paha. Rambut panjangnya basah, dibiarkan terurai berantakan menutupi pundaknya.
"Kakek?"
Panggilan lembut itu membuat Kakek Wisnu menoleh. Matanya yang sayu seketika membulat kala melihat penampilan Rana saat ini.
"Kakek udah minum obat?" tanya Rana biasa sembari mendekati Kakek Wisnu.
"Rana kamu.."
Kakek Wisnu tidak dapat melanjutkan ucapannya. Penampilan Rana kali ini benar-benar mengejutkannya. Walau gadis itu sering memakai pakaian yang minim, entah kenapa saat Rana hanya memakai handuk sebagai penutup tubuhnya, dia tidak bisa berpikiran jernih lagi.
"Kenapa, Kek? Kakek butuh sesuatu?" tanya Rana masih belum menyadari ketegangan yang dirasakan oleh sang kakek.
Kakek Wisnu menghembuskan napas beratnya."Kenapa kamu ke sini? Kenapa tidak ganti baju dulu?" tanyanya.
Rana menatap sang kakek dengan pandangan teduh. Merapatkan dirinya pada pria tua itu tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang hanya tertutup selembar handuk.
"Rana khawatir waktu dengar Kakek batuk. Kakek udah minum obat belum?" tanya Rana lagi sembari memeluk lengan pria tua itu.
"Rana ini.. huft.. Kakek tidak kenapa-napa. Kakek sudah minum obat tadi. Sekarang lebih baik kamu lekas ke kamar, ganti baju." Kakek Wisnu benar-benar sudah lelah dengan tingkah tak terduga dari Rana.
Rana mendengus, sebelum akhirnya melepaskan gelayutannya pada lengan sang kakek. Tapi gadis itu masih belum melepas jarak di antara mereka.
"Kakek kenapa sih, tiap Rana deket-deket kayak gini Kakek malah ngehindar terus?" tanya Rana dengan raut kesal.
Kakek Wisnu menggeleng cepat."Bukan seperti itu, Rana. Tapi..."
"Apa Kakek benci sama Rana juga? Kakek terpaksa nampung Rana di sini?" tangis Rana seketika tak terbendung.
Kakek Wisnu tentu merasa panik melihat Rana menangis. Dia berusaha menenangkan gadis itu dengan banyak cara. Sampai akhirnya Rana mulai tenang ketika berada di dalam pelukannya.
"Sudahlah. Semua ucapan kamu tidak benar. Kakek tidak membencimu juga tidak terpaksa menampungmu di sini. Kakek tulus menyayangimu, Rana." ujar Kakek Wisnu sembari menepuk pelan punggung Rana.
Rana tampak berhenti menangis dan mengurai pelukannya dari sang kakek. Ditatapnya wajah tua itu yang memandangnya dengan teduh. Membuat hati Rana merasa hangat.
Kakek Wisnu yang ditatap demikian juga merasakan hal yang sama. Sampai dia tidak sadar jika jarak wajah mereka semakin menyempit, hingga akhirnya...
Cup~
Sentuhan itu mengalir begitu saja pada bibir ranum Rana. Gadis itu membeku dengan mata membulat. Kakek Wisnu yang menyadari apa yang telah dia perbuat berubah panik.
"Ra-Rana itu... maaf, Kakek tidak bermaksud melakukan itu, Rana. Tolong jangan.."
"Kakek.." panggilan lirih Rana membuat Kakek Wisnu menegang.
Kakek Wisnu mundur perlahan, menciptakan jarak yang membentang di antara mereka. Pria tua itu berusaha menghindari untuk tidak menatap tubuh Rana yang menggoda iman.
"Sebaiknya kamu ke kamar sekarang, Rana. Kakek ingin istirahat." Kakek Wisnu mengatakannya tanpa berani menatap ke arah Rana.
Rana yang tadinya bergeming, merasa terusik karena Kakek Wisnu mengusirnya dengan halus. Bukannya keluar, gadis itu justru semakin mendekat, mengikis jarak di antara dirinya dan sang kakek.
"Rana tau Kakek nggak beneran mau istirahat." suara Rana terdengar rendah, nyaris berbisik.
Tatapan Rana meredup, mengamati ekspresi wajah sang kakek yang berubah tegang. Entah kenapa berada di dekat pria tua itu selalu membuat Rana merasa gelisah. Padahal seharusnya rasa itu tidak boleh dia rasakan.
Namun ketika Kakek Wisnu untuk pertama kali menyentuh bibirnya, pendirian itu perlahan mulai goyah. Rana tidak peduli dengan status mereka sekarang. Dia juga tidak mempedulikan usia Kakek Wisnu yang dua kali lipat dari usianya.
"Kek.." Rana kembali memanggil Kakek Wisnu dengan suara lembutnya.
Kakek Wisnu benar-benar merasa kacau mendengarnya. Suara lembut Rana yang menghampiri gendang telinganya, berhasil menggetarkan jiwanya. Batas kewarasannya perlahan mulai retak, tergantikan dengan keinginan untuk melakukan sesuatu pada gadis itu.
Maka ketika Rana menggenggam punggung tangannya yang bertumpu pada sisi ranjang, Kakek Wisnu tak lagi menahan diri. Wajahnya kembali bergerak maju, mendekat pada wajah ayu Rana.
Cup
Sentuhan itu kembali mendarat pada bibir ranum Rana. Kali ini tidak buru-buru dilepas, melainkan dihisap dengan gerakan lambat. Waktu seakan berhenti berputar bagi keduanya. Kakek Wisnu yang telah kalah menjaga kewarasannya, dalam keadaan sadar mulai mencium cucunya dengan lembut.
Emnh..
Lenguhan tertahan Rana membuat mata Kakek Wisnu yang semula terpejam, perlahan kembali terbuka. Netranya bertemu pandang dengan iris jernih yang tengah menatapnya dengan redup. Tak ada penolakan, juga dorongan pada dadanya. Rana seolah membiarkan bibirnya dilumat habis oleh kakeknya.
Unch..
"Kamu benar-benar bahaya, Rana." bisik Kakek Wisnu sesaat setelah dirinya melepas ciumannya. Wajahnya masih berjarak sangat dekat dengan Rana. Dengan ujung hidung yang saling bertemu.
"Kenapa Kakek cium Rana?" pertanyaan Rana terlontar dengan suara yang nyaris seperti sebuah bisikan.
Kakek Wisnu menatap tajam Rana yang seketika bergidik takut. Tangannya bergerak menggenggam erat bahu polos gadis itu, mempertahankan kedekatan mereka.
"Karena kamu kesayangan Kakek." balas Kakek Wisnu dengan senyum miring.
Tatapan Rana meredup, dengan rona merah menghiasi kedua pipinya. Dia yang selama hampir dua puluh tahun ini hidup tanpa sosok laki-laki di sisinya, merasa begitu senang.
"Rana pengen jadi kesayangan Kakek." lirihnya sembari melingkarkan kedua lengan kecilnya pada leher sang kakek.
Kakek Wisnu tersenyum culas, tanpa ragu merangkul pinggul Rana. Kedekatan mereka kali ini membuatnya tak ingin mengalah. Biarkan saja semua ini terjadi. Toh, Rana bukanlah cucu kandungnya sendiri.
"Jadilah gadis penurut, maka kamu akan selalu menjadi kesayangan Kakek." balas Kakek Wisnu berbisik.
Rana mengangguk cepat, sembari menjinjitkan kakinya. Entah kenapa, dia ingin merasakan bibir Kakek Wisnu lagi. Menyentuhnya dengan dalam dan panas.
Kakek Wisnu yang melihat Rana terus mendekat, tak tahan untuk tidak kembali mempertemukan bibir mereka. Pria tua itu sedikit meremas pinggul Rana, menekan punggungnya dengan satu tangannya yang bebas.
Perlahan, Rana yang tadinya diam saja mulai menyesuaikan diri. Gadis itu mulai membalas ciuman Kakek Wisnu walau dengan gerakan kaku. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban bahwa Rana benar-benar masih polos.
Ciuman itu berlangsung lama, dengan tangan Kakek Wisnu yang menjalar kemana-mana. Pria tua itu tak tahan untuk tidak menyentuh gundukan kenyal milik Rana yang mendesak dadanya. Meremasnya dengan lembut, menciptakan gelenyar panas untuk Rana.
Rana menarik diri, namun dengan jarak yang masih menyempit. Gadis itu mendongak, menatap sang kakek dengan pandangan menerka.
"Kenapa Kakek menyentuhnya?" tanya Rana.
Kakek Wisnu menatap Rana dalam."Karena Kakek penasaran, Rana. Apa kamu tidak menyukainya?" jawabnya disertai pertanyaan.
Rana menggeleng kecil, sembari menggigit bibir."Rana suka, tapi takut, Kek." balasnya lirih.
Kakek Wisnu semakin mengeratkan rangkulannya pada tubuh mungil itu. Tubuh yang hanya berbalut selembar handuk kecil yang akan dengan mudah terlepas jika dia mau melepaskannya kapan saja.
"Tidak perlu takut, Rana. Kamu pasti akan menyukainya." timpal Kakek Wisnu cepat. Tak ingin Rana berubah pikiran.
"Tapi.."
Kakek Wisnu mengamit ujung dagu Rana."Apa kamu tidak ingin menjadi kesayangan Kakek?" tanyanya dengan suara mengintimidasi.
Rana buru-buru menggeleng dengan raut tegang." Rana mau, Kek." balasnya cepat.
"Kalau begitu kamu harus menuruti semua ucapan Kakek mulai sekarang." kata Kakek Wisnu tegas.
Dengan ragu yang masih menggelayuti pikirannya, Rana akhirnya mengangguk. Dia tidak ingin kehilangan kasih sayang dari Kakek Wisnu.
"Gadis pintar. Kakek semakin menyayangimu, Rana." senyum lebar terbit di bibir kecoklatan milik Kakek Wisnu. Merasa senang karena Rana akan menjadi gadis penurut seperti yang dia inginkan.
***