KK | #5

1568 Kata
"Kita mau kemana, Kek?" tanya Rana penasaran ketika pagi tadi Kakek Wisnu tiba-tiba saja menyuruhnya berdandan. Kakek Wisnu menoleh sebentar ke arah Rana, sebelum kembali menghadap depan. Mobil bututnya melaju sedang menembus jalanan. Melewati beberapa rumah warga yang jaraknya berjauhan. "Kakek ingin membelikan sesuatu untuk kamu, Rana." jawab Kakek Wisnu tersenyum tipis. Mendengar itu Rana tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Dengan antusias dia merapatkan tubuhnya, memeluk lengan sang kakek dengan manja. "Kakek mau membelikan Rana apa?" tanyanya penasaran. Kakek Wisnu menatap Rana sekilas, menikmati rasa hangat dari pelukan gadis di sampingnya. Apalagi saat merasakan sesuatu yang kenyal mengenai lengannya, membuatnya hampir terlena. "Baju-baju baru. Nanti kamu bebas memilih model baju yang kamu suka." jawab Kakek Wisnu tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan. Bibir Rana membulat dengan mata berbinar. Itu artinya koleksi bajunya akan bertambah banyak. Rana tidak akan memakai baju itu-itu saja yang sudah lama dan warnanya hampir pudar. "Kakek.. Rana seneng banget karena Kakek udah baik sama Rana." tutur Rana mengeratkan gelayutannya. Kakek Wisnu mengulum senyum misterius."Karena kamu kesayangan Kakek." balasnya mengelus puncak rambut Rama sekilas. Keduanya tersenyum penuh arti. Rana dengan rasa senangnya karena sang kakek begitu baik terhadapnya. Sedangkan Kakek Wisnu merasa senang karena Rana semakin manja padanya. Tidak lagi canggung melakukan skin to skin dengannya. Perjalanan mereka menuju toko pakaian yang Kakek Wisnu maksud akhirnya sampai juga. Kakek Wisnu langsung membawa Rana masuk ke dalam toko, memintanya untuk segera memilih baju yang dia sukai. Ketika Rana tengah disibukkan dengan kegiatannya memilih baju, tatapan Kakek Wisnu tanpa sengaja tertuju pada gaun malam wanita yang terpajang di etalase toko. Kainnya tipis dan menerawang, hampir tidak dapat menyembunyikan lekuk tubuh yang memakainya. Potongan dadanya rendah, juga panjangnya hanya sejengkal dari bawah perut. Tiba-tiba saja Kakek Wisnu membayangkan Rana memakai pakaian itu. Pasti gadis itu akan terlihat sangat menggoda. Tanpa sadar Kakek Wisnu menjilat bibirnya yang terasa kering karena memikirkannya. "Ekhem. Rana, ke sini sebentar." pinta Kakek Wisnu pada sang cucu yang berjarak tidak jauh darinya. Rana mendekat, dengan raut heran."Ada apa, Kek?" tanya gadis itu. Kakek Wisnu mengelus jambang putihnya yang mulai panjang dengan tatapan meneliti."Apa kamu tidak ingin membeli pakaian itu?" tanya pria itu sembari menunjuk pakaian yang dia amati sejak tadi. Tatapan Rana mengikuti telunjuk Kakek Wisnu yang mengarah pada lingerie tipis di depan sana. Gadis itu spontan mengerjap dan tampak membeku. "Ke-Kenapa Kakek nunjuk pakaian itu? Bukannya pakaian itu cuma boleh dipakai sama wanita yang udah menikah?" Rana akhirnya bersuara, setelah sempat terdiam. Kakek Wisnu terkesiap karena ternyata Rana mengetahuinya. Dia pikir gadis itu benar-benar polos. Maka dari itu Kakek Wisnu cepat-cepat memutar otak agar Rana mau menurutinya. "Tapi Kakek ingin melihat kamu memakainya. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik." tutur Kakek Wisnu dengan menampilkan raut berharap. Rana tidak langsung menimpali ucapan Kakek Wisnu. Dia tengah dilanda rasa bingung antara mengiyakan atau menolaknya. Tapi Kakek Wisnu sudah berbaik hati membelikannya banyak baju baru. Apa iya Rana harus menolaknya? Apalagi pria tua itu sempat berkata jika dia ingin menjadi kesayangan sang kakek, maka Rana harus selalu menuruti permintaannya. Rana akhirnya mengangguk, walau dengan raut gelisah."Ya udah, Kek. Rana mau." Kakek Wisnu tidak dapat menyembunyikan raut senangnya. Dengan senyum lebarnya dia menepuk-nepuk puncak kepala Rana dengan sayang. Membuat sang empu dilanda rasa hangat karena perhatian kecil tersebut. "Gadis pintar. Kakek semakin menyayangimu, Rana." kata Kakek Wisnu lembut. Entah sejak kapan, Rana mulai menyukai kalimat tersebut. Dia merasa senang setiap Kakek Wisnu menyebutnya gadis pintar dan juga mengatakan sayang padanya. Rana jadi merasa diinginkan dan disayang. Gadis itu akhirnya menampilkan senyum manisnya. Baginya, menuruti ucapan Kakek Wisnu telah menjadi kewajibannya. Rana akan selalu menuruti permintaan pria itu mulai sekarang. "Ayo, kita ke sana. Kamu sudah selesai memilih bajunya, kan?" ajak Kakek Wisnu. Rana mengangguk cepat."Udah, Kek." balasnya. Kakek Wisnu gantian mengangguk dan menuntun Rana untuk berjalan di depannya. Pria tua itu benar-benar membelikan Rana gaun malam kurang bahan tersebut. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat Rana dalam balutan gaun itu nanti malam. Singkat cerita, Kakek Wisnu dan Rana telah kembali ke rumah mereka. Rana tampak semangat membuka barang belanjaannya dan memilahnya satu persatu di ruang tamu. Melihat itu, Kakek Wisnu ikut merasa senang. Mudah sekali membuat gadis itu ceria. "Kamu suka, Rana?" tanya Kakek Wisnu mendekat. Rana tersenyum sumringah, sampai matanya menyipit."Rana suka banget, Kek." balasnya. Kakek Wisnu mendudukkan dirinya di samping gadis cantik itu. Lantas merangkulnya tanpa rasa canggung. Ditariknya dagu Rana agar melihat ke arahnya. Sembari menatap gadis itu dengan rumit. "Kalau kamu suka, kenapa tidak memberikan Kakek hadiah, hm?" ujar Kakek Wisnu dengan suara serak. Rana dilanda rasa bingung. Dia tidak berpikir untuk memberikan sang kakek hadiah. Lagipula Rana juga tidak memiliki uang sepeser pun untuk membelinya. "Hadiah? Tapi Rana nggak punya uang untuk membelinya, Kek." jawab Rana dengan raut bersalah. Kakek Wisnu tersenyum tipis, polos sekali gadis di depannya ini, pikirnya. Ditangkupnya wajah mungil Rana agar menatapnya. Lantas dengan gemas Kakek Wisnu mengamatinya. "Kakek tidak menyuruh kamu untuk membelinya, Rana. Kamu bisa memberikan Kakek hadiah lain tanpa harus mengeluarkan uang." sahut Kakek Wisnu. Rana mengerjap bingung,"Caranya, Kek?" tanyanya pelan. Kakek Wisnu tersenyum penuh arti. Lantas menunjuk bibirnya dengan ujung jari. Rana yang mengerti seketika menunduk malu. Semburat merah menghiasi kedua pipinya dengan cepat. "Sayang.." panggil Kakek Wisnu kala Rana belum bereaksi. Gadis itu terus menunduk sembari memilin ujung bajunya. Rana akhirnya mendongak, dengan bibir dia gigit gelisah."Rana malu, Kek." lirihnya. "Kenapa harus malu, hm? Kita sudah pernah melakukannya. Kamu harus terbiasa mulai sekarang, Rana." balas Kakek Wisnu lembut namun tegas. Rana membasahi bibirnya yang terasa kering. Sebelum akhirnya mengangguk malu-malu. Wajahnya perlahan terangkat, menatap sang kakek dengan binar polos. Menekan rasa malunya, Rana mulai mendekatkan wajahnya pada Kakek Wisnu. Matanya refleks terpejam ketika bibirnya akhirnya bersentuhan dengan bibir kecoklatan milik sang kakek. Cup "U-Udah, Kek." cicitnya menarik diri. Kakek Wisnu mengerjap kala kehilangan kelembutan benda kenyal yang baru saja menyentuh bibirnya. Baginya sentuhan itu terasa kurang dan sangat sebentar. Kakek Wisnu merasa belum puas. "Belum, Rana. Kenapa sebentar sekali?" protesnya. Rana menggigit bibir bawahnya,"Rana belum bisa gerak seperti Kakek." adunya gelisah. Tawa Kakek Wisnu seketika menggema."Kamu menggemaskan sekali, Rana." kekehnya menarik ujung hidung Rana dengan gemas. Rana hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Kakek Wisnu. Tapi pria tua itu sepertinya tidak ingin melewatkan pemandangan menggemaskan itu. Sehingga Kakek Wisnu kembali mengangkat wajah Rana agar tetap menghadapnya. "Sekarang ikuti apa yang Kakek lakukan, Rana. Pelan-pelan saja, dan nikmati." suara Kakek Wisnu terdengar berat di akhir kalimatnya. Belum sempat bereaksi, Kakek Wisnu sudah mendekatkan wajahnya ke arah Rana. Menyentuh bibir ranum itu dengan sentuhan ringan. Sebelum perlahan mulai melumatnya dengan lembut. Tubuh Rana menegang, dengan jantung berdebar kencang. Selalu seperti ini ketika Kakek Wisnu menciumnya. Namun bukannya merasa tidak nyaman, Rana justru menyukai reaksi tubuhnya. Bibir keduanya saling bergerak, mencari kenyamanan dalam ciuman yang tidak seharusnya terjadi. Kakek Wisnu membimbing Rana untuk mengalungkan lengannya pada lehernya. Membuat posisi mereka semakin intim dan saling bersinggungan. Jika kemarin Kakek Wisnu hanya menciumnya saja tanpa melakukan apapun, kali ini pria tua itu turut menggerakkan tangannya meremas pan-tat Rana dengan gemas. Rana sempat melenguh di sela ciuman mereka. Namun Kakek Wisnu gencar menyerangnya dengan ciuman yang memabukkan. Membuat gadis itu terlena dan lupa akan penolakannya. Merasa tidak leluasa dengan posisi mereka saat ini, Kakek Wisnu lantas menarik Rana untuk bangun. Gadis cantik itu tampak kebingungan, seolah berusaha mencerna apa yang terjadi. Tapi lagi-lagi Kakek Wisnu kembali menyerangnya. Kali ini dengan mencumbu leher jenjangnya. "Emnh.. Kek.." lirih Rana merasa geli. Kakek Wisnu terus melancarkan aksinya. Dia ingin membuat Rana merasa ketagihan dengan sentuhannya. Sehingga dia akan dengan mudah merasakan kenikmatan surgawi bersama Rana tanpa perlu memaksanya. "Kamu wangi sekali, Sayang." bisik Kakek Wisnu pada sang cucu. Ciumannya terus menjalar turun, menyentuh kulit d**a Rana yang terekspos karena gadis itu hanya mengenakan tanktop dengan belahan cukup rendah. Tubuh Rana yang mengkal membuat Kakek Wisnu merasa tidak tahan. Apalagi jika setiap hari disuguhi pemandangan semenggiurkan ini. Rana terkikik merasa geli karena kumis sang kakek yang terus menggesek kulitnya. Gadis itu tidak sekalipun risih, hanya merasa geli saja saat pertama kali Kakek Wisnu menyentuhnya. Benar-benar somplak. Gyut "Ahh..Kakek.." Rana melenguh manja saat Kakek Wisnu meremas salah satu bukit kembarnya."Ukurannya pas sekali di tangan Kakek." gumam pria tua itu, asik meremas-remas squishy milik sang cucu. Rana menjilat bibirnya yang terasa bengkak. Netranya tak lepas menatap tangan keriput Kakek Wisnu yang tengah berada di bukit kembar sebelah kanannya. Entah kenapa sentuhan tersebut membuat perut bagian bawahnya terasa geli. Melihat Rana yang tidak menolak sentuhannya tentu membuat Kakek Wisnu merasa besar kepala. Dia jadi ingin sesuatu yang lebih diri ini. Pria tua itu sepertinya benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. "Kakek gemas sekali dengan melon ini, Sayang. Apa Kakek boleh melihatnya, hm?" Rana tampak terkejut mendengar permintaan sang kakek."Tapi Rana malu, Kek." lirihnya dengan pipi bersemu. Kakek Wisnu yang sudah tidak tahan terus membujuk. Menyuarakan rayuannya agar keinginannya tercapai."Kenapa harus malu, Rana? Kita bukan orang lain, kan? Ayolah, Sayang. Kakek sudah tidak sabar ingin melihatnya." bujuknya. Didesak terus oleh sang kakek membuat Rana akhirnya goyah. Dengan gerakan malu-malu dia mengangguk, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Kakek Wisnu terlihat senang sekali karena Rana mau menurutinya. Dengan tidak sabaran dia hendak menarik lepas tanktop yang Rana kenakan. Sampai kemudian... Tok tok tok.. "Pak Wisnu.." panggilan keras dari luar membuat keduanya tersentak. Rana spontan menarik diri dari pelukan sang kakek. Membuat sang empu mendesah napas lemas karena gagal menikmati s**u segar milik sang cucu. "Sial. Siapa yang mengganggu kesenanganku." umpat Kakek Wisnu dengan wajah menahan kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN