bc

Pesona Big Boss

book_age18+
287
IKUTI
2.0K
BACA
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
boss
stepfather
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
brilliant
city
office/work place
addiction
like
intro-logo
Uraian

Setelah melihat tunangannya tidur dengan wanita lain di sebuah kamar hotel. Melinda menyalakan mesin mobilnya. Kepalanya terasa berat—perpaduan antara amarah, tangis, dan rasa kantuk yang mulai menyerang.

Hingga—

 

BRAAAK!

Tubuhnya tersentak ke depan. Suara benturan logam bergema di telinga. Melinda langsung melebarkan matanya, panik. Dia baru sadar mobilnya menabrak bagian belakang sebuah mobil lain di depannya.

Namun yang membuatnya terperangah adalah… mobil itu sangat mewah, cat hitamnya berkilau sempurna meski di bawah lampu jalan yang redup. Jelas ini bukan mobil biasa. Belum sempat ia berpikir, pintu mobil mewah itu terbuka. Seorang lelaki keluar dengan langkah mantap. Dari kejauhan, posturnya tinggi dan tegap, setelan jasnya rapi. 

Pria itu berjalan mendekat, mengetuk kaca mobil Melinda keras-keras. “Turun sekarang.” Suaranya dalam dan tegas, tanpa sedikit pun nada basa-basi.

Ketukan berubah menjadi hentakan keras. “Jangan paksa saya memecahkan kaca mobilmu, Nona.” Nada ancamannya begitu dingin, membuat bulu kuduk Melinda meremang.

***

chap-preview
Pratinjau gratis
Membuktikan Sendiri
"Reiner selingkuh? Bawa perempuan ke hotel? Itu tidak mungkin. Aku harus membuktikan jika ucapan Jessica salah," bantah Melinda, suaranya bergetar tetapi dipaksa untuk tegas. Pintu mobil mewah berwarna hitam itu terbuka. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai turun dengan langkah mantap. Penampilannya sederhana—blouse putih satin, celana panjang berpotongan rapi, dan heels rendah—namun tetap memancarkan aura elegan yang khas. Wajar saja, dia adalah nona muda keluarga besar pemilik salah satu perusahaan properti terbesar di kota. Meski hatinya terasa berat, Melinda menegakkan punggungnya. Matanya memandang ke arah bangunan hotel bintang tiga di depannya, yang tidak seprestisius hotel-hotel tempat Reiner biasa menginap. Justru itu yang membuatnya curiga—Reiner tidak pernah memilih tempat seperti ini… kecuali jika ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pintu putar kaca berkilau memantulkan bayangannya ketika ia melangkah masuk. Aroma khas lobi hotel—perpaduan wangi karpet baru dan bunga lili segar—menusuk hidungnya. Langkahnya cepat, namun terukur. Seorang resepsionis menunduk menyambutnya. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Nona?” Melinda menatapnya, mencoba menahan getar di suaranya. “Saya mencari seorang tamu. Namanya Reiner Aditya. Bisa tolong cek kamarnya?” Jantungnya berdegup lebih kencang. Setiap detik terasa lama, seolah jarum jam sengaja mempermainkannya. Satu bagian dari dirinya berharap Jessica hanya salah dengar… tapi ada bagian lain yang siap terluka. Resepsionis itu mengetik cepat di komputer, lalu mengangkat kepala dengan senyum sopan. “Maaf, Nona. Untuk alasan privasi, kami tidak bisa memberikan informasi tamu yang menginap.” Melinda menahan napas. Dia sudah menduga jawaban itu. Tapi bukan berarti dia akan menyerah begitu saja. “Oh, baiklah… kalau begitu saya tunggu di lounge saja.” Suaranya tenang, padahal di dalam dadanya, rasa gugup dan marah saling berdesakan. Dia berjalan ke area lounge yang menghadap langsung ke lift. Duduk di kursi empuk berwarna krem, matanya tak berhenti mengawasi siapa saja yang keluar-masuk. Lima belas menit berlalu. Jantungnya hampir berhenti ketika matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal—Reiner. Tubuh tinggi itu keluar dari lift, mengenakan kaos polos dan jaket tipis. Dia tidak sendirian. Seorang perempuan berambut sebahu, mengenakan gaun santai warna biru muda, berjalan di sampingnya sambil tertawa pelan. Melinda tak segera bangkit. Dia justru meraih ponselnya, mencoba memotret dari jauh. Namun tangan itu sedikit bergetar. “Tidak… ini pasti bukan yang aku pikirkan,” bisiknya, meski gambar di depannya jelas menusuk mata. Reiner dan perempuan itu berjalan ke arah restoran hotel. Di sela langkahnya, Melinda melihat detail kecil yang membuat darahnya dingin—perempuan itu membawa jaket Reiner, yang pernah dibelinya khusus untuk tunangannya itu. Dan di meja resepsionis, Melinda sempat mendengar lirih suara petugas bellboy berbicara pada rekannya, “Tamu di kamar 507 minta pesanan makan malamnya diantar jam delapan nanti. Kamarnya tidak dikunci.” Kamar 507. Angka itu langsung terpatri di kepala Melinda. Melinda menggenggam erat tas kecilnya. Tatapannya tertuju ke arah lift yang baru saja menutup setelah membawa Reiner dan perempuan itu turun ke restoran. “Kamar 507…” pikirnya. Itu satu-satunya kunci yang ia punya saat ini. Dia berdiri perlahan dari kursinya, lalu berjalan ke arah resepsionis dengan senyum sopan. “Maaf, saya ini teman dekat tamu di kamar 507. Dia sepertinya lupa membawa powerbanknya Boleh saya titipkan di kamarnya?” tanyanya santai, sambil mengeluarkan benda acak dari dalam tas—power bank. Resepsionis itu tampak ragu. “Maaf, Nona. Kami tidak bisa memberikan akses ke kamar tamu tanpa izin—” Belum sempat kalimat itu selesai, seorang petugas housekeeping keluar dari pintu staf, membawa kereta dorong berisi handuk dan perlengkapan kebersihan. Melinda menoleh cepat, lalu berjalan ke arahnya. “Permisi, saya mau menitipkan ini ke kamar 507. Teman saya sedang makan di restoran, katanya pintunya tidak terkunci,” ucapnya sambil tersenyum ramah. Petugas housekeeping itu, tampaknya terburu-buru, mengangguk tanpa banyak tanya. “Oh, baik, ikut saya, Nona.” Jantung Melinda berdetak kencang saat lift bergerak naik. Begitu tiba di lantai lima, lorong sunyi menyambutnya. Lampu temaram memantulkan kilau emas di karpet bermotif. Petugas itu berjalan di depan, lalu mengetuk pintu 507 pelan. Tak ada jawaban. Dia pun mendorong pintu yang memang tak terkunci, lalu mempersilakan Melinda masuk sebentar. Begitu langkahnya menjejak di dalam kamar, Melinda membeku. Ada dua gelas wine setengah terisi di meja, sepatu hak tinggi perempuan tergeletak dekat sofa, dan kemeja milik Reiner tergantung sembarangan di kursi. Suara lift yang berbunyi dari ujung lorong membuat darahnya dingin. Itu berarti… Reiner atau perempuan itu bisa saja kembali kapan saja. Melinda berdiri terpaku di tengah kamar, matanya menyapu setiap sudut. Aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal bercampur dengan wangi floral lembut—jelas bukan miliknya. Tangannya gemetar saat ia menyentuh gelas wine di meja. Masih hangat. Itu artinya Reiner dan perempuan itu baru saja meninggalkannya beberapa menit lalu. Tiba-tiba… Suara lift dari ujung lorong terdengar jelas, disusul langkah kaki berdua yang mendekat. Melinda tersentak. Panik menyergapnya seperti badai. Dia memandang ke pintu kamar yang masih setengah terbuka—sumber bencana yang akan membongkar semua ini. Langkah kaki semakin dekat. Suara tawa perempuan itu terdengar samar, bercampur dengan nada bicara santai Reiner. Otak Melinda bekerja cepat. Dia tak mungkin keluar sekarang—kalau bertabrakan di pintu, habislah semuanya. Pandangannya langsung tertuju pada lemari pakaian besar di sudut kamar. Dengan cepat, dia melangkah dan menyelinap masuk, menutup pintunya rapat. Di dalam gelap, nafasnya terdengar begitu keras di telinganya sendiri. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, memaksa dirinya untuk diam. Pintu kamar terbuka. Langkah kaki memasuki ruangan. “Aku taruh jaketmu di sofa, ya,” suara perempuan itu terdengar jelas, diikuti suara Reiner yang tertawa kecil. “Iya, makasih… sebentar, aku mau ambil minum.” Melinda bisa merasakan detak jantungnya semakin menggila. Melalui celah kecil di pintu lemari, ia melihat Reiner berjalan menuju meja, mengambil gelas wine—dan untuk sepersekian detik, tatapannya menyapu ke arah lemari. Dia berhenti. Menatap lama. Melinda nyaris menutup mata, berdoa dalam hati agar Reiner tidak memeriksanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
28.5K
bc

TERNODA

read
197.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
232.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
187.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
23.1K
bc

My Secret Little Wife

read
131.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook