Rencana Melinda

1125 Kata
Tiba-tiba ponsel Melinda berdering. Melinda melihat layar ponselnya. Nama kontak Mama yang menelpon. Namun Melinda memilih mengabaikannya, “Kalau aku angkat pasti mama marah-marah.” “Lebih baik aku pulang sekarang.” Ucap Melinda kemudian. Melinda pun masuk ke dalam mobilnya da melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, supaya bisa sampai lebih cepat. Setibanya Melinda di depan rumahnya, Anne ibu Melinda menunggu putri tunggalnya itu. Melinda menghampiri ibunya. “Hai Ma,” sapa Melinda santai. Anne menggelengkan kepalanya, “Mel, jangan ulangi ini sekali lagi. Ini sudah jam sepuluh dan kamu baru sampai rumah. KAlau papa tahu, kamu bakal kena amuk.” Melinda mendekati Anne dan memeluk ibunya, “aku janji akan mengulangi ini bu. Jangan ngadu ke papa ya.” “Iya,” jawab Anne luluh. “Masuklah dan segeralah tidur,” ucap Anne kemudian. “Makasih ibu sayang,” ucap Melinda sambil mencium ibunya. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah. Sementara Anne menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayangnya. Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai tipis kamar Melinda. Ia sudah bersiap lebih awal dari biasanya—blus putih rapi, celana panjang krem, rambut disisir rapi, dan riasan natural yang memberi kesan lembut. Dari luar, ia tampak seperti tunangan manis yang penuh perhatian. Tapi di dalam, otaknya sudah penuh strategi. “Aku harus pura-pura tidak tahu kalau Reiner selingkuh.” Satu jam sebelumnya Melinda menawarkan tumpangan pada Reiner karena Reiner memberitahu jika mobilnya sedang dalam perbaikan di bengkel. Mobilnya melaju menuju rumah Reiner. Begitu tiba, ia melihat Reiner sudah menunggu di depan gerbang, mengenakan kemeja biru muda yang digulung di bagian lengan. “Pagi, sayang,” sapa Reiner sambil tersenyum dan masuk ke kursi penumpang. Melinda membalas dengan senyum hangat. “Pagi. Siap diantar ke kantor?” “maaf ya sayang, kemarin tiba-tiba mesinnya bermasalah. Jadi, minta bantuan kamu dulu,” jawab Reiner santai. “Ga apa-apa sayang, kamu kan tunangan aku,” jawab Melinda. Walau sebenarnya ia mual mengatakan itu. “Kamu memang yang terbaik, sayang,” puji Reiner. Mereka melaju di jalanan yang masih agak lengang. Beberapa menit dalam diam, Melinda melirik Reiner sekilas, lalu berkata pelan, “Sayang…” Reiner menoleh. “Ya?” “Masa ya, kata temanku… dia lihat kamu sama perempuan lain kemarin masuk hotel.” Suaranya terdengar seperti pertanyaan polos, padahal ia sedang memancing reaksi. Reiner terkejut sesaat—matanya sempat membesar—tapi segera menetralkan ekspresinya. Ia tertawa kecil. “Temanmu salah lihat orang kali. Kan katanya di dunia ini orang yang mirip sama kita ada tujuh. Ya… mungkin salah satunya itu kembaran aku.” Melinda menahan diri agar ekspresinya tetap percaya. Ia tersenyum tipis. “Iya sih… aku juga nggak percaya tunanganku ini selingkuh.” Mendengar itu, Reiner tampak lega. Ia meraih tangan Melinda, menggenggamnya erat. “Iya lah, Mel… aku nggak mungkin selingkuh. Kita udah tunangan, kan.” Lalu ia membungkuk dan mencium punggung tangan Melinda lembut, seperti meyakinkan cintanya. Melinda tersenyum—palsu. Di dalam hatinya, ia ingin sekali mengelap bekas bibir Reiner di tangannya. “Menjijikkan,” batinnya. Tapi di wajahnya, senyum itu tetap terjaga, seolah ia percaya sepenuhnya pada kebohongan Reiner. Mobil terus melaju hingga gedung kantor Reiner terlihat di kejauhan. Melinda memperlambat laju mobil, seolah tak ingin perjalanan ini cepat berakhir. “Udah mau nyampe,” kata Reiner sambil melihat ke arah gedung tinggi itu. Melinda meliriknya sekilas lalu tersenyum lembut. “Iya… tapi sebelum kamu masuk kerja, aku mau kamu tahu sesuatu.” Reiner menoleh, penasaran. “Apa?” Melinda menghela nafas pelan, seperti seorang kekasih yang tulus. “Aku tuh… makin hari makin sayang sama kamu. Aku nggak tahu kalau nanti setelah nikah aku bisa hidup tanpa kamu atau nggak.” Kata-kata itu membuat Reiner terdiam sesaat. Senyum tipis terbit di bibirnya, tapi matanya menunjukkan kepuasan. Melinda bisa membaca sorot itu—ia tahu Reiner suka dipuja. Lalu, sebelum Reiner sempat menjawab, Melinda meraih saku kecil dan mengeluarkan kotak bekal. “Aku bikinin kamu sarapan. Biar kamu nggak perlu beli.” Reiner tersenyum lebar. “Wah… makasih, sayang.” Ia menerima kotak bekal itu dengan tatapan terharu pura-pura yang mudah sekali ditebak. Melinda membalas senyumnya. “Kalau kamu makan itu nanti, inget ya… tiap suapan itu berarti aku mikirin kamu.” Reiner tertawa kecil, lalu mengangguk. “Kamu memang tunangan terbaik.” Sementara itu, di dalam kepalanya, Melinda menyeringai puas. “Bagus. Makanlah. Terbiasa dilayani. Biar nanti saat aku tarik semua ini tiba-tiba, kamu merasa kehilangan sampai gila.” Mobil berhenti tepat di depan lobby kantor. Reiner turun sambil melambaikan tangan. Melinda membalas lambaian itu dengan senyum paling manis yang bisa dikeluarkan. Begitu pintu tertutup, senyum itu lenyap digantikan tatapan dingin. “Perangkap pertama sudah terpasang.” Begitu Reiner memasuki lobby, ia sempat melirik keluar, melihat Melinda yang masih menunggu sejenak di mobil. Ia tersenyum tipis. Perhatian Melinda hari ini terasa berbeda—lebih manis, lebih lembut, dan terus memanjakannya. Dan seperti racun yang dibungkus madu, Reiner mulai menikmatinya tanpa sadar. Sementara itu, Melinda di balik kemudi menyalakan mesin pelan. Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi matanya dingin. “Terbuailah, Reiner… sementara aku menggali semua bukti yang akan menenggelamkanmu.” Di lantai atas gedung kantor, Reiner baru saja duduk di kursinya, meletakkan kotak bekal buatan Melinda di sudut meja. Tangannya belum sempat meraih mouse komputer ketika suara langkah tergesa mendekat. Kepala Divisi, pria berjas abu-abu dengan rambut sedikit memutih, berhenti di depan mejanya. “Reiner,” suaranya tegas, “Bos memanggilmu ke ruangannya. Sekarang.” Reiner mengangkat alis, sedikit terkejut. “Ada apa, Pak?” Kepala Divisi hanya menggeleng tipis. “Saya nggak tahu detailnya. Tapi nadanya… serius.” Reiner berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah menuju ruangan besar di ujung koridor. Kotak bekal di mejanya tetap di sana, manis dan tak bersalah—seperti Melinda yang memberikannya. Ia tak tahu, setiap suap perhatian dari Melinda adalah benang halus yang akan membelitnya semakin erat. Reiner mengetuk pintu kayu besar yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara berat namun tenang, “Masuk.” Ia mendorong pintu, dan pandangannya langsung tertuju pada sosok pria di balik meja kerja besar. Duduk di kursi putarnya, mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan jas tergantung di sandaran kursi, pria itu tampak santai namun memiliki aura yang membuat siapa pun waspada. Itulah Zico, CEO perusahaan. Usianya tiga puluh sembilan tahun, tapi wajahnya masih segar dan terawat. “Mungkin karena hidupnya serba tercukupi,” pikir Reiner sekilas. Meski begitu, ada tatapan mata yang tajam—tatapan yang bisa menguliti lawan bicara sampai ke tulang. “Duduk,” ucap Zico datar, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. Reiner menelan ludah dan duduk di kursi berlapis kulit di hadapan bosnya. “Bos Zico… ada apa ya? Kenapa tiba-tiba memanggil saya? Apa saya ada kesalahan?” pikirnya, sedikit gugup. Namun pertanyaan yang keluar dari mulut Zico sama sekali di luar dugaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN