Nama Reiner terpampang di layar ponsel Melinda. Melinda tersenyum dan segera mengangkat panggilan itu. “Halo?” suaranya terdengar lebih lembut dari yang ia maksudkan. “Sayang,” suara Reiner di seberang terdengar hangat dan romantis. “Aku ada waktu siang ini. Gimana kalau kita makan siang bareng? Aku mau ketemu kamu. Aku kangen.” Ada jeda singkat sebelum Melinda menjawab. Rencananya pagi ini adalah membuntuti Reiner, mencari celah untuk menangkap bukti perselingkuhan. Tapi ajakan ini membuat pikirannya berubah arah. Kalau ia menolak, bisa jadi Reiner curiga. Kalau ia terima, setidaknya ia bisa mengamati gerak-geriknya lebih dekat. “Baiklah,” jawab Melinda akhirnya, datar tapi tetap terdengar manis. “Kamu tentukan tempatnya. Nanti aku datang.” Reiner terdengar puas. “Oke, aku kabarin

