Darah di Atas Salju
Angin musim dingin menusuk tulang, membawa serta serpihan salju yang menari-nari seperti hantu di kegelapan malam. Di balik jeruji besi yang dingin dan berkarat, Lin Yue merasakan embusan terakhir hidupnya memudar bersama setiap napas yang ia hembuskan. Darah kental mengering di pakaiannya, membentuk pola merah gelap di atas sutra putih yang kini lusuh. Aroma besi dan putus asa menyengat indra, sementara bayangan masa lalu berkelebat dalam benaknya, satu per satu, penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan.
“Lin Yue, permaisuri tercinta? Omong kosong!” Suara tawa kejam itu menggema, menembus dinding penjara bawah tanah, seolah mengejek penderitaannya. Itu adalah suara Han Zihao, Pangeran Kedua, suaminya sendiri. Pria yang pernah ia cintai sepenuh hati, pria yang ia dukung dengan segenap jiwa raganya untuk merebut takhta. Namun, kini Han Zihao berdiri di atas panggung kemenangannya, mengenakan mahkota kekaisaran yang berkilauan, sementara Lin Yue membusuk di sel ini, menanti kematian yang tak terhindarkan.
"Kau bodoh, Lin Yue. Kau pikir cintaku tulus?" Han Zihao berbisik, mendekat ke jeruji besi, matanya berkilat-kilat penuh kemenangan yang dingin. "Kau hanyalah alat. Alat untuk mendapatkan kekuasaan, dan sekarang... alat untuk disingkirkan."
Lin Yue berusaha mengangkat kepalanya, namun tubuhnya terlalu lemah. Kekuatan terakhirnya hanya cukup untuk menatap Han Zihao, mencari sisa-sisa kebaikan yang pernah ia kenal. Namun, yang ia temukan hanyalah jurang kegelapan. Senyum Han Zihao adalah senyum iblis, dan tatapannya adalah janji akan neraka.
"Keluargaku... bagaimana dengan keluargaku?" Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Ia teringat ayahnya yang gagah berani, ibunya yang lembut, dan adik-adiknya yang polos. Apa yang terjadi pada mereka setelah ia ditangkap?
Han Zihao tertawa lagi, kali ini lebih keras, memenuhi ruang penjara dengan gemanya yang menusuk hati. "Oh, keluarga Lin? Mereka sudah mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Ayahmu dituduh makar, ibumu bunuh diri karena malu, dan adik-adikmu... biarkan saja mereka merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa kehormatan."
Dunia Lin Yue runtuh. Bukan hanya dia yang hancur, tetapi seluruh keluarganya. Darah seolah kembali mengalir deras di nadinya, bukan karena kehidupan, melainkan karena amarah yang membara. Amarah yang begitu panas, mampu melelehkan salju dan membakar setiap kenangan manis yang pernah ia miliki tentang pria di depannya.
"Kau... iblis!" Lin Yue berteriak dengan sisa kekuatannya. "Aku bersumpah... jika ada kehidupan setelah ini... aku akan membuatmu membayar! Kalian semua akan membayar!"
Han Zihao hanya tersenyum mengejek, berbalik, dan meninggalkan Lin Yue dalam kegelapan dan kedinginan. Malam itu, di tengah badai salju yang dahsyat, Permaisuri Lin Yue, putri dari keluarga Jenderal Lin yang disegani, mengembuskan napas terakhirnya. Darahnya menyatu dengan salju yang terus turun, menjadi saksi bisu atas kejamnya pengkhianatan.
Namun, takdir punya rencana lain.
Ketika Lin Yue membuka mata, ia tidak lagi berada di sel penjara yang dingin. Ia tidak merasakan sakit akibat luka-luka yang menganga. Sebaliknya, ia terbaring di atas ranjang yang empuk, dengan selimut sutra membalut tubuhnya. Aroma dupa yang menenangkan mengisi indra penciumannya, dan cahaya matahari pagi yang lembut menembus jendela ukiran.
Ini bukan akhir. Ini adalah... awal?
Ia bangkit, merasakan tubuhnya ringan dan penuh energi. Tangan yang ia angkat tidak lagi kurus kering dan berlumuran darah, melainkan lentik dan halus, tanpa bekas luka. Ia berjalan menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Bayangan yang terpantul di sana membuatnya terkesiap.
Wajah itu... wajahnya sendiri! Namun, ini adalah Lin Yue yang berusia delapan belas tahun. Lin Yue muda, sebelum ia bertemu Han Zihao, sebelum ia jatuh cinta pada kepalsuan, sebelum ia menjadi permaisuri yang bodoh dan naif.
"Ini... bukan mimpi," bisiknya, tak percaya. "Aku... kembali?"
Ingatan tentang malam kematiannya masih segar, begitu jelas seolah baru terjadi kemarin. Darah di salju, tawa kejam Han Zihao, dan sumpah dendamnya yang membara. Semua itu bukan lagi masa lalu yang tak terjangkau, melainkan peringatan yang kuat.
"Aku kembali... ke masa sebelum semuanya hancur!" Mata Lin Yue berkilat tajam. Kebingungan berganti dengan tekad yang membaja. "Han Zihao, kau dan semua orang yang terlibat dalam kehancuranku... bersiaplah. Permainan ini baru saja dimulai."
Ia melangkah ke jendela, membuka tirai brokat. Di luar, istana megah membentang di bawah langit biru yang cerah. Belum ada tanda-tanda badai, belum ada darah di atas salju. Ayahnya masih hidup, ibunya masih tersenyum, dan adik-adiknya masih riang gembira. Ia punya kesempatan. Kesempatan untuk mengubah segalanya.
Namun, ia tahu, jalan ini tidak akan mudah. Kekuasaan adalah lautan darah, dan intrik istana adalah sarang ular. Lin Yue di kehidupan ini tidak boleh lagi menjadi wanita naif yang mudah dipermainkan. Ia harus menjadi serigala berbulu domba, pemain catur ulung yang mampu melihat sepuluh langkah ke depan.
"Jika mereka ingin bermain, aku akan bermain. Tapi kali ini, akulah yang akan menulis akhir ceritanya," gumamnya, jari-jarinya mengepal erat. "Mahkota berdarah itu, Han Zihao... akan kubuat kau muntah darah karenanya."
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Nona Muda, apakah Anda sudah bangun?" Suara itu adalah suara Xiao Mei, pelayan pribadinya yang setia.
Lin Yue tersentak. Xiao Mei... dia juga masih hidup. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Ia tidak sendirian. Ia punya sekutu, dan ia punya alasan kuat untuk bertarung.
"Ya, Xiao Mei. Aku sudah bangun," jawab Lin Yue, suaranya terdahulu masih mengandung gema kekejaman. "Siapkan air hangat. Aku ingin mandi. Hari ini... adalah hari baru."
Namun, di dalam hatinya, ia tahu. Ini bukan hanya hari baru. Ini adalah medan perang baru, di mana ia akan bangkit dari abu dan menuntut keadilan. Mahkota berdarah itu akan menjadi miliknya, atau setidaknya, akan menjadi saksi kehancuran para pengkhianat.
Sambil merendam tubuhnya di dalam air hangat yang ditaburi kelopak bunga mawar, Lin Yue memejamkan mata. Ingatan masa depannya bukan sekadar mimpi buruk; itu adalah peta jalan. Ia mengingat dengan jelas bahwa hari ini, di tahun kedelapan belas usianya, akan ada perjamuan musim semi di kediaman Perdana Menteri. Di sanalah, di balik pohon persik yang berbunga, Han Zihao pertama kali mendekatinya dengan kata-kata manis yang ternyata adalah racun.
"Nona Muda, hari ini Anda terlihat... berbeda," gumam Xiao Mei sambil menyisir rambut hitam legam Lin Yue yang basah. "Tatapan mata Anda terasa sangat dalam, seolah Anda telah melihat seluruh isi dunia."
Lin Yue tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku hanya menyadari satu hal, Xiao Mei. Di istana ini, kecantikan tanpa duri hanya akan membuatmu menjadi pajangan yang mudah dihancurkan. Mulai hari ini, aku akan menjadi duri itu."
Setelah selesai berpakaian, Lin Yue memilih hanfu berwarna merah darah yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Ia sengaja tidak memilih warna merah muda yang lembut seperti biasanya. Ia ingin semua orang melihatnya sebagai sosok yang berwibawa, bukan gadis naif yang bisa dirayu.
Saat ia melangkah keluar dari kediamannya, langkahnya terhenti di taman tengah. Di sana, seorang pria berdiri membelakanginya. Pria itu mengenakan jubah hitam dengan sulaman naga perak yang sangat detail. Aura di sekitarnya terasa dingin, sangat kontras dengan hangatnya matahari pagi.
Jantung Lin Yue berdegup kencang. Ia mengenali punggung itu. Itu bukan Han Zihao. Pria itu adalah Yan de Jun, sang Pangeran Yan yang dijuluki Dewa Perang. Dalam kehidupan sebelumnya, Lin Yue selalu menghindari pria ini karena rumor tentang kekejamannya di medan perang. Namun, ia juga ingat bahwa Yan de Jun adalah satu-satunya orang yang tidak pernah tunduk pada Han Zihao, bahkan hingga detik-detik terakhir kehancuran keluarga Lin.
Yan de Jun berbalik perlahan. Matanya yang tajam seperti elang menatap langsung ke dalam manik mata Lin Yue. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
"Nona Muda Lin," suara Yan de Jun berat dan berwibawa. "Anda tampak seperti seseorang yang baru saja kembali dari kematian."
Lin Yue tersentak. Apakah pria ini bisa membaca pikirannya? Ia segera menenangkan diri dan memberi hormat dengan anggun. "Pangeran Yan terlalu banyak bercanda. Saya hanya sedang menikmati udara segar."
"Udara segar?" Yan de Jun melangkah mendekat, aroma kayu cendana dan besi tercium darinya. "Lalu kenapa mata Anda penuh dengan api dendam? Siapa yang ingin Anda bakar, Nona Lin?"
Lin Yue mengepalkan tangannya di balik lengan baju panjangnya. Ia harus berhati-hati. Yan de Jun bukanlah pria sembarangan. Jika ia ingin membalas dendam, ia butuh sekutu yang kuat, dan pria di depannya adalah kandidat terbaik sekaligus yang paling berbahaya.
"Jika saya katakan bahwa saya ingin membakar seluruh kerajaan ini untuk membangunnya kembali dari abu, apakah Pangeran akan membantu saya, atau justru menjadi orang pertama yang memadamkan api itu?" tanya Lin Yue dengan berani.
Yan de Jun terdiam sejenak, lalu sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang kaku. "Menarik. Sangat menarik. Dunia mengenalmu sebagai putri Jenderal yang lemah lembut, tapi sepertinya mereka semua salah besar."
Ia mendekat ke telinga Lin Yue, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Berhati-hatilah dengan langkahmu di perjamuan nanti. Serigala tidak selalu melolong sebelum menerkam. Jika kau butuh pedang untuk memenggal kepala serigala itu, carilah aku."
Tanpa menunggu jawaban, Yan de Jun berlalu pergi, meninggalkan Lin Yue dalam keheningan yang mencekam. Lin Yue menarik napas dalam-dalam. Pertemuan ini tidak ada dalam ingatannya di kehidupan lalu. Sepertinya, keputusannya untuk berubah telah mulai menggeser roda takdir.
"Han Zihao, kau pikir kau adalah predator tunggal di istana ini?" bisik Lin Yue pada angin yang berembus. "Kau salah. Aku sudah menemukan pedangku, dan sebelum musim dingin berikutnya tiba, mahkota yang kau dambakan itu akan terbasuh oleh darahmu sendiri."
Lin Yue melangkah maju dengan penuh keyakinan. Kereta kuda sudah menunggunya di gerbang depan. Perjamuan di kediaman Perdana Menteri akan menjadi panggung pertamanya. Di sana, ia tidak hanya akan bertemu Han Zihao, tapi juga wanita yang akan menjadi selir kesayangan pria itu wanita yang ikut meracuni hidupnya dulu.
"Persiapkan dirimu,Adik Sepupu," gumam Lin Yue saat teringat wajah palsu Lin Mei. "Kesempatan kedua ini tidak akan kusia-siakan untuk belas kasihan."
Dengan setiap putaran roda kereta, Lin Yue merasakan amarahnya terkumpul menjadi strategi yang dingin. Ia bukan lagi permaisuri yang menangis di penjara bawah tanah. Ia adalah sang pembalas dendam yang lahir dari salju dan darah.
Kisah "Mahkota Berdarah" baru saja dimulai, dan kali ini, sang permaisuri tidak akan membiarkan dirinya dikhianati lagi.