Pagi harinya Zoya berdiri di depan cermin menatap tubuhnya yang semakin berisi. Meskipun begitu tidak mengurangi kecantikannya. Semakin berisi Zoya terlihat semakin cantik di mata orang lain. “Bunda nggak nyangka dua bulan lagi kamu lahir ke dunia, dek.” gumam Zoya sembari mengelus perut buncitnya “Banyak yang nungguin kamu lahir, nak.” “Saya juga nungguin loh.” tiba-tiba Zeo datang sembari memeluk Zoya dari belakang. Zeo menumpukan dagunya di bahu sang istri. Ia menatap pantulan istrinya dari depan cermin yang ada di hadapannya. Keduanya saling menatap sembari tersenyum manis. “Ingatan Ayah belum pulih sedangkan adik mau lahir dua bulan lagi.” ujar Zoya “Terus?” “Zoya mau sebelum buah hati kita lahir mas sudah ingat semuanya.” Cup Zeo mencium pipi kanan istrinya. “Doa’in

