Pagi harinya “Alhamdulillah. Akhirnya siap juga makanannya.” ujar Zoya sembari tersenyum manis “Panggil suamimu dulu, nak! Umi mau manggil Abah.” “Iya, Umi.” Ketika ingin melangkah ternyata Zeo berjalan menuju ke arah dapur. Keduanya saling melempar senyuman manis. Seketika kejadian tadi malam berputar di kepala mereka. Moment manis yang baru pertama kali mereka lakukan di saat Zeo masih mengalami amnesia. “Baru aja Zoya mau manggil, mas.” “Saya tahu.” Zoya terkekeh mendengarnya. Zeo duduk di sebuah kursi yang berada di samping istrinya. Tidak lama Umi Arini dan Abah Edwin datang. Mereka tersenyum melihat keberadaan putra dan menantunya. “Kamu sudah lapar, Ze?” tanya Umi Arini “Iya, Umi. Zeo lapar sekali pagi ini.” “Tumben?!” Zeo hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibun

