“Boleh saya bergerak?” Zoya mengangguk pelan. “Pelan-pelan, mas! Zoya takut menyakiti adik.” “Iya, sayang.” Gelapnya malam, heningnya suasana menjadi saksi bisu cinta Zoya dan Zeo. Keduanya menyatu dengan sempurna. Dinginnya suasana malam seolah tidak berpengaruh bagi tubuh keduanya. Keringat membasahi tubuh keduanya. *** Keesokan harinya. Suara Alarm membangunkan Zeo dari tidurnya. Ia bangun terlebih dulu daripada sang istri. “Enghh..” Zeo merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Hembusan nafas menerpa kulit lehernya membuat Zeo mengalihkan pandangan. Ia tersenyum menatap wajah cantik istrinya. Merasakan elusan di pipinya membuat Zoya bergerak tidak nyaman. Ia merasa terusik dalam tidurnya. “Emhh..” Zoya menyingkirkan tangan Zeo lalu berbalik badan memunggunginya. Zeo

