Bab 11

1121 Kata
“Baiklah. Bella pergi dulu! Assalamualaikum.” pamitnya “Waalaikumsalam.” Baru beberapa langkah tidak sengaja Bella menginjak gamisnya sendiri, hal itu membuat tubuhnya tidak seimbang. “Astagfirullah.” pekik Bella karena hampir jatuh Dan… Hap Tubuh Bella jatuh ke pelukan Zeo. Laki-laki itu dengan sigap menangkapnya ketika melihat Bella ingin terjatuh. Bella memejamkan matanya kuat karna takut rasa sakit menghantam tubuhnya. “Kenapa tubuhku tidak terasa sakit?” batin Bella berucap Perlahan Bella memberanikan diri membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Dan seketika tatapannya bertemu dengan mata indah milik Zeo. Bella terkejut karena ketika matanya terbuka wajah Zeo begitu dekat dengannya. Bahkan jika Zeo sedikit lagi menunduk hidung keduanya akan bersentuhan. Deg.. deg.. deg Jantung Bella berdetak dengan cepat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Zeo. “Ya Allah, begitu indah ciptaan-Mu. Bolehkah Engkau memberikan kesempatan pada Bella untuk memilikinya!?” batinnya berucap Tanpa Bella dan Zeo ketahui ada seseorang yang memfoto keduanya. Ia tersenyum smirk di saat terbesit sebuah rencana di kepalanya. Dengan foto itu Zeo dan Bella akan terkena masalah besar, apalagi Zeo baru menikah. “Kenapa mudah sekali menjatuhkan kamu, gus!?” “Tanpa aku mencari tiba-tiba keburukan kamu datang sendiri di depan mataku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” gumamnya Setelah berhasil mendapatkan foto itu secepat mungkin ia meninggalkan tempat tersebut sebelum ada yang melihat keberadaannya. Segera mungkin ia akan mencetak foto itu dan memasangnya di mading pesantren. “Astagfirullah.” Zeo langsung membantu Bella menegakkan tubuhnya setelah tersadar dengan apa yang ia lakukan. Zeo menjauh dari Bella. Nafasnya memburu karena takut dengan perbuatannya barusan. Niatnya hanya membantu, tidak lebih dari itu. Meskipun keduanya sempat dekat dan saling memiliki rasa Zeo masih tahu batasan. Apalagi ia bukan lagi laki-laki single. “Astagfirullah. Apa yang telah aku lakukan?” ucap Zeo dalam hati “Maaf, saya tidak sengaja melakukannya. Saya tadi hanya berniat menolong kamu agar tidak jatuh.” ujar Zeo “I-iya, Gus.” “Justru Bella yang seharusnya berterima kasih karena Gus Zeo telah menolong saya.” ucapnya sembari menunduk Di dalam lubuk hati Bella ia merasa sangat bahagia. Ia tidak pernah menyangka bisa menatap wajah Zeo dengan jarak yang cukup dekat. Selama berteman dengannya mereka selalu menghindar jika tidak sengaja tatapannya bertemu. “Saya masuk ke kelas!” Tanpa menunggu jawaban Bella, Zeo langsung masuk ke dalam kelas melanjutkan untuk mengajar. Ia benar-benar takut terjadi fitnah di antara keduanya. Zeo tidak ingin kembali membuat masalah, apalagi sampai kedua orang tuanya merasa malu karena perbuatannya. Puk Puk Bella menepuk pipinya berulang kali untuk memastikan jika dirinya barusan tidak sedang bermimpi. “Awhh,” ringisnya “Terasa sakit, yang berarti aku tidak sedang bermimpi.” gumamnya sembari tersenyum bahagia “Aarrgghh..” “Mimpi apa aku semalam bisa menatap wajah Gus Zeo sedekat itu? Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya.” pekiknya tertahan “Huhh.. sekarang aku bisa kembali dengan tenang dan penuh rasa bahagia.” Dan setelah itu Bella melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Kebahagiaan yang akan membawa masalah besar nantinya. Zeo dan Bella hanya menunggu waktu itu tiba. Pukul 13.00 Selepas melaksanakan Sholat dhuhur Zeo kembali mengajar. Waktu istirahat sudah selesai dan waktunya kembali menjalankan kewajiban dan tugasnya. Hati dan pikirannya lebih tenang setelah melaksanakan sholat. Kewajibannya pada Yang Maha Kuasa telah ia selesaikan, dan sekarang waktunya menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Ketika berjalan tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ia mengenal suara itu. “Mas Zeo!” panggilnya dengan nada dingin Zeo berbalik badan dan seketika tatapannya bertemu dengan mata indah milik Zoya. Ia terkejut melihat istrinya menangis. “Kamu…” PLAK Tanpa menunggu perkataan suaminya Zoya langsung menampar pipi Zeo dengan cukup kencang. Kedua tangannya terkepal kuat. Matanya memerah dan tetes demi tetes air mata membasahi kedua pipinya. Zeo mengelus pipinya yang terasa sakit dan perih. Ia merasa bingung dengan Zoya yang tiba-tiba menamparnya. “Apa yang telah kamu lakukan?” “Justru seharusnya Zoya yang bertanya seperti itu.” desisnya dengan tajam “APA YANG TELAH MAS PERBUAT, HA?” teriaknya Zeo memejamkan mata ketika Zoya membentaknya. Ia semakin tidak mengerti ada apa dengan istrinya. Zeo menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia menetralisir amarahnya agar tidak terpancing dengan kemarahan Zoya. “Saya tidak tahu apa maksud kamu. Kamu tiba-tiba datang dan menampar saya, bahkan…” Bugh Belum selesai Zeo berbicara Zoya melempar beberapa foto membuat laki-laki itu menghentikan ucapannya. “Lihat itu, mas!” “LIHAT AGAR KAMU TIDAK MENYALAHKANKU ATAS PERBUATANKU SAAT INI.” bentak Zoya Zeo berlutut lalu mengambil salah satu foto itu. Dan… Deg Tubuh Zeo mematung di tempat. Foto tersebut menunjukkan di mana ia dan Bella sedang berpelukan. Lebih tepatnya Zeo menangkap tubuh Bella ketika perempuan itu ingin terjatuh. Zeo berdiri lalu menatap wajah istrinya. “Saya…” “Apa? Apa yang ingin mas jelaskan, ha? Bukti sudah ada di depan mata. Mas Zeo tidak bisa mengelak lagi.” “Hikss..” isak tangis Zoya Zeo menggelengkan kepalanya. Zoya salah paham. Foto tersebut tidak seperti apa yang dipikirkan istrinya. “Saya bisa jelasin semuanya! Foto itu…” “Sekarang para santri berbondong-bondong melihat foto itu di mading pesantren. Mereka tidak menyangka dengan perbuatan kamu, mas.” lirh Zoya dengan suara bergetar Tanpa mengatakan apapun Zeo menarik tangan Zoya membawanya ke mading untuk melihat. Jantungnya berdetak cepat. Kenapa ini semua bisa terjadi? Kenapa seolah-olah ada seseorang yang dengan sengaja ingin memfitnahnya? Dan benar saja banyak santri berada di mading pesantren untuk melihat fotonya bersama Bella. Kedua tangan Zeo terkepal kuat lalu membentak para santri untuk menepi. “MINGGIR KALIAN SEMUA!” bentak Zeo Dan seketika para santri menepi untuk memberikan ruang pada Zeo untuk melihat mading. Kemarahan semakin terlihat jelas di wajahnya setelah melihat beberapa foto dirinya bersama Bella. “Siapa yang telah melakukan ini semua?” desisnya dengan tajam Krekk Krekk Naufal menarik foto tersebut dan merobeknya sampai hancur. Aib’nya telah tersebar. “Gus Zeo sudah menikah, bahkan baru terhitung beberapa minggu menikah tapi sudah berani selingkuh.” ujar salah satu santri “Iya. Di mana Guru yang selalu kami hormati justru perbuatannya lebih buruk dari laki-laki di luar sana.” “Bahkan Gus Zeo sampai sekarang belum bisa menjelaskan tentang kejadian di gudang bersama Ning Zoya. Dan sekarang Gus Zeo kembali membuat masalah.” “Kami malu mempunyai Guru seperti Gus Zeo.” Deg Kalimat terakhir yang Zeo dengar membuat dadanya terasa sesak. Hatinya seolah ditusuk oleh belati. Para santri selalu mengikuti perannya, bahkan ia selalu memberikan nasehat pada mereka semua namun perbuatannya justru lebih buruk dari yang mereka pikir. “NIKAHI BELLA!” teriak salah satu santri “IYA. NIKAHI BELLA JUGA!” Tubuh Zoya mematung di tempat mendengar teriakan para santri. Air matanya semakin deras mengalir. “Ya Allah, apa maksud mereka?” batinnya berucap Thank U All:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN