Tok.. tok.. tok
“Zeo, kamu sudah siap, nak?” tanya Umi Arini sembari mengetuk pintu kamar
Deg
Buru-buru Zeo menegakkan tubuhnya setelah mendengar suara Umi Arini. Zeo dan Zoya seketika tersadar dengan apa yang ingin mereka lakukan. Hari masih pagi namun keduanya ingin melakukan sesuatu yang seharusnya dinikmati waktu malam hari.
Tok.. tok.. tok
“Zeo!” panggil Umi Arini sekali lagi
“I-iya, Umi!”
Zoya dan Zeo sejenak saling menatap karena kejadian barusan. “Dirapihin dulu bajunya, mas!” ujar Zoya
Zeo merapikan bajunya dengan tergesa-gesa. “Ekhm,” dehemnya untuk menghilangkan rasa gugup.
“Sebentar, Umi!” ujar Zeo setelah merapihkan pakaiannya
Ceklek
Zeo membuka pintu dan terlihatlah Umi Arini yang sudah menunggunya. “Kenapa, Umi?”
“Kamu ngapain aja di dalam lama banget keluarnya?”
“Maaf, tadi Zeo lagi ada di kamar mandi, Umi.”
Umi Arini mengangguk mengerti tanpa rasa curiga sedikitpun. “Abah sudah menunggu kamu di bawah. Kamu sudah siap?”
“Alhamdulillah. Sudah, Umi.”
Dan setelahnya Zeo turun ke bawah menemui Abah Edwin. Mereka berangkat ke pesantren bersama-sama. Zeo memenuhi tanggung jawabnya untuk mengajar para santri, sedangkan Abah Edwin mengurus pekerjaan yang lainnya.
Zoya mengintip dari ambang pintu memastikan suami dan Ibu mertuanya sudah benar-benar pergi. Hampir saja ia dan Zeo melakukannya. “Huhh.. padahal tinggal sedikit saja.” gumamnya
Zoya tersenyum tipis membayangkan wajah suaminya. Ia tidak menyangka Allah menyatukan dirinya dengan laki-laki yang membuatnya jatuh hati di saat pandangan pertama. Padahal siapa dirinya? Ia hanya perempuan biasa yang memiliki banyak dosa di masa lalu.
“Ternyata Allah begitu baik padaku. Jika bukan karena Mas Zeo aku tidak akan mau belajar menjadi perempuan sekaligus istri yang lebih baik.”
“Apalagi memakai pakaian tertutup seperti ini.” gumam Zoya sembari menatap penampilannya sendiri.
“Sungguh pakaian ini membuatku merasa gerah.”
***
Pesantren Al-Falah
“Asalamualaikum.” salam Zeo sembari memasuki kelas
“Waalaikumsalam.”
Zeo tersenyum menatap para santrinya. Wajah Zeo terlihat berseri bahagia membuat para santri merasa heran, dan ada beberapa yang menahan senyum ketika menatapnya. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Zeo.
“Maaf, Gus!” ujar salah satu santri
“Iya, kenapa?”
“Saya merasa ada yang berbeda dengan Gus Zeo pagi hari ini.”
Zeo menautkan kedua alisnya bingung. Perkataan santri itu membuatnya bertanya-tanya. “Oh, ya? Apa yang berbeda dengan saya? Apa ada yang aneh dengan penampilan saya pagi ini?”
Zeo menatap penampilannya sendiri untuk memastikan apakah ada yang salah dengan pakaiannya. Ia merasa tidak ada yang aneh, dan rapi. “Bukan penampilan Gus Zeo yang aneh. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Wajah Gus Zeo terlihat berseri bahagia tidak seperti pagi-pagi sebelumnya.”
“Iya, Gus. Saya juga merasakannya, dan ternyata bukan hanya saya yang merasakan hal itu.” ujar santri yang lain
“Apa karena pagi ini ada yang menemani? Pasti karena keberadaan Ning Zoya.”
Uhuk.. uhuk..
Zeo tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan para santri. Ia tidak menyangka mereka akan berpikir seperti itu. Padahal ia merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya, apalagi terlihat berseri.
“Cieee..” sorak para santri
“Kan masih pengantin baru.” mereka justru menggoda Zeo membuat wajah laki-laki itu terlihat memerah.
“Ciee, Gus Zeo salah tingkah.”
“Enggak!”
“Cieee..”
“Sstt… udah, diam!” ujar Zeo meminta para santrinya untuk diam. Sorakan yang dilakukan mereka membuat wajahnya memerah.
“Ekhm,”
“Saya akan langsung memulai pelajaran kita pagi ini!”
Zeo memulai kelasnya agar para santri tidak terus menggodanya. Ia merasa tidak salah tingkah, namun karena tidak terbiasa dengan hal itu membuat wajahnya memerah.
“Bisa-bisanya mereka menggodaku sampai merasa malu.” batin Zeo berucap
“Astagfirullah. Sabar, Zeo!”
Di satu sisi, Bella berjalan menyusuri lorong pesantren. Langkahnya menuju ke sebuah ruangan yang di mana Zeo sedang mengajar. Ia sama sekali tidak merasa malu menghampiri Zeo ketika sedang mengajar. Bahkan ia sudah melewati batas pesantren yang seharusnya tidak dilewati oleh santriwati.
Bella tersenyum ketika sudah sampai di depan sebuah ruangan. Pintu ruang kelas tertutup rapat namun ia masih bisa mendengar suara Zeo yang sedang mengajar.
Tok.. tok.. tok
Bella mengetuk pintu ruang kelas tersebut tanpa rasa ragu. Ia terlihat percaya diri. “Pasti Gus Zeo terkejut dengan kedatanganku yang begitu tiba-tiba.” gumamnya
Ceklek
Zeo terkejut melihat keberadaan Bella. Bagaimana mungkin Bella berada di pesantren laki-laki? “Astagfirullah. Bella, kamu…”
“Assalamualaikum.” salam Bella sembari tersenyum manis
Belum selesai Zeo berbicara Bella lebih dulu memotongnya. “Bella, kamu ngapain ke sini? Dan kenapa bisa?”
“Dijawab dulu salam saya, gus!”
“Astagfirullah’haladzim. Waalaikumsalam.”
“Kamu ngapain di sini?” tanya Zeo masih dengan tatapan terkejut
“Em.. Bella mau mengembalikan buku yang sempat Bella pinjam.” ucapnya sembari memberikan buku tersebut.
Zeo menerima buku tersebut. Hal itu hanyalah alasan bagi Bella agar bisa bertemu dengan Zeo. Ia dengan sengaja melakukannya karena tidak bisa menahan diri bentuk dari rasa cemburunya pada Zoya. Selama ini tidak ada yang mengganggu pertemanannya dengan Zeo, namun dengan tiba-tiba Zoya datang dan membuat masalah di pesantren.
“Astagfirullah. Kamu bisa mengembalikannya ketika berada di kampus, Bell.” ujar Zeo
“Nggak papa, gus. Siapa tahu Gus Zeo sedang butuh buku itu.”
Zeo mengangguk mengerti. “Terima kasih.”
Zeo tidak ingin berlama-lama dengan Bella, apalagi pesantren terlihat cukup sepi. Para santri sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Ia tidak ingin terjadi fitnah untuk kedua kalinya.
“Ya sudah, kamu bisa kembali ke asrama!” ujar Zeo
“Tapi…”
“Saya masih ada kelas, Bell. Lagipula tidak pantas kita berduaan seperti ini.”
Dan setelah itu Zeo berbalik badan berniat kembali masuk ke dalam kelas. Namun baru akan melangkah tiba-tiba Bella menahan lengannya membuat Zeo terkejut. “Tunggu, gus!” sejenak keduanya saling diam karena sama-sama terkejut.
“Astagfirullah’haladzim.” Zeo menarik tangannya ketika tersadar dari apa yang ia lakukan.
“Em.. maaf, gus! Bella tidak sengaja melakukannya.”
“Bella, sebaiknya kamu segera meninggalkan tempat ini. Kamu sudah melanggar peraturan pesantren. Jika ada Guru lain yang mengetahuinya kamu bisa mendapat hukuman.”
“Bahkan aku rela menjalani hukuman itu asalkan bisa bertemu dengan Gus Zeo.” batin Bella berucap
Thank U All:)