Bab 09

1162 Kata
Zoya bicara secara gamblang. Tidak terbesit sedikitpun rasa malu ataupun ragu ketika berkata seperti itu. Ia justru tersenyum manis menunggu Zeo melakukannya. Zeo mendorong Zoya membuat tubuh perempuan itu mundur beberapa langkah. “Jangan ngaco kamu!” “Saya tidak akan melakukan hal itu. Bahkan saya tidak tergoda sedikitpun dengan tubuhmu.” ujar Zeo tanpa menatap ke arah Zoya Bukannya tersinggung Zoya justru tersenyum smirk. “Oh, ya? Kalau gitu Zoya akan buktikan kalau Mas Zeo tidak tergoda sedikitpun.” Deg Zeo beralih menatap ke arah Zoya. Apa maksud perempuan itu? Zoya melepas hijabnya lalu melemparnya ke sembarang arah, hal itu membuat Zeo terkejut. Setelahnya Zoya ingin melepas pakaiannya namun dengan cepat Zeo menahan pergerakan perempuan itu. “Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Zeo dengan wajah panik “Mau membuktikan kalau mas benar-benar tidak akan tergoda.” “Astagfirullah.” “Jangan sembarangan, Zoya!” desis Zeo dengan tajam Zoya tersenyum smirk. “Katanya nggak akan tergoda, tapi kok panik?!” Zeo menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sikap Zoya begitu bar-bar membuat Zeo tidak habis pikir. “Jangan macam-macam kamu, Zoya!” “Hanya satu macam, mas.” “Zoya hanya ingin membuktikan ucapan Mas Zeo barusan. Lagipula nggak ada salahnya kalau Zoya melepas baju di hadapan suami sendiri.” “Astagfirullah’haladzim.” Zeo tidak berhenti beristigfar karena sikap istrinya “Terserah apa mau’mu! Saya keluar!” Zeo melangkah pergi meninggalkan istrinya di dalam kamar. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Zoya memeluknya dari belakang. Tubuh Zeo mematung di tempat. Sikap Zoya semakin berani membuat Zeo sedikit kewalahan. “Jangan pergi, mas!” ujar Zoya dengan suara manja “Zoya, lepasin tangan kamu! Saya mau pergi.” “Nggak! Sebelum mas membuktikan ucapan itu Zoya tidak akan membiarkan Mas Zeo keluar dari kamar ini.” “Apa maksud kamu?” “Zoya butuh bukti, bukan hanya sebuah ucapan.” Justru Zoya dengan senang hati memperlihatkan keindahan yang belum pernah dilihat oleh siapapun. Ia hanya ingin menunjukkan pada suami tercinta, yaitu Zeo! Zoya yakin Zeo tidak mampu menahan diri setelah melihat seutuhnya. “Zoya, lepasin!” ujar Zeo sembari mencoba melepas tangan Zoya dari pinggangnya “Nggak mau!” “Jangan mencoba lari dari Zoya, mas. Seorang laki-laki bisa dikatakan gentle jika sudah membuktikan perkataannya. Jika hanya sebuah perkataan hanyalah omong kosong.” Zeo mengepalkan kedua tangannya erat. Perkataan Zoya seolah menantang dirinya. Karena merasa tertantang Zeo menyetujui perkataan Zoya tanpa berpikir panjang terlebih dulu. Ia menganggap remeh perkataan istrinya. “Baiklah. Akan saya buktikan.” ujar Zeo dengan tegas Zoya tersenyum mendengar jawaban suaminya. “Mas Zeo yakin?” “Saya yakin.” “Hm.. baiklah!” Perlahan Zoya melepas pelukannya lalu beralih berdiri tepat di hadapan Zeo, suaminya. Ia tersenyum manis. Bukan Zoya namanya jika tidak menyukai tantangan. Zoya dan Zeo saling menatap. Jemari lentik Zoya mulai membuka kancing pakaiannya di hadapan Zeo. Jantung Zeo berdebar kencang melihat Zoya tidak main-main dengan ucapannya. “Ternyata dia tidak main-main dengan ucapannya.” kata Zeo dalam hati “Mas Zeo sudah siap?” “—“ Zeo terdiam enggan untuk menjawab perkataan istrinya. Dan… Deg Tubuh Zeo terasa kaku di tempat. Zoya benar-benar melakukannya. Pakaian yang ia kenakan luruh ke bawah dan terlihatlah pemandangan indah yang belum pernah dilihat siapapun. Zeo adalah laki-laki pertama yang melihatnya. Tidak akan Zoya biarkan siapapun melihatnya kecuali kekasih halalnya. Zoya lebih mendekat ke arah Zeo lalu mengalungkan kedua tangannya dengan mesra di leher sang suami. Ia tersenyum smrik melihat respon suaminya. Zoya bisa merasakan tubuh Zeo mematung, bahkan terlihat kaku seperti patung. “Kenapa, mas? Bukannya tidak akan tergoda, hm!?” ujar Zoya dengan suara mendayu “Astagfirullah. Apa maksud ini semua? Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?” batin Zeo berucap “Zoya sudah siap kok.” “—“ “Bicaralah, mas! Beberapa menit yang lalu mas mengatakan tidak akan tegoda dengan Zoya, lalu kenapa sekarang diam saja?” “Tergoda, hm?!” Kedua tangan Zeo terkepal kuat. Ia ingin melepas tangan Zoya dari lehernya namun seolah ada seseorang yang menahannya. Jantungnya berdetak cepat karena gugup. Perasaannya campur aduk. “Mass!” panggil Zoya dengan suara lembutnya “—“ Zoya menarik leher belakang Zeo membuat wajah keduanya semakin dekat. Keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. “Zoya sudah siap melakukannya.” “A-apa maksud kamu?” tanya Zeo dengan gugup “Memberikan hak mas sebagai seorang suami. Zoya bahkan sudah siap menyerahkan diri Zoya sepenuhnya pada Mas Zeo.” Deg.. deg.. deg Jantung Zeo semakin berdetak kencang. Mau bagaimanapun ia adalah laki-laki normal. Ucapannya beberapa menit yang lalu telah kalah. Bahkan imannya mulai goyah melihat penampilan Zoya saat ini. Apalagi jarak keduanya begitu dekat membuat tubuhnya merasakan getaran aneh. Tatapan Zeo tertuju pada bibir istrinya karena Zoya terus berbicara. Ia menelan ludahnya kasar. Mereka adalah pasangan suami-istri, karena hal itu keduanya bebas melakukan apapun. Apalagi mereka saat ini berada di tempat tertutup. “Bibir itu…” ujar Zeo dalam hati “Astagfirullah’haladzim. Sadar, Zeo!” “Zoya, lepas! Saya…” “Zoya tahu apa yang mas pikirkan saat ini. Jika ingin menciumnya lakukanlah, mas! Lagipula Zoya sama sekali tidak keberatan.” Zeo bungkam. “Ya Allah, cobaan apa lagi ini?” “Astagfirullah. Tahan, Zeo! Kamu harus kuat.” “Zoya, saya bilang lepas!” Zeo mendorong Zoya menjauh, namun tiba-tiba… Cup Deg Zoya tiba-tiba menyatukan bibir keduanya membuat nafas Zeo tercekat. Tubuhnya terdiam seperti patung. Serangan tiba-tiba yang dilakukan Zoya membuat Zeo tidak bisa menghindar. “Bagaimana aku percaya dengan ucapan kamu, sedangkan kamu saat ini tidak menghindar, mas.” ujar Zoya dalam hati Tanpa sadar mata Zeo mulai terpejam. Ia melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. “Emhh..” Zoya mengeluarkan suara indahnya. Zeo memegang kedua pipi Zoya masih dengan posisi yang sama. Ia mengikuti kata di kepalanya untuk melakukan hal tersebut. “Enghh..” “M-mas…” Brugh Keduanya jatuh di atas kasur dengan posisi Zeo menindih tubuh Zoya. Zeo mulai hilang akal karena mengikuti apa yang ada di kepalanya. “Awss,” ringis Zoya “M-mas, jangan menggigitnya terlalu kencang!” ujar Zoya dengan nada suara tidak jelas “Emhh..” Bugh Bugh “Mas, lewpasinn!” Zoya memukul punggung Zeo berulang kali karena ia hampir kehabisan nafas. Lampu hijau yang diberikan Zoya membuat iman Zeo goyah. Zeo telah melanggar janjinya sendiri untuk tidak menyentuh Zoya. Bahkan saat ini ia terlihat begitu menikmatinya. “Huhh..” “Huhh..” Zoya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali karena kehabisan oksigen. Keduanya saling beradu tatap dengan nafas tidak beraturan. “I-ini yang mas bilang tidak akan tergoda?” ujar Zoya dengan nafas naik turun “Turunkan sedikit ego’nya karena kita adalah pasangan suami-istri, mas.” Zeo tidak fokus dengan perkataan Zoya karena d**a bidangnya bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kenyal, hal itu membuat pikiran Zeo semakin kacau. Untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang kenyal itu. “Aku tidak sanggup untuk menahannya.” “Aku telah kalah dengan ucapanku sendiri.” batin Zeo berucap Thank U All:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN