“Abah!” panggil Umi Arini
Semua mata tertuju ke sumber suara setelah mendengar suara Umi Arini. Zoya menautkan kedua alisnya bingung melihat keberadaan Bella. Namun justru berbeda dengan Zeo. Laki-laki itu menatapnya terkejut sekaligus bertanya-tanya.
“Bella!” panggil Zoya
Bella tersenyum tipis menatap ke arah Zoya. “Kalian sudah saling mengenal?” tanya Umi Arini
“Iya, Umi. Kebetulan Bella adalah teman pertama Zoya.”
Umi Arini tersenyum mendengarnya. “Pagi ini Bella ikut sarapan bersama dengan kita.”
“Nggak papa kan, Abah?” tanya Umi Arini
Abah Edwin mengangguk. “Nggak papa, Umi.”
Zoya tidak berhenti tersenyum menatap ke arah Bella. Ia tidak memiliki firasat atau pikiran buruk sedikitpun tentang Bella. Justru ia merasa senang ketika Bella ikut bergabung sarapan bersama keluarga suaminya. Zoya tidak memandang Bella buruk karena di matanya perempuan itu adalah seseorang yang baik.
“Bella, duduk di sini!” ujar Zoya sembari menepuk kursi yang ada di sampingnya
“Iya, nak. Silahkan duduk di sana!”
“Terima kasih, Abah, Umi.”
Bella duduk tepat di samping Zoya. Tanpa mereka sadari sesekali Bella melirik ke arah Zeo. Rasanya begitu bahagia bisa bergabung sarapan bersama dengan keluarga ndalem. Bella semakin yakin untuk merebut Zeo dari Zoya karena dari awal laki-laki itu adalah miliknya.
“Seharusnya aku yang duduk bersebelahan dengan Gus Zeo, bukan kamu Zoya.” ucap Bella dalam hati
“Ayo dimakan, nak!” ujar Abah Edwin
Mereka semua makan dalam kondisi tenang. Tidak ada yang bersuara karena Abah Edwin mengajarkan untuk tidak berbicara ketika sedang makan. “Uhuk.. uhuk..” tiba-tiba Zeo tersedak
“Minum dulu, gus!”
“Minum dulu, mas!”
Zoya dan Bella secara bersamaan mengambilkan air minum untuk Zeo, hal itu membuat Abah Edwin dan Umi Arini menatap ke arah mereka. Zeo menatap air minum itu dengan tatapan bingung. “Uhuk.. uhuk..”
“Minum dulu, gus!” ujar Bella
Bella menyodorkan air minum yang ia pegang pada Zeo agar laki-laki itu segera mengambilnya. Ia sama sekali tidak merasa segan dengan posisi Zoya yang saat ini duduk di sebelahnya.
Zeo menerima air itu dan langsung meminumnya sampai habis. Zoya terdiam sembari memperhatikan suaminya. Terbesit rasa kecewa karena Zeo lebih memilih mengambil air yang diberikan Bella daripada dirinya.
Abah Edwin dan Umi Arini saling menatap. Sikap Bella membuat mereka kurang nyaman, apalagi Zeo sudah menikah. Bella selangkah lebih maju daripada Zoya. “Ekhm,” dehem Abah Edwin
“Kalau makan jangan terburu-buru, Zeo!” tegur Abah Edwin
“M-maaf, Abah!”
“Hm.. kita lanjutkan makannya.”
Nafsu makan Zoya berkurang setelah kejadian barusan. Hal kecil, namun bisa membuat Zoya merasa sedih dan kecewa. “Bahkan Mas Zeo lebih memilih menerima air dari Bella daripada dari istrinya sendiri.”
“Apa salahnya sih menerima kehadiran Zoya?” ucapnya dalam hati
“Huhh..”
“Sabar, Zoya! Kamu harus fokus dengan tujuan utama. Hanya luka kecil, dan kamu tidak boleh menyerah atau mengeluh hanya karena kejadian barusan.”
Zoya menyemangati dirinya sendiri agar tidak mudah menyerah. Menaklukan hati seseorang bukanlah sesuatu hal yang mudah. Masih ada banyak waktu untuk mencairkan hati suaminya yang beku.
Beberapa menit kemudian.
“Umi!” panggil Zoya dan Bella bersamaan
Kedua perempuan itu saling menatap ketika tidak sengaja memanggil Umi Arini secara bersamaan. Umi Arini merasa heran dengan sikap Bella. Beliau merasa ada sesuatu, namun beliau tidak bisa menjelaskan.
“Ada apa, nak?” tanya Umi Arini
“Em.. boleh Bella membantu Umi membereskan piring-piring ini!?”
Bahkan Bella lebih dulu berbicara sebelum Zoya mengatakan sesuatu. Sikap Bella membuat Umi Arini dan Abah Edwin semakin tidak nyaman. Bella seolah tidak melihat keberadaan Zoya sebagai istri dan menantu di keluarga ndalem.
“Zoya juga ingin membantu, Umi.”
“Kalau gitu biar Zoya saja yang membantu, nak. Lebih baik kamu segera kembali ke pesantren!”
“Hari semakin siang dan ada beberapa hal yang harus kamu kerjakan di pesantren.” ujar Umi Arini
“Tapi…”
“Iya Bella, biar aku saja yang membantu Umi. Lagipula aku bisa kok.” ujar Zoya
Bella tersenyum canggung. Ia merasa kesal karena Umi Arini tidak mengizinkan dirinya untuk membantu. Ia yakin Umi Arini sengaja memintanya segera kembali ke pesantren. Untuk menghindari kecurigaan Bella memilih untuk mengalah.
“Em, yaudah.”
“Kalau gitu Bella pamit! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” dan setelah itu Bella pergi meninggalkan ndalem.
Zeo menatap kepergian Bella dengan tatapan sendu, hal itu disadari oleh Abah Edwin. “Ekhm,” dehemnya
Zeo langsung memalingkan wajahnya setelah mendengar suara Abah Edwin. Dua orang yang saling mengagumi dalam diam namun takdir tidak mengizinkan keduanya untuk bersama.
“Abah, Umi, Zeo mau siap-siap dulu!”
“Abah, Umi, Zoya mau menyusul Mas Zeo dulu! Zoya mau membantunya siap-siap sebelum berangkat ke pesantren.”
Abah Edwin dan Umi Arini mengangguk sembari tersenyum. “Iya, nak. Biar Umi yang membersihkan ini semua.”
“Terima kasih, Umi.”
Dengan langkah terburu-buru Zoya menyusul suaminya menuju kamar. Ia ingin membantu Zeo untuk bersiap-siap. Zoya terus berusaha meluluhkan hati suaminya, meskipun terasa begitu sulit.
Ceklek
Zoya membuka pintu kamar dan terlihatlah Zeo yang sedang memakai baju kokoh miliknya. “Zoya bantuin ya, mas!” ucapnya sembari mengambil alih apa yang dilakukan suaminya.
“Nggak…”
“Nggak usah terus menolak, mas! Apa salahnya seorang istri membantu suaminya!?”
Zeo terdiam. Ia menatap Zoya yang sedang mengancingkan baju kokoh miliknya. Tatapannya begitu lekat, bahkan sampai tidak berkedip. “Dah, selesai!”
Zoya menepuk d**a bidang suaminya dengan pelan menunjukkan ia telah selesai. “Masih ada yang kurang, mas?”
“—“
Tidak mendengar jawaban dari Zeo membuat Zoya mendongak. Dan…
Dugh
“Awss,” ringis Zoya sembari mengelus keningnya
Ketika mendongak keningnya tidak sengaja terbentur dagu Zeo. Tatapan keduanya bertemu. Zoya maupun Zeo enggan untuk mengalihkan pandangan. Keduanya saling menatap dalam hitungan detik.
Zoya tersenyum manis lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menggoda suaminya. “Zoya cantik banget ya sampai nggak berkedip menatapnya!”
Deg
Seketika Zeo tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Zoya. Ia terkejut melihat jarak wajah keduanya begitu dekat. Bahkan sejak kapan kedua tangan Zoya bertengger di lehernya?
“Lepasin!” ujar Zeo
“Nggak mau!”
“Ck, lepasin tangan kamu, Zoya!”
“Kenapa baru sekarang dilepasinnya? Beberapa detik yang lalu Mas Zeo asik menatap wajah Zoya, bahkan sampai tidak berkedip.”
“Jangan ngaco kamu!”
Bukannya melepaskan Zoya justru tersenyum menggoda. Ia menarik leher Zeo membuat laki-laki itu tertunduk. Jarak wajah keduanya semakin dekat. “Apa yang kamu lakukan, Zoya? Lepasin!”
“Zoya akan lepasin kalau…”
“Kalau apa?”
“Setelah Mas Naufal mencium bibir Zoya!” ucapnya sembari tersenyum manis
Deg
Thank U All:)